Aku sudah lama memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan Naito.
Dan akhirnya, aku mengucapkan jawaban yang sudah kubulatkan tekad untuk kupilih. Sebenarnya aku ingin menunggu sampai sedikit lebih tenang, tetapi mungkin justru lebih mudah melaksanakannya pada hari seperti ini, ketika perasaanku sedang begitu memuncak.
“Selain itu, kalau aku pergi ke surga, aku akan meminta agar mereka membuat dewa cermin baru dari sebagian diriku. Aku mencoba memikirkannya dengan cara terbalik. Bukan aku yang memiliki utusan dan gerbang baru, melainkan Kado dan kau yang akan memiliki dewa baru. Hei, aku tidak mengatakan ini karena sedang merajuk. Aku sudah memikirkannya sungguh-sungguh, cara agar Kado dan kau bisa bahagia. Pencipta tidak akan mengabulkan permintaan kalau imbalannya bukan sesuatu sebesar diriku.”
Naito masuk ke dalam danau tanpa menimbulkan suara, seolah berhati-hati agar tidak membuatku semakin terpicu.
“Shiroki, sungguh, cukup sudah. Apa-apaan ini? Kau tiba-tiba masuk ke neraka cermin, lalu bilang tidak bisa lagi bertemu Kado karena dia mengetahui perasaanmu, lalu bicara soal pergi ke surga, membuat dewa baru…… aku sama sekali tidak bisa mengikuti jalan pikiranmu. Hei, jangan berdiri di tempat sedingin itu. Kemarilah.”
Lengan yang diulurkan Naito jauh lebih kokoh daripada lenganku.
Curang…… pikiran itu melintas di kepalaku. Aku harus mengeluh kepada Pencipta tentang ini.
Aku membelakangi Naito lalu perlahan berjalan menuju tengah danau.
――Malam ini, aku akan langsung pergi ke surga.
Kalau aku menyentuh atau melihat mereka, tekadku akan goyah. Jadi aku tidak boleh melakukannya.