Endo
“Maaf, ya. Hampir semuanya cuma membuat kalian mendengarkan keluh kesahku…… dan kau, ternyata baik sekali. Terima kasih.”
“Ah, maaf.”
Aku buru-buru melepaskan tangan Naito yang sejak tadi kugenggam.
Melihat itu, sudut bibir Kado dan Rukiru-kun yang mendengarkan dengan wajah penuh kesakitan sedikit mengendur.
Sepanjang dia bercerita, aku tidak bisa berhenti merasa kasihan kepada iblis ini.
Aku punya Adobando dan kawan-kawan lain, dan setiap kali mengembalikan jiwa yang telah dimurnikan ke dunia manusia, aku merasakan kegembiraan.
Hanya kehidupan seperti itulah yang kukenal.
Sejak Kado muncul, bahkan cahaya bernama kehangatan ikut menyala dalam keseharian seperti itu.
Aku hidup terlalu mewah.
Orang ini terlalu lama menanggung kesedihannya seorang diri.
Saat memikirkan itu, tanpa sadar aku menumpangkan tanganku di atas tangannya.
Naito tidak terlihat terkejut ataupun keberatan, tetapi mungkin dia hanya sudah terbiasa karena selama ini ada dewa sebebas Shiroki-san di dekatnya. Apa sebenarnya dia merasa terganggu?