“Ayo pergi ke danau sebelum matahari terbenam.”
Ketika aku berdiri dan mulai berjalan, kawanan jiwa berwarna ungu itu bergantian mendekat ke sisiku. Setiap kali jiwa yang berbeda mendekat, wajahku pun diselimuti gradasi ungu yang tak satu pun memiliki warna yang sama.
Dari sini hingga danau pemurnian――terbentang lurus jalan bersalju baru tanpa satu pun jejak kaki.
Di jalan yang mulai diselimuti senja itu, jiwa-jiwa yang pekat sekaligus pucat, yang tidak bisa menjadi biru maupun merah, memenuhi jalan sambil mengembara.
Apa yang kupikirkan saat pertama kali melewati jalan ini?
Apa dosa mereka?
Ya, rasanya waktu itu aku terus bertanya seperti itu kepada diriku sendiri, berulang-ulang.
Setelah itu, pernah juga ada masa ketika aku menyalahkan Shiroki.
“Kaubisa bayangkan berapa kali jiwa-jiwa ini berdoa kepada dewa sebelum datang ke neraka cermin? Berapa kali mereka memanggilmu? Apa yang kau lakukan? Kalau punya waktu bermesraan dengan utusanmu sendiri, berusahalah lebih keras untuk mengabulkan doa mereka.”
Setiap kali melihat wajahnya yang tampak sejuk itu, aku merasa kesal.
Aku takut akan mengatakannya kalau sampai bertatapan, jadi waktu itu aku memperlakukannya dengan cukup dingin.
Kalau dipikir sekarang, itu benar-benar hanya pelampiasan kemarahan.
Meski begitu, Shiroki tetap terus menyukaiku. Mungkin memang karena dia seorang dewa.
Selain luar biasa tidak peka, dia sebenarnya orang yang sangat baik.
Sejak dulu, Kado sering memandangku dengan tatapan seolah bisa melihat menembus isi hatiku.
Dia pasti sudah lama merasa ada yang aneh.
Jumlah jiwa yang diserahkan ke neraka cermin sama sekali tidak sebanding dengan jumlah iblis di sini, aku bisa meninggalkan nerakaku sendiri tanpa terlihat khawatir sedikit pun, dan bahkan ketika mendengarkan ceritanya, pikiranku selalu melayang entah ke mana.
Saat berada di ruang milik Shiroki, Kado yang bertatapan denganku melalui cermin memantulkan isi hatiku.