Balai desa itu, dari luar, terlihat seperti balai desa biasa.
Cat temboknya putih yang sudah tidak sepenuhnya putih lagi warna yang terjadi ketika cat putih dibiarkan bernegosiasi dengan iklim tropis selama cukup lama sampai keduanya mencapai kompromi yang tidak memuaskan siapapun. Lampunya menyala. Tiangnya kokoh. Papan namanya terpasang dengan sekrup yang satu sudah mulai miring tapi belum cukup miring untuk dianggap darurat.
Dari luar, tidak ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Tapi Yanto, yang sudah berdiri di depan pintu masuknya selama beberapa detik dengan amplop undangan di tangan, tahu bahwa terlihat biasa dan biasa adalah dua hal yang di desa ini sudah lama tidak identik.
Dia menatap pintu.
Pintu menatap balik atau setidaknya terasa seperti itu, dengan cara pintu-pintu tertentu di tempat-tempat tertentu terasa seperti punya pendapat tentang siapa yang boleh masuk.
Yanto mengetuk.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Pintu dibuka oleh seorang pria yang usianya sulit ditebak karena wajahnya punya kualitas tertentu yang membuat semua rentang usia antara empat puluh dan enam puluh sama-sama masuk akal. Seragamnya bukan seragam resmi hanya kemeja polos yang dimasukkan ke dalam celana dengan presisi yang menunjukkan bahwa dia menganggap hal ini penting. Di dadanya, name tag plastik bening dengan kertas putih di dalamnya yang bertuliskan satu kata:
PETUGAS.
Bukan nama. Bukan jabatan spesifik.
Hanya: PETUGAS.
"Malam," kata Yanto.
"Malam," kata Petugas.
Tidak ada yang membuka pintu lebih lebar.
Yanto mengeluarkan amplop undangan. Menyodorkan.
Petugas menerimanya. Membukanya. Membaca isinya dengan cara orang yang membaca sesuatu yang sudah dia ketahui isinya tapi tetap perlu dibaca secara prosedural karena prosedur adalah prosedur dan prosedur tidak peduli dengan pengetahuan sebelumnya.
Lalu mengembalikan amplopnya.
"KTP," kata Petugas.
Yanto mengeluarkan KTP. Menyodorkan.
Petugas menerimanya. Melihatnya. Membaliknya. Melihat sisi belakang. Membalik lagi. Mengangguk pelan dengan cara orang yang menemukan bahwa dokumen yang diperiksa memenuhi syarat secara fisik tapi belum tentu secara administratif.
"Fotokopi KTP," kata Petugas.
Yanto menatapnya.
"Fotokopi?"
"Sepuluh lembar."
"Sepuluh."
"Rangkap sepuluh. Untuk arsip."
Hening.
Di kejauhan, suara jangkrik. Suara angin. Suara malam yang tidak punya kepentingan dengan apa yang sedang terjadi di depan pintu ini tapi tetap ada sebagai backsound karena alam tidak mengenal konsep off duty.
"Ini undangan," kata Yanto, pelan dan sangat terukur, "yang kalian kirim ke aku. Malam ini."
"Iya."
"Dan aku perlu fotokopi KTP sepuluh lembar."
"Untuk arsip."
"Dimana aku bisa fotokopi malam ini."
Petugas mempertimbangkan pertanyaan ini.
"Warung Pak Hendra punya mesin fotokopi," katanya akhirnya. "Tapi tutup jam delapan."
"Sekarang jam delapan lewat empat puluh."
"Iya.
Hening lagi.
"Ada fotokopi lain?"
"Di kecamatan. Tapi buka besok."
"Pertemuannya malam ini."
"Iya."
"Jadi?"
Petugas mengeluarkan clipboard dari balik pintu clipboard yang sudah ada di sana sebelumnya, yang keberadaannya di balik pintu menunjukkan bahwa percakapan ini bukan pertama kali terjadi dan sudah diantisipasi dengan formulir yang sesuai.
"Bisa isi formulir pengecualian prosedur dulu."
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Formulir pengecualian prosedur itu satu lembar kertas A4 yang diisi dengan kolom-kolom berukuran kecil yang total judmlah pertanyaannya, kalau dihitung, adalah dua puluh tujuh.
Yanto menerimanya. Membacanya.
Kolom pertama: Nama Lengkap Sesuai KTP.
Kolom kedua: Nomor KTP.
Kolom ketiga: Alasan Tidak Membawa Fotokopi KTP.
Kolom keempat: Alasan Fotokopi Tidak Bisa Didapatkan Sebelum Acara.
Kolom kelima: Saksi yang Bisa Mengkonfirmasi Alasan di Kolom 4.
Kolom keenam: Nomor HP Saksi.
Kolom ketujuh belas: Apakah Anda Pernah Menghadiri Pertemuan Karang Taruna RT 06 Sebelumnya? (Ya / Tidak / Tidak Tahu)
Kolom dua puluh dua: Referensi dari Anggota Aktif Karang Taruna RT 06.
Kolom dua puluh tiga: Tanda Tangan Referensi.
Kolom dua puluh tujuh: Tandatangan Pemohon di Atas Materai 10.000.
Yanto menatap kolom terakhir itu.
"Materai."
"Sepuluh ribu."
"Aku tidak bawa materai."
"Ada di warung Pak Hendra."
"Yang tutup jam delapan."
"Iya."
Yanto mengembalikan clipboard.
Tanpa mengisi apapun.
Dengan cara yang tidak agresif tapi juga tidak bisa disebut ramah cara seseorang yang sudah menghitung semua opsi yang tersedia dan memutuskan bahwa ini bukan salah satu dari mereka.
"Ada prosedur lain?" tanyanya.
Petugas meraih clipboard lain dari balik pintu.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Dari dalam balai desa, menembus ketebalan tembok dan pintu dan segala lapisan prosedur yang menyelimutinya, terdengar suara.
Bukan suara keras. Bukan suara rapat yang sedang berlangsung. Ini suara yang lebih spesifik dan lebih mengidentifikasi diri dengan cara yang tidak perlu penjelasan tambahan:
Suara kursi plastik yang digeser di atas lantai keramik.
Gesreeek.
Pelan.
Teratur.
Seperti seseorang di dalam sedang mengatur posisi duduk. Atau seperti sesuatu yang sudah terbiasa bergerak di waktu-waktu tertentu dan tidak merasa perlu minta izin.
Yanto menoleh ke arah sumber suara.
Petugas tidak menoleh.