Dewa Spesies Ninja Astral Versi 404

Stalingrad
Chapter #9

Chapter 9

Kacang di piring kecil itu berkurang tiga biji sejak Yanto duduk.


Bukan karena dia memakannya — dia tidak ingat memakan satupun. Tapi tangan punya kebiasaan sendiri di situasi tertentu, kebiasaan yang tidak perlu laporan ke otak untuk dijalankan, dan malam ini tangan Yanto rupanya memutuskan bahwa kacang adalah sesuatu yang perlu dipegang sambil mendengarkan hal-hal yang tidak seharusnya disampaikan di ruangan dengan taplak hijau dan rumbai.


Di depannya, dokumen bertajuk PETA KEPENTINGAN WILAYAH RT 06 DAN SEKITARNYA — [VERSI YANG BISA DITUNJUKKAN] terbuka di halaman dua.


Halaman dua berisi peta.


Peta yang, kalau dilihat sekilas, terlihat seperti peta desa biasa — jalan, blok, sawah, sungai, balai desa. Tapi kalau dilihat lebih lama, ada sesuatu yang tidak beres. Bukan karena ada yang salah digambar. Justru sebaliknya.


Terlalu banyak yang benar.


Detail-detail yang tidak seharusnya ada di peta desa biasa. Pergerakan. Titik-titik yang ditandai bukan dengan nama tempat tapi dengan tanggal. Garis-garis yang menghubungkan titik satu ke titik lain dengan cara yang bukan jalan — tapi pola.


Yanto menatap peta itu.


Peta itu terasa seperti menatap balik.


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼


"Kau perhatikan sesuatu?" tanya pria batik biru.


"Blok D," kata Yanto.


Tidak ada yang bergerak di meja itu.


Tapi ada perubahan kualitas udara — perubahan kecil, seperti tekanan yang naik satu angka tanpa ada yang menyentuh pengaturannya.


"Kau sudah ke sana," kata pria batik biru. Bukan pertanyaan.


"Belum."


"Tapi kau tahu."


"Admin bilang jangan datang."


"Dan?"


"Aku belum datang."


Pria batik coklat berhenti menulis. Pertama kalinya sejak Yanto masuk. Dia menatap Yanto dengan cara berbeda — cara orang yang baru saja merevisi penilaian awalnya tentang seseorang dan belum memutuskan apakah revisi itu baik atau buruk.


"Admin jarang kirim pesan langsung," kata perempuan batik merah marun dari ujung meja.


"Tahu," kata Yanto.


"Artinya kau dianggap cukup penting untuk diperingatkan secara personal."


"Atau cukup berbahaya untuk perlu dicegah."


Perempuan itu menatapnya sebentar. Lalu, untuk pertama kalinya malam ini, sesuatu yang menyerupai senyum muncul di sudut bibirnya — bukan senyum hangat, tapi senyum orang yang menemukan bahwa lawan bicaranya lebih menarik dari yang diantisipasi.


"Keduanya tidak saling mengecualikan," katanya.


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Pria batik biru membuka halaman berikutnya.


Halaman tiga bukan peta. Halaman tiga adalah daftar. Nama-nama, tanggal, dan di sebelah setiap nama — satu kata dalam kurung yang formatnya konsisten tapi isinya berbeda-beda.


(Pindah.)


(Diam.)


(Tidak diketahui.)


(Kembali.)


Dan satu, di baris ketiga belas dari bawah, yang berbeda dari semua yang lain:


(Masih di sana.)


Yanto membaca baris itu dua kali.


"Masih di sana," ulangnya pelan. "Di mana?"


"Blok D," kata pria batik biru.


"Siapa?"


Pria batik biru menutup dokumen.


Dengan cara yang menunjukkan bahwa pertanyaan itu valid tapi jawabannya ada di versi lain — versi yang tidak bisa ditunjukkan malam ini, di ruangan ini, dengan tingkat kepercayaan yang belum cukup dibangun antara orang yang baru saja menandatangani formulir kehadiran di atas materai sepuluh ribu dan orang-orang yang sudah menyimpan peta ini lebih lama dari yang mau mereka akui.


"Itu," kata pria batik biru, "ada di dokumen yang tidak bisa kami tunjukkan dulu."


Yanto menaruh kacang yang dipegangnya kembali ke piring.


"Berapa lama sampai bisa ditunjukkan?"


"Tergantung."


"Pada apa?"


"Pada seberapa lama kau bisa tidak ke Blok D."


Yanto menatapnya.


"Itu bukan jawaban."


"Itu satu-satunya jawaban yang bisa kami berikan malam ini."


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼

Lihat selengkapnya