Amplop itu ada di depan pintu pada jam yang tidak ada yang melihatnya diletakkan.
Bukan karena tidak ada yang jaga. Tapi karena di antara pemadaman listrik, foto grup RT yang tidak ada yang berani reply, dan situasi di tepi sawah yang masih belum selesai dengan cara yang bisa dilaporkan ke siapapun dengan kalimat yang masuk akal perhatian semua orang sedang di tempat lain. Dan sesuatu, atau seseorang, memanfaatkan jeda itu dengan presisi yang tidak bisa disebut kebetulan tapi juga tidak bisa dibuktikan sebaliknya.
Amplop putih. Ukuran standar. Tersegel rapi dengan cara yang menunjukkan bahwa siapapun yang menyegelnya menganggap penyegelan amplop adalah hal yang layak dilakukan dengan serius. Di permukaannya, satu nama ditulis dengan tangan tulisan tangan yang terlalu bagus, terlalu konsisten huruf per hurufnya, seperti seseorang yang pernah mengikuti kelas kaligrafi atau setidaknya sangat ingin terlihat seperti pernah mengikuti kelas kaligrafi.
Yanto.
Tidak ada alamat.
Tidak ada pengirim.
Tidak ada perangko karena amplop ini tidak dikirim melalui sistem yang membutuhkan perangko. Amplop ini diantarkan dengan cara yang lebih tua dari sistem pos dan lebih efisien dari kurir manapun yang bisa dipesan lewat aplikasi.
Tangan. Langsung. Tanpa jejak.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Di dalam amplop, satu lembar kertas dilipat tiga.
Kertasnya bukan kertas sembarangan bukan kertas fotokopi yang dipakai untuk surat-surat yang tidak menganggap dirinya penting. Ini kertas yang punya tekstur. Yang kalau dipegang terasa berbeda dari kertas biasa dengan cara yang sulit dijelaskan tapi langsung terasa. Kertas yang dipilih oleh seseorang yang memahami bahwa medium adalah bagian dari pesan.
Isinya ditulis dengan tangan yang sama. Rapi. Padat. Tanpa basa-basi pembuka yang tidak perlu.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Kepada Yth.
Saudara Yanto
Dengan hormat,
Karang Taruna RT 06 mengundang kehadiran Saudara dalam Pertemuan Rutin Bulanan yang akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Besok malam.
Waktu : Setelah Isya.
Tempat : Balai Desa, Ruang Pertemuan.
Dress Code : Batik bebas sopan.
Kehadiran Saudara sangat kami harapkan.
Mohon konfirmasi kehadiran melalui saluran yang Saudara ketahui.
Hormat kami,
Karang Taruna RT 06
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Tidak ada tanda tangan.
Tidak ada stempel.
Tidak ada nomor yang bisa dihubungi.
Dan di bagian paling bawah, ditulis lebih kecil dari teks lainnya, dengan tekanan pena yang berbeda seperti ditambahkan setelahnya, atau seperti sesuatu yang ragu-ragu antara perlu ditulis atau tidak, dan akhirnya diputuskan perlu:
P.S. Tolong datang.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Yanto membaca surat itu dua kali.
Melipatnya kembali.
Memasukkan ke saku.
Di sekitarnya, situasi di tepi sawah sudah memasuki fase yang bisa disebut jeda taktis fase di mana semua pihak sudah terlalu lama berdiri di tempat yang sama sampai kakiknya mulai punya pendapat sendiri tentang kebijakan malam itu, dan kelelahan mulai mengikis ketegangan dengan cara yang tidak dramatis tapi tidak bisa dihindari. Beberapa orang sudah duduk di galengan. Satu orang tertidur sambil masih memegang senjatanya dengan cara yang entah harus dikagumi atau dikhawatirkan.
Kang Sawit berdiri dengan posisi yang masih menunjukkan bahwa dia belum menyerah pada situasi ini, tapi celuritnya sudah diminta diam oleh campursari yang mengalun pelan dan kondisi ini membuat ekspresinya sedikit lebih tidak mengancam dari yang dia maksudkan.
"Surat dari mana?" tanya Kang Sawit, menatap saku Yanto.