“Hari ini spesial. Tidak ada manusia juga, jadi kita keluar dengan tubuh seperti ini saja.”
Di sini seharusnya tidak ada yang melihat lalu membuat keributan. Aku menggandeng tangan Kado yang ramping dan menjejakkan kaki ke pantai berpasir. Hujan masih berderu keras di dekat telinga kami, dan tubuh kami langsung basah kuyup dalam sekejap. Setiap kali butiran hujan menghantam pasir di bawah kaki, pasir itu memercik dan terasa menggelitik.
“Ayo masuk ke laut, Shiroki-san.”
Kado, yang biasanya tidak begitu, kali ini bersikap manja.
“Cuma sampai tempat kakimu masih bisa menyentuh dasar. Berbahaya.”
Mungkin sebenarnya yang berbahaya bukan Kado, melainkan aku yang tidak bisa berenang. Bukan cuma perasaanku saja, aku memang merasa punya lebih banyak kekurangan dibanding dewa-dewa lain.
Kami masuk ke laut sampai setinggi pinggang.
“Laut lebih hangat daripada hujan, ya. Enak sekali.”
Kado berkata dengan suara gembira lalu menyendok air laut dengan satu tangan. Guntur bergema, dan kami berdua mendongak ke langit. Hujan yang begitu deras sampai sulit membuka mata terasa nyaman di wajah. Dari atas maupun dari bawah, tercium aroma kehidupan.
Saat melihat profil wajah Kado, tetesan air terus-menerus jatuh dari ujung rambut hitam dan bulu matanya, lalu mengalir di pipinya. Seolah dia sedang menangis. Semua orang bilang Kado mirip denganku, tapi aku sendiri tidak merasa begitu.
Kado memutar tubuh menghadapku. Kimono yang basah kuyup menempel di tubuhnya dan tampak membuatnya sulit bergerak. Lalu dia mendekatkan wajah ke telingaku dan berkata,
“Andai Naito juga mau ikut bersama kita.”
“Dia tidak mau datang meskipun diajak, jadi mau bagaimana lagi.”