Jam sebelas malam di desa ini bukan jam yang sama dengan jam sebelas malam di tempat lain.
Di kota, jam sebelas malam adalah jam di mana orang masih di jalanan, masih di kafe, masih di manapun yang bisa dibenarkan dengan alasan produktivitas atau sosialisasi. Di desa ini, jam sebelas malam adalah jam di mana semua orang yang masih di luar rumah sudah punya alasan masing-masing dan sebagian besar dari alasan itu tidak akan terdengar masuk akal kalau disampaikan ke orang yang belum pernah tinggal di desa.
Kecuali satu alasan.
Ronda.
Pos ronda RT 06 berdiri di pertigaan jalan sekitar tiga ratus meter dari tepi sawah Pak Maman Blok C. Bangunannya sederhana atap seng, tiang kayu, dua bangku panjang, dan satu meja yang permukaannya sudah mencatat sejarah panjang dalam bentuk bekas gelas, bekas tulisan yang tidak dilanjutkan, dan satu ukiran nama yang sepertinya dibuat oleh orang yang sangat bosan sekitar tahun 2014.
Di meja itu, sebuah senter diletakkan menghadap ke atas, menerangi atap seng dengan cahaya yang melebar dan memudar di tepinya. Di sebelah senter: termos, tiga gelas plastik, satu bungkus kerupuk yang sudah hampir habis, dan sebuah HT tua model lama yang antenanya sudah sedikit bengkok tapi masih berfungsi.
Dan di bangku panjang, duduk tiga orang.
Pak Bambang. Enam puluh dua tahun. Pensiunan. Alasan resminya ronda adalah kewajiban warga. Alasan sebenarnya adalah dia tidak bisa tidur sebelum jam satu pagi sejak anaknya menikah tiga tahun lalu dan rumah tiba-tiba terasa terlalu sepi untuk diisi sendiri. Dia tidak pernah bilang ini ke siapapun. Semua orang di RT sudah tahu.
Pak Udi. Lima puluh delapan tahun. Masih aktif kerja, jaga toko kelontong, tapi tokonya tutup jam delapan dan setelahnya tidak ada kegiatan yang cukup menarik untuk mengalahkan ronda. Pemegang rekor tidak pernah absen ronda dalam dua belas tahun terakhir. Prestasinya ini tidak pernah secara resmi diakui oleh siapapun, tapi dia juga tidak pernah secara resmi meminta pengakuan.
Pak Darto. Usianya tidak jelas karena dia sendiri sudah tidak terlalu yakin. Katanya tujuh puluh, istrinya bilang enam puluh tujuh, KTP-nya bilang sesuatu yang berbeda lagi. Yang jelas: dia sudah ronda di pos ini sejak pos ini dibangun, dan mungkin juga sebelum pos ini dibangun di lokasi yang kurang lebih sama.
Mereka bertiga duduk dalam keheningan yang nyaman jenis keheningan yang hanya bisa terbentuk di antara orang-orang yang sudah cukup sering diam bersama sampai diam itu sendiri menjadi percakapan.
Pak Bambang menatap ke arah sawah.
Pak Udi mengaduk tehnya yang sudah dingin.
Pak Darto tidak melakukan apapun dengan cara yang sangat penuh pengalaman.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
"Sudah lama itu," kata Pak Bambang akhirnya.
Tidak perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan itu. Mereka bertiga sudah memantau situasi di tepi sawah dari sini sejak sebelum gerobak bakso datang. Senter mereka tidak cukup kuat untuk menerangi sejauh itu. Tapi mata tua yang sudah terbiasa dengan gelap desa punya jangkauan yang berbeda dari mata yang terbiasa dengan lampu jalan.
"Dari tadi," koreksi Pak Udi.
"Kang Sawit sudah datang?" tanya Pak Darto, tanpa mengubah posisi duduknya.
"Dari tadi," jawab Pak Bambang.
Pak Darto mengangguk dengan gerakan kepala yang sangat kecil. "Celuritnya bunyi?"
"Tadi koplo."
"Yang mana?"
"Goyang sayang."
Pak Darto mengangguk lagi. "Biasanya itu kalau dia agak gugup."
Pak Bambang dan Pak Udi menoleh ke Pak Darto dengan kecepatan yang sinkron.
"Gugup?" kata Pak Udi.
"Kalau tenang, biasanya lagu Campursari." Pak Darto mengambil gelas tehnya. "Sudah lama saya perhatikan."
Hening sebentar.
"Pak Darto kenal Kang Sawit?" tanya Pak Bambang.
"Kenal tidak. Tahu iya."
"Bedanya?"
Pak Darto minum tehnya dulu. Pelan. Dengan cara orang yang tidak pernah terburu-buru untuk menjelaskan apapun karena pengalaman mengajarkan bahwa penjelasan yang terburu-buru jarang menghasilkan sesuatu yang berguna.
"Kenal itu kamu duduk semeja, saling tahu nama, pernah berantem dan baikan." Dia menaruh gelas. "Tahu itu kamu cukup lama di dunia ini sampai nama-nama tertentu mulai muncul berulang. Kamu tidak perlu ketemu. Cukup dengar. Cukup lihat dari jauh. Lama-lama kamu tahu pola orangnya."