Dewa Spesies Ninja Astral Versi 404

Stalingrad
Chapter #12

Chapter 12

Konteks, di desa ini, tidak datang dengan cara yang mudah.


Bukan karena tidak ada yang tahu. Justru sebaliknya — terlalu banyak yang tahu terlalu banyak hal, tapi pengetahuan itu tersebar dengan cara yang tidak merata dan tidak terorganisir, seperti arsip yang pernah punya sistem tapi sistemnya sudah lama tidak dirawat sampai orang yang tahu di mana letak sesuatu hanya orang yang sudah cukup lama ada untuk menghafal posisinya bukan dari label tapi dari kebiasaan.


Yanto menghabiskan sisa malam itu di pos ronda.


Bukan karena tidak ada tempat lain untuk pergi. Tapi karena pos ronda adalah tempat yang tidak menuntut penjelasan tentang kenapa kamu ada di sana, dan malam itu Yanto tidak punya energi untuk menjelaskan apapun kepada siapapun termasuk dirinya sendiri.


Dia minum kopi yang ditinggalkan Pak Darto sampai habis. Kopinya sudah dingin tapi tetap kopi, dan kopi dingin di malam yang tidak dingin adalah sesuatu yang bisa diterima oleh orang yang sudah punya cukup hal lain untuk dipermasalahkan.


Di atas galengan, kodok itu tidak bergerak sampai subuh.


Yanto tidak tidur.


Keduanya menunggu sesuatu yang tidak ada yang bisa namakan dengan tepat tapi sama-sama tahu sedang mendekat.


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Pagi datang dengan cara yang tidak dramatis.


Tidak ada matahari yang tiba-tiba muncul dari balik cakrawala dengan cahaya keemasan yang sinematik. Tidak ada burung yang bernyanyi dengan komposisi yang terasa seperti sengaja dipilih untuk menandai pergantian hari. Hanya langit yang perlahan berubah dari hitam ke biru tua ke abu-abu ke putih yang belum sepenuhnya yakin dengan dirinya sendiri.


Dan bersamaan dengan itu, desa mulai bersuara.


Bukan sekaligus. Satu per satu. Suara pintu yang dibuka. Suara air yang dinyalakan. Suara motor yang dipanaskan dengan sabar karena mesin tua butuh waktu sebelum mau bekerja. Suara kehidupan yang tidak tahu dan tidak peduli bahwa semalam ada hal-hal yang terjadi di Blok D dan di pos ronda dan di atas galengan yang mungkin penting untuk diketahui atau mungkin tidak tapi dalam keadaan apapun tidak akan mengubah fakta bahwa pagi tetap datang dan hari tetap perlu dijalani.


Yanto berdiri. Meregangkan punggungnya.


Bangku pos ronda bukan tempat yang dirancang untuk ditiduri, dan meskipun Yanto tidak tidur di sana, terlalu lama duduk di bangku yang tidak dirancang untuk kenyamanan jangka panjang menghasilkan efek yang tidak jauh berbeda.


Dia menatap ke arah Blok D satu kali.


Rumah tanpa nomor di ujung jalan itu tidak terlihat dari sini — terlalu jauh, terhalang belokan. Tapi dispenser itu masih menyala. Yanto tahu tanpa harus melihat, dengan cara dia tahu banyak hal yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan proses verifikasi yang normal.


Galon itu masih di sana.


Masih menunggu.


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Warung pertama yang buka di desa ini adalah warung Bu Yanti.


Bukan karena Bu Yanti bangun paling pagi — ada beberapa orang yang bangun lebih awal. Tapi karena Bu Yanti membuka warungnya tepat pada jam yang sama setiap hari sejak dua puluh tiga tahun terakhir dengan konsistensi yang membuat jam tangannya lebih berfungsi sebagai dekorasi daripada alat ukur waktu, karena tubuhnya sudah hafal jadwalnya sendiri tanpa perlu bantuan angka.


Warungnya kecil. Meja dua, kursi plastik empat, etalase kaca dengan isian yang tidak berubah signifikan dari hari ke hari. Yang berubah hanya stok — berkurang, diisi ulang, berkurang lagi, dengan siklus yang sudah menjadi ritme tersendiri.


Yanto masuk. Duduk di meja yang menghadap ke jalan.


Bu Yanti tidak bertanya siapa dia atau dari mana dia datang atau kenapa dia ada di sini pada jam yang terlalu pagi untuk tamu yang tidak dikenal. Bu Yanti adalah tipe orang yang sudah cukup lama membuka warung untuk tahu bahwa orang yang datang pagi biasanya datang dengan alasan yang tidak perlu ditanya, dan pertanyaan yang tidak perlu ditanya lebih baik tidak ditanya.


"Mau apa?" tanya Bu Yanti.


"Nasi," kata Yanto. "Dan informasi."


Bu Yanti menatapnya sebentar. Lalu menoleh ke dapur.


"Nasinya ada. Informasi tergantung."


"Tergantung apa?"


"Tergantung informasi apa yang dimau."


Yanto meletakkan tangannya di atas meja. Datar. Dengan cara yang tidak mengancam tapi juga tidak bisa disebut santai sepenuhnya.


"Blok D," kata Yanto.


Bu Yanti tidak bergerak selama dua detik. Bukan membeku — lebih ke berhenti, dengan cara orang yang sedang memproses informasi dan memilih respons yang tepat dari beberapa opsi yang tersedia.


Lalu dia melanjutkan ke dapur.


"Nasinya sebentar," katanya, tanpa menjawab tentang Blok D.


Yang, di desa ini, adalah jawaban tersendiri.


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Nasi itu datang dengan lauk yang tidak diminta tapi ada — tempe goreng, sambal, tahu, dan telur dadar yang pinggirnya sedikit gosong dengan cara telur dadar yang dimasak oleh orang yang sudah terlalu sering membuat telur dadar untuk masih memberikan perhatian penuh pada prosesnya.


Yanto makan.


Bukan karena lapar secara khusus, tapi karena tubuh yang tidak tidur sepanjang malam dan menghabiskan sebagian waktunya berjalan ke tempat yang tidak seharusnya didatangi pada jam yang tidak seharusnya perlu makan untuk berfungsi dengan benar.


Bu Yanti duduk di kursi di balik etalase. Mengambil sesuatu dari laci — buku kecil, pena, mulai menulis sesuatu yang Yanto tidak bisa baca dari jaraknya. Catatan stok, mungkin. Atau sesuatu yang lain.


Beberapa menit berlalu dalam diam yang tidak sepenuhnya diam karena ada suara sendok, suara jalan di luar, suara kehidupan yang terus berjalan.


"Kamu tadi dari Blok D," kata Bu Yanti, masih menulis. Bukan pertanyaan.


"Iya."


"Semalam."


"Iya."


"Rumah paling ujung."

Lihat selengkapnya