Dewa Spesies Ninja Astral Versi 404

Stalingrad
Chapter #1

Chapter 1

Malam itu sawah tidak punya rencana apa-apa.


Kabut turun pelan seperti orang yang tidak enak hati mau ganggu tidur orang lain. Gerimis jatuh satu-satu, tidak lebat, tapi cukup untuk bikin baju tembus dan semangat runtuh. Di kejauhan, sungai mengalir deras dengan suara yang terlalu dramatis untuk situasi ini seolah alam sudah tahu malam ini akan ada sesuatu, dan memutuskan untuk kasih backsound gratis.


Dan di tengah itu semua berdiri satu orang.


Yanto.


Tidak ada yang tahu nama lengkapnya. Beberapa orang pernah mencoba bertanya. Tidak ada yang pernah berhasil mendapat jawaban yang sempurna. Entah karena Yanto tidak mau bilang, atau karena semesta selalu menemukan cara untuk menginterupsi.


Malam ini, dia dikepung.


Bukan dikepung satu dua orang. Dikepung dengan penuh dedikasi dari kiri, kanan, depan, belakang, bahkan ada satu orang yang entah kenapa naik ke atas galengan sawah seolah ketinggian setengah meter itu memberi keunggulan taktis berarti. Semuanya membawa senjata. Semuanya memasang muka yang sudah dilatih untuk tampak menakutkan.


Yanto berdiri di tengah.


Tangannya kosong. Mukanya datar. Matanya menyapu sekeliling dengan tatapan yang membuat beberapa orang di barisan belakang tiba-tiba mendadak ingat punya hutang yang harus dibayar besok pagi.


Hening.


Hanya suara sungai. Suara gerimis. Dan suara satu kodok di pojok sawah yang sedang menikmati malamnya sendiri, tidak tahu dan tidak peduli bahwa dua puluh meter dari tempatnya duduk, sejarah sedang mau dibuat.


Kemudian dari kerumunan itu melangkah satu sosok.


Tubuhnya gempal. Bahunya lebar. Tangannya memegang celurit dengan cara yang menunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya dia memegang celurit. Tapi wajahnya wajahnya adalah wajah yang kalau kamu lihat di pasar, kamu langsung bayangin dia lagi nuangin es ke dalam plastik sambil tanya "mau gulanya banyak?"


Wajah tukang es cendol.


Tapi malam ini dia bukan jual cendol.


Dia berhenti dua langkah di depan Yanto. Mata mereka bertemu. Gerimis turun di antara mereka berdua seperti efek dramatis yang tidak ada yang pesan tapi semua orang terima dengan lapang dada.

Lihat selengkapnya