――Aku sama sekali tidak terbiasa.
Aku hanya berdiri terpaku, tak mampu berbuat apa pun terhadap apa yang sedang kulakukan.
Saat itulah, di antara kawanan jiwa yang ragu-ragu untuk naik ke langit, menolak, dan menegang, aku melihat satu nyala api yang membara merah seolah melawan daya yang menariknya ke atas.
Itu jiwa yang menyentuh jariku dalam perjalanan menuju kemari.
Jiwa itu…… ingin memulai kembali.
Berbeda dari jiwa-jiwa ungu lainnya, ia ingin kembali menjadi merah, kembali menjadi pendosa biasa.
Jadi keinginan untuk hidup berwarna merah seindah itu.
Tadi aku sempat ragu, tetapi sekarang tidak mungkin salah lagi.
Ia memancarkan cahaya kuat, mati-matian membakar jiwanya agar aku menyadarinya.
Aku tidak mampu menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan.
Jiwa itu bergerak ke arahku sambil berkali-kali bertabrakan dengan jiwa-jiwa ungu yang menggeliat di sekelilingnya.
Aku akan menerima jiwa itu lalu menyerahkannya kepada Shiroki.
Lalu akan kukembalikan kepadanya sambil berkata seceria mungkin,
“Hei, jangan salah lagi. Jiwa ini bukan jiwa yang seharusnya datang ke neraka cermin.”
Dia pasti akan memasang wajah kebingungan dan mungkin kehilangan kepercayaan diri untuk sementara, tetapi seperti biasanya, dia akan tersenyum sambil berkata, “Maaf, ya,” lalu menjalankan tugasnya sebagai dewa.
Mungkin kali ini, sesuatu yang jarang terjadi, Shiroki sendiri akan melakukan Pemilahan ulang.
Bahkan kalau dipantulkan oleh cerminnya, jiwa yang sekarang ini pasti akan baik-baik saja.