Mangkok kedua Yanto sudah setengah kosong ketika sesuatu berubah di udara.
Bukan perubahan yang bisa diukur. Bukan perubahan yang bisa ditunjuk dan diberi nama ilmiah. Ini perubahan yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang sudah cukup lama hidup di situasi berbahaya sampai tubuh mereka mengembangkan insting tambahan semacam cuaca dalam diri yang berubah tekanannya sebelum badai datang.
Yanto meletakkan sendoknya.
Pelan. Tanpa suara. Tanpa drama.
Di sekitarnya, dua puluh orang yang tadinya sedang dalam proses memesan atau mempertimbangkan untuk memesan bakso juga merasakan hal yang sama sesuatu yang membuat mereka tanpa komando masing-masing berdiri lebih tegak, menarik bahu, dan berusaha terlihat seperti orang yang tidak sedang lapar beberapa menit yang lalu.
Kang Bakso tidak bergerak. Tapi jari-jarinya berhenti mengaduk kuah.
Dari arah jalan besar jalan yang membelah persawahan dan menghubungkan desa ini dengan dunia yang lebih luas dan sama-sama tidak jelas arahnya terdengar suara mesin.
Bukan suara motor biasa. Bukan suara mobil biasa. Ini suara kendaraan yang dibiarkan dalam kondisi yang cukup baik untuk menunjukkan bahwa pemiliknya punya uang, tapi cukup kotor untuk menunjukkan bahwa pemiliknya tidak peduli dengan pendapat orang tentang uangnya.
Lampu sorot muncul di tikungan.
Lalu berhenti.
Mesin mati.
Pintu terbuka.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Yang keluar pertama adalah sepatu.
Bukan karena orangnya keluar dengan cara yang aneh. Tapi karena cahaya dari gerobak bakso Kang Bakso menyorot ke bawah, dan yang tertangkap pertama adalah sepatu kulit hitam yang, di tengah sawah berkabut dengan tanah basah dan lumpur tipis di tepi jalan, adalah pilihan alas kaki yang mengkomunikasikan satu dari dua hal: orang ini tidak berencana berjalan jauh malam ini, atau orang ini tidak peduli dengan konsekuensi apapun dari keputusannya.
Kemudian tubuhnya muncul sepenuhnya.
Gempal. Bukan gempal yang tidak sehat gempal yang merupakan hasil dari bertahun-tahun makan dengan porsi yang tidak pernah dipertanyakan oleh siapapun di mejanya. Kemeja batik lengan pendek dipakai dengan dua kancing atas dibuka, pilihan yang di ruang rapat mungkin disebut kasual profesional tapi di tepi sawah malam ini terasa seperti pernyataan. Rambutnya disisir ke samping dengan minyak yang, bahkan dari jarak ini, aromanya sampai wangi yang percaya diri, wangi yang tidak minta izin untuk hadir.
Di tangannya, tergantung santai di sisi tubuhnya.
Celurit.
Bukan celurit kecil. Bukan celurit yang dibawa untuk jaga-jaga. Ini celurit yang punya sejarah bilahnya mengkilap dengan kilap yang bukan dari baru diasah, tapi dari sering dipakai dan selalu dirawat. Gagangnya kayu tua yang sudah menghitam karena tangan. Dan di sepanjang bilahnya, terukir sesuatu yang baru bisa terbaca kalau kamu cukup dekat dan cukup nekat untuk mencoba membacanya.
Di pangkal gagang, menempel sesuatu yang tidak ada pada celurit manapun yang pernah ada sebelumnya dalam sejarah perceluritan nasional maupun internasional.
Sebuah lampu kecil.
Biru. Berkedip pelan.
Seperti sedang mencari koneksi.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Pria itu berjalan ke arah kerumunan dengan langkah yang tidak terburu-buru. Bukan langkah orang yang tidak sadar ada dua puluh orang di depannya. Tapi langkah orang yang sadar sepenuhnya, menilai sepenuhnya, dan memutuskan bahwa situasi ini tidak membutuhkan kecepatan ekstra dari kakinya.
Pria cendol menyambut dengan anggukan yang mengandung campuran lega dan sesuatu yang mendekati rasa sungkan ekspresi bawahan yang senang atasannya datang tapi juga sedikit berharap atasannya tidak datang karena itu berarti situasinya sudah cukup buruk untuk membutuhkan atasan.
"Kang," kata pria cendol.
Pria gempal itu tidak menjawab langsung. Matanya menyapu kerumunan. Menyapu gerobak bakso. Menyapu Kang Bakso yang berdiri di baliknya dengan ekspresi yang tidak mengungkapkan apapun. Lalu berhenti di Yanto.
Yang sedang memegang mangkok bakso.
Dengan kerupuk yang belum habis.
Mata mereka bertemu.
Beberapa detik berlalu dengan kualitas yang berbeda dari detik-detik biasa.
Kemudian pria gempal itu menoleh ke pria cendol.
"Kenapa dia pegang mangkok?"
"Dia minta makan dulu, Kang."
"Dan kau kasih?"
Pria cendol membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi.