Dewa Spesies Ninja Astral Versi 404

Stalingrad
Chapter #10

Chapter 10

Ada aturan tidak tertulis di desa ini.


Bukan aturan yang dibuat dalam rapat. Bukan aturan yang ada di papan pengumuman balai desa atau di grup WhatsApp manapun termasuk yang bintang lima. Ini aturan yang tumbuh sendiri dari kebiasaan kolektif orang-orang yang tinggal cukup lama di tempat yang sama sampai mereka tahu mana hal yang boleh dibicarakan dan mana hal yang lebih baik tidak.


Aturan itu sederhana:


Blok D tidak dibicarakan setelah matahari terbenam.


Bukan karena ada yang melarang. Bukan karena ada sanksi tertulis di peraturan RT yang bisa dikutip dengan nomor pasal. Tapi karena pada suatu titik — tidak ada yang bisa ingat kapan tepatnya — orang-orang berhenti membicarakannya. Dan ketika sesuatu sudah cukup lama tidak dibicarakan, diam itu sendiri menjadi aturan.


Yanto membaca kertas kecil itu sekali lagi di bawah cahaya lampu jalan yang berkedip-kedip — lampu yang menyala dengan konsistensi seperti pegawai yang sudah menemukan kecepatan bekerja paling minimal yang masih bisa disebut bekerja.


Blok D. Rumah tanpa nomor. Tanya dispenser-nya.


Dia melipat kertas itu, memasukkannya ke dalam saku.


Lalu berjalan.


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Blok D ada di peta.


Tapi tidak dengan cara yang sama seperti blok-blok lain ada di peta.


Blok A punya jalan masuk yang jelas. Blok B punya warung di tikungan yang jadi patokan. Blok C punya sawah Pak Maman yang belakangan ini terlalu sering jadi lokasi kejadian yang tidak bisa dilaporkan dengan kalimat yang masuk akal.


Blok D punya sebuah jalan yang ada tapi terasa seperti tidak direncanakan — jalan yang muncul di antara dua blok lain dengan cara yang, kalau kamu pikirkan terlalu lama, terasa seperti sesuatu yang memaksakan diri untuk ada di antara hal-hal yang sudah ada sebelumnya.


Jalannya tidak sempit. Tidak gelap secara khusus. Tidak ada kabut tebal, suara aneh, atau semua hal yang biasanya ada di tempat-tempat yang ingin dianggap berbahaya.


Hanya sepi.


Jenis sepi yang berbeda dari sepi di sawah tadi malam — itu sepi yang hidup, yang diisi suara kodok, angin, dan aliran sungai. Sepi di Blok D adalah sepi yang sudah ada sejak lama sampai lupa kalau ada keadaan lain selain sepi.


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Rumah-rumah di Blok D ada.


Hal itu yang pertama kali diperhatikan Yanto — bukan karena tidak ada bangunan, tapi karena bangunan yang ada terasa seperti rumah yang pernah ditinggali tapi sudah lupa rasanya dihuni. Cat temboknya tidak bisa dibilang bagus, tapi juga tidak rusak parah — dalam kondisi netral, terjadi karena tidak ada yang merawat tapi tidak ada juga yang merusak. Jendelanya tertutup semua. Pintunya tertutup semua.


Tidak ada lampu yang menyala.


Tidak ada suara yang terdengar dari dalam rumah mana pun.


Tapi ada sesuatu yang berbeda dari rumah kosong biasa — sesuatu yang baru disadari Yanto saat dia berhenti di depan rumah ketiga dan mengamatinya lebih lama dari yang seharusnya.


Tidak ada nomor rumah.


Bukan hanya rumah ketiga saja. Tidak ada satu pun rumah di sepanjang jalan ini yang bernomor. Di tempat yang biasanya ada papan nomor — di tiang pagar, di tembok dekat pintu, atau di mana saja — hanya ada bekasnya saja. Bentuk persegi panjang yang warnanya sedikit berbeda dari cat tembok di sekitarnya. Bekas yang menunjukkan bahwa nomor itu pernah ada di sana.


Lalu dilepas.


Kapan dan oleh siapa, tidak ada yang bisa menjawabnya hanya dari melihat keadaan di sana.


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Rumah tanpa nomor.


Yanto berjalan semakin masuk ke dalam.


Kalau semua rumah tidak bernomor, maka petunjuk itu tidak ada gunanya kecuali ada satu rumah yang berbeda dari yang lain, berbeda bukan karena nomornya dilepas, tapi karena memang tidak pernah ada nomornya dari awal.


Dia mencari perbedaan itu.


Dan menemukannya di ujung jalan.


Rumah paling ujung. Ukurannya tidak lebih besar dari yang lain. Catnya sama saja, tidak lebih bagus atau lebih buruk. Jendelanya tertutup rapat sama seperti rumah-rumah lainnya.


Tapi di tempat rumah-rumah lain punya bekas papan nomor — bentuk persegi panjang yang warnanya sedikit berbeda — rumah ini tidak punya bekas apa pun.


Temboknya rata, warnanya sama semua. Seperti tidak pernah ada apa pun yang ditempel di sana.


Seperti memang dari awal tidak direncanakan untuk punya nomor.


Lihat selengkapnya