Listrik mati jam sebelas empat puluh tujuh menit.
Bukan jam dua belas. Bukan jam tiga pagi jam-jam yang sudah punya reputasi untuk hal-hal seperti ini. Jam sebelas empat puluh tujuh adalah jam yang tidak dramatis, tidak simbolis, dan tidak ada dalam tradisi manapun sebagai jam yang perlu diwaspadai. Itu yang membuatnya mengganggu. Kalau mau mati, matilah di jam yang sudah tersedia untuk itu. Jangan mati di jam tanggung yang tidak memberi siapapun waktu untuk bersiap.
Satu kampung.
Gelap.
Serentak.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Di pos ronda, senter Pak Bambang jadi satu-satunya cahaya yang masih ada di radius yang bisa dilihat. Pak Udi langsung meraih HT. Pak Darto tidak bergerak sama sekali, seperti pemadaman ini bukan hal yang mengubah rencananya malam ini karena memang tidak ada rencananya yang perlu diubah.
"Pos dua, ini pos satu. Listrik mati. Situasi? Over."
Berisik. Lalu—
"Pos dua terima. Mati semua dari arah sini. PLN atau bukan belum tahu. Over."
"Ada apa-apa sebelum mati? Over."
Jeda.
"Tidak ada, Pak. Normal saja. Terus mati. Over."
"Roger. Tetap posisi. Over."
Pak Udi menaruh HT.
Menatap ke arah sawah yang sekarang lebih gelap dari sebelumnya kalau sebelumnya gelap dengan kualitas malam biasa, sekarang gelap dengan kualitas yang berbeda. Lebih padat. Lebih dalam. Seperti gelap yang tahu dirinya sedang diperhatikan dan memutuskan untuk tidak berpura-pura.
"Aneh," kata Pak Bambang.
"Sering," kata Pak Darto.
"Sering mati seperti ini?"
"Sering mati tepat waktu yang tidak tepat." Pak Darto mengambil termos. Menuang kopi ke gelasnya dengan gerakan yang tidak membutuhkan cahaya karena sudah dilakukan terlalu banyak kali untuk membutuhkan panduan visual. "Sudah lama begini. Sebelum tiang listriknya ada pun, lampunya juga sering mati."
Pak Bambang dan Pak Udi menatap Pak Darto.
Pak Darto minum kopinya.
Tidak melanjutkan.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Di tepi sawah, pemadaman itu membuat situasi yang sudah tidak sederhana menjadi lebih tidak sederhana dengan cara yang tidak ada yang pesan.
Kang Sawit mengeluarkan HP dari saku. Senter HP menyala cahaya putih tajam yang menyorot ke bawah dan menciptakan bayangan ke atas yang membuat wajahnya, yang sudah tidak bisa disebut ramah dalam cahaya normal, kini menjadi sesuatu yang berbeda kualitasnya.
Di bilah celuritnya, lampu biru kecil itu masih berkedip.
Masih terhubung.
🎵 "Sewu kutho uwes tak liwati..." 🎵
Track berganti ke campursari.
"Nah," gumam Pak Darto, tiga ratus meter dari sana, tanpa bisa mendengar apapun. "Sudah tenang sedikit."
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Yanto tidak mengeluarkan HP.
Matanya menyesuaikan dengan cepat bukan kemampuan supernatural, hanya kemampuan orang yang sudah cukup sering berada di tempat yang tidak ada lampunya sampai mata punya pilihan selain beradaptasi.
Di sekelilingnya, dua puluh orang yang tadinya sudah mulai menemukan keseimbangan antara mengancam dan lapar sekarang sedang dalam proses menemukan keseimbangan baru antara mengancam dan tidak bisa lihat apa-apa.
Seseorang di barisan belakang menyalakan senter HP.
Lalu orang di sebelahnya.
Lalu yang lain.
Dalam tiga puluh detik, tepi sawah itu diterangi oleh dua belas senter HP dengan berbagai tingkat kecerahan dan berbagai arah yang tidak terkoordinasi, menciptakan efek pencahayaan yang kalau difoto akan terlihat seperti konser musik underground dengan anggaran yang sangat terbatas.
Kang Bakso tidak menyalakan apapun.
Gerobaknya punya lampu sendiri bohlam kecil yang ternyata baterai, bukan listrik PLN. Cahayanya hangat dan konstan dan sama sekali tidak terpengaruh oleh pemadaman, seperti Kang Bakso sudah mengantisipasi kemungkinan ini atau memang selalu beroperasi di kondisi yang tidak bergantung pada infrastruktur yang bisa dipadamkan.
Di balik termos, HT-nya berbunyi pelan.
Dia tidak menjawab.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
"Sering mati lampu di sini?" tanya seseorang di barisan belakang. Ke siapa tidak jelas mungkin ke orang di sebelahnya, mungkin ke udara.
"Kadang-kadang," jawab seseorang yang lain.
"Tadi normal?"
"Tadi normal."
"Terus kenapa mati?"
Tidak ada yang menjawab ini.
Karena pertanyaannya sendiri sebenarnya tidak membutuhkan jawaban membutuhkan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih dekat ke pengakuan bersama bahwa ada hal-hal yang terjadi di sini yang lebih baik tidak ditanya terlalu dalam.
Pria cendol menatap ke arah balai desa yang bisa dilihat samar-samar dari sini atapnya, bagian atasnya, gelap sekarang seperti semua bangunan lain.
"Kursinya bunyi lagi tidak?" tanyanya ke pria di sebelahnya, dengan nada yang terlalu santai untuk pertanyaan itu.