Aku duduk di tepi danau pada pagi musim dingin yang cerah, terpikat memandangi Shiroki yang mengembuskan napas putih. Lalu sebelum dia menyadari tatapanku, aku kembali menghadap danau.
Para pencipta di surga memang memikirkan semuanya dengan baik.
Baik iblis maupun dewa, pada awalnya sama-sama merupakan keberadaan yang telah sempurna. Iblis dibiarkan begitu saja dalam keadaan sempurna, sedangkan dewa yang sudah sempurna justru sengaja dipecah menjadi tiga bagian—wujud utama, utusan, dan gerbang—dengan pembagian yang begitu tepat, sehingga masing-masing menjadi tidak sempurna.
Pemandangan ketiganya yang telah dipisahkan, saling mengulurkan tangan demi mencari bagian diri yang hilang, terasa sampai menyakitkan.
Berapa banyak pemikiran dan usaha yang mereka curahkan untuk itu?
Bahkan sejak proses penciptaannya, cara mereka dicintai sudah berbeda.
Para dewa yang memuji iblis sebagai makhluk sempurna itu keliru.
Justru kamilah yang dibuat tanpa banyak usaha.
Dalam hati aku berbicara kepada Shiroki.
Jangan takut.
Apalagi ketika menciptakanmu, entah sebanyak apa tenaga yang telah dicurahkan surga.
Masalah seperti tekstur rambut atau kimono yang mudah berantakan hanyalah hal sepele. Tidak, mungkin bahkan semua itu pun sudah diperhitungkan.
Dalam waktu dekat, aku harus memberitahunya betapa besar keajaiban dirinya sendiri.
Karena aku tidak tahu masih berapa lama lagi aku bisa bersamanya.
Supaya setelah aku tidak ada nanti, dia tidak lagi tersesat atau ragu.
“Ada burung.”
Mendengar suara Kado, aku dan Shiroki sama-sama tersentak lalu mengikuti arah pandangannya.
Di sana ada sekawanan burung air putih.