Yanto tidak membuka galon malam itu.
Bukan karena takut. Bukan karena patuh pada peringatan dispenser yang tidak seharusnya bisa berbicara tapi tetap berbicara dengan nada seseorang yang sudah menunggu terlalu lama untuk menyampaikan tiga kata itu. Tapi karena ada perbedaan antara berani dan terburu-buru, dan Yanto sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa orang yang terburu-buru membuka hal-hal yang tidak seharusnya dibuka biasanya tidak sempat menyesal dengan cukup lama.
Dia keluar dari rumah tanpa nomor itu dengan cara yang sama seperti dia masuk — pelan, tanpa suara, dengan perhatian penuh pada hal-hal kecil yang mungkin berubah antara waktu masuk dan waktu keluar.
Tidak ada yang berubah.
Pintu masih setengah terbuka. Ruangan pertama masih kosong. Jalan masih sepi dengan jenis sepi yang sudah lama di sana.
Dan dispenser masih menyala.
Yanto bisa mendengar suaranya sampai beberapa langkah dari pintu — suara air mendidih yang tidak berhenti, yang tidak akan berhenti, yang mungkin tidak pernah berhenti sejak 98 dan tidak berencana berhenti dalam waktu dekat karena tidak ada yang menyuruhnya dan tidak ada yang cukup berani untuk melakukannya.
Dia berjalan kembali ke arah pos ronda.
Bukan karena ada tujuan di sana. Tapi karena malam sudah cukup larut untuk membuat semua arah yang lain terasa seperti keputusan yang membutuhkan pertimbangan lebih, dan pos ronda adalah satu-satunya tempat di desa ini yang terasa seperti tidak menuntut pertimbangan apapun untuk didatangi.
Lampu pos ronda menyala — satu bohlam yang memberikan cahaya dengan cara yang tidak berlebihan dan tidak kurang, cahaya yang cukup untuk melihat apa yang perlu dilihat tanpa menerangi hal-hal yang mungkin lebih baik tetap dalam gelap.
Di bangku panjang, Pak Darto duduk.
Sendirian.
Dengan gelas kopi yang masih mengepul — yang artinya baru dituang, yang artinya dia tidak tidur, yang artinya kehadirannya di sini malam ini bukan kebetulan dengan cara yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.
"Dari Blok D," kata Pak Darto. Bukan pertanyaan.
Yanto duduk di bangku seberangnya.
"Iya."
Pak Darto menuang kopi ke gelas kedua yang sudah ada di meja — gelas yang belum ada kopinya tapi sudah ada di sana, sudah disiapkan, sudah menunggu — dengan gerakan yang tidak terburu-buru.
"Mau?"
"Mau."
Mereka duduk dalam diam selama beberapa waktu.
Bukan diam yang tidak nyaman. Bukan diam yang menunggu sesuatu untuk diisi. Diam yang terjadi di antara dua orang yang masing-masing sedang memproses sesuatu dan tidak merasa perlu meminta izin dari yang lain untuk melakukannya.
Di kejauhan, suara sungai. Suara angin yang bergerak di antara batang-batang padi. Suara malam yang tidak punya kepentingan dengan apapun yang sedang dipikirkan oleh dua orang di pos ronda ini tapi tetap ada sebagai latar yang tidak meminta diperhatikan.
"Dispenser-nya bunyi?" tanya Pak Darto akhirnya.
"Ngomong."
Pak Darto mengangguk. Satu kali. Pelan.
"Apa katanya?"
"Jangan buka galon."
Pak Darto mengangkat gelasnya. Minum. Meletakkan kembali dengan bunyi pelan di atas meja kayu yang sudah terlalu banyak meletakkan gelas di permukaannya untuk masih terkejut dengan satu gelas lagi.
"Kamu buka?"
"Tidak."
"Bagus."
Hening lagi.
"Pak Darto tahu isinya?"
Pak Darto menatap ke arah sawah. Ke arah galengan yang dari sini hanya terlihat sebagai garis gelap di bawah langit yang lebih gelap tapi keberadaannya bisa dirasakan dengan cara yang sudah tidak perlu diverifikasi secara visual.
"Tahu," katanya.
"Apa?"
Pak Darto diam sebentar. Dengan cara orang yang mempertimbangkan bukan apakah akan menjawab — itu sudah diputuskan — tapi bagaimana cara menjawab sesuatu yang jawabannya tidak punya bentuk yang mudah dimasukkan ke dalam kalimat.
"Air," katanya akhirnya.