Dewa Spesies Ninja Astral Versi 404

Stalingrad
Chapter #2

Chapter 2

Tidak ada yang tahu dari mana arah datangnya.


Angin malam itu bertiup dari timur. Gerimis masih turun dengan konsistensi yang patut diapresiasi tidak bertambah, tidak berkurang, seperti pegawai yang sudah menemukan kecepatan kerja paling minimal yang masih bisa disebut bekerja. Kabut bergeser pelan di atas hamparan padi yang tidak punya kepentingan apapun terhadap situasi di tengahnya.


Dan di antara semua itu.


Tercium bau kaldu.


Bukan kaldu sembarangan. Bukan kaldu instan yang dilarutkan dengan air hangat dan harapan palsu. Ini kaldu yang dimasak lama. Yang tulangnya direbus sampai menyerah dan mengeluarkan semua yang mereka punya. Kaldu yang, kalau kamu tutup mata dan hanya mengandalkan hidung, bisa membuat kamu lupa sebentar bahwa kamu sedang dikepung dua puluh orang bersenjata di tengah sawah pada malam berkabut.


Yanto berkedip.


Pria cendol berkedip.


Dua puluh orang yang tadinya fokus pada posisi mengepung masing-masing, tanpa komando, tanpa koordinasi, tanpa rasa malu semua menoleh ke arah yang sama.


Dari ujung jalan setapak yang membelah sawah, sebuah gerobak bergerak pelan.


Rodanya berderit dengan irama yang tidak dramatis sama sekali. Lampunya satu bohlam kecil yang digantung di besi bengkok berayun kena angin, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di atas aspal basah. Di balik gerobak itu berdiri seorang pria dengan tubuh sedang, wajah yang terlalu tenang untuk jam segini, dan topi caping yang dipakai dengan sudut yang terlalu presisi untuk orang yang hanya lewat secara kebetulan.


Di bahunya tergantung handuk kecil bermotif kotak.


Di balik termos kuahnya, sesuatu berkedip dengan cahaya merah kecil yang berdenyut pelan.


Pria itu berhenti tepat di tepi jalan. Jaraknya dari pusat kepungan mungkin dua puluh meter. Tidak lebih, tidak kurang jarak yang kalau kamu pikirkan terlalu lama, terasa seperti jarak yang sudah diukur sebelumnya.


Dia menaruh gerobak.


Membuka tutup panci.


Dan berteriak dengan suara yang datar sempurna.


"Baksooo... bakso..."


Hening.


Hanya angin. Hanya gerimis. Hanya suara panci yang terbuka dan mengeluarkan kepulan uap yang naik ke udara malam seperti sinyal morse yang tidak ada yang minta tapi semua orang terima dengan perut masing-masing.


Pria cendol, yang dua menit lalu sedang berada di puncak momen paling intens hidupnya, menoleh ke pria di sebelahnya.


"Itu intel," bisiknya.


Pria di sebelahnya mengendus udara.


"Mungkin."


"Lihat HPnya..."


"HT."

Lihat selengkapnya