Pos ronda jam sembilan malam berbeda dari pos ronda jam sebelas malam.
Jam sebelas, suasananya sudah menetap. Orang-orang yang akan keluar sudah keluar, orang-orang yang akan di rumah sudah di rumah, dan desa sudah menemukan keseimbangannya masing-masing untuk malam itu. Tapi jam sembilan masih ada pergerakan. Masih ada motor yang lewat. Masih ada suara TV dari rumah-rumah yang jendelanya belum ditutup. Masih ada desa yang belum sepenuhnya memutuskan mau jadi apa untuk malam itu.
Yanto duduk di bangku panjang pos ronda dengan cara orang yang sudah memutuskan akan di sini cukup lama untuk tidak perlu terburu-buru dalam posisi duduknya.
Pak Bambang dan Pak Udi sudah pulang setengah jam yang lalu setelah shift pertama selesai. Pak Darto tidak datang malam ini. Yanto tidak bertanya kenapa dan tidak ada yang menjelaskan, karena di pos ronda RT 06 ada pemahaman tidak tertulis bahwa kehadiran dan ketidakhadiran orang tertentu pada malam tertentu kadang bukan kebetulan dan tidak perlu dikomentari.
Senter di meja menyala menghadap ke atas. Termos ada. Gelas ada.
Yang tidak ada adalah orang yang mengirim pesan itu.
Belum.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Dia datang jam sembilan lewat dua puluh tiga.
Yanto tahu kehadirannya sebelum melihatnya, dengan cara yang sudah menjadi reflek dari terlalu banyak malam di terlalu banyak tempat yang membutuhkan reflek seperti itu. Suara langkah yang tidak mencoba untuk tidak terdengar tapi juga tidak mengumumkan diri. Ritme yang teratur. Berat yang terdistribusi dengan cara seseorang yang sudah terbiasa berjalan di tempat yang tidak selalu menyambut.
Perempuan itu muncul dari tikungan jalan dengan langkah yang tidak berubah ketika dia melihat Yanto sudah ada di sana, seperti dia memang mengantisipasi ini dan tidak perlu melakukan penyesuaian.
Bukan batik merah marun. Malam ini dia memakai baju biasa. Gelap, tidak mencolok, pilihan orang yang tidak sedang ingin dilihat tapi juga tidak sedang bersembunyi karena bersembunyi membutuhkan usaha yang tidak perlu kalau kamu sudah cukup biasa bergerak di antara hal-hal yang tidak diperhatikan orang.
Dia duduk di bangku seberang Yanto.
Tidak mengucapkan salam. Tidak menjelaskan kedatangannya. Tidak meminta maaf atas keterlambatan yang sebenarnya tidak terlambat karena tidak ada jam yang disepakati dalam pesannya, hanya malam ini dan setelah ronda pertama selesai, dan keduanya sudah terpenuhi.
"Kamu sudah ke warung Bu Yanti," katanya.
"Iya."
"Dan warung kopi yang satunya."
"Iya."
"Dan kamu mendengar percakapan yang tidak ditujukan kepadamu."
Yanto menatapnya. "Atau yang memang ditujukan kepadaku tapi tidak secara langsung."
Perempuan itu diam sebentar. Lalu sesuatu bergerak di sudut matanya yang bisa disebut apresiasi kalau kamu mau menggunakannya untuk mendeskripsikan cara seseorang merespons ketika orang lain menangkap sesuatu lebih cepat dari yang diantisipasi.
"Keduanya mungkin," katanya.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Namanya tidak dia sebutkan malam itu.
Bukan karena Yanto tidak bertanya. Dia tidak bertanya karena sudah belajar dari beberapa hari terakhir bahwa di tempat ini, nama adalah sesuatu yang diberikan ketika sudah waktunya diberikan, dan meminta sebelum waktunya biasanya menghasilkan jawaban yang secara teknis benar tapi tidak memberikan informasi yang lebih berguna dari tidak ada jawaban.
Yang dia ketahui dari tiga puluh menit pertama percakapan itu: perempuan ini bukan anggota biasa Karang Taruna. Bukan dalam pengertian hierarki resmi yang bisa dilihat dari posisi duduk di rapat atau dari siapa yang berbicara duluan. Tapi dalam pengertian yang lebih praktis. Dia tahu hal-hal yang tidak seharusnya diketahui oleh seseorang yang hanya menghadiri rapat bulanan dengan dress code batik bebas sopan.
"Insiden 98," kata Yanto. "Pak Darto bilang ada orang yang tahu terlalu banyak terlalu cepat. Dan orang itu masih ronda sampai sekarang."
Perempuan itu menatapnya.
"Pak Darto bilang terlalu banyak," katanya pelan.
"Atau tidak cukup. Tergantung interpretasi."
"Kamu menginterpretasikan bahwa orang itu adalah Pak Darto sendiri."
"Kamu tidak menyangkal."
Perempuan itu mengambil termos di meja. Membuka tutupnya. Mengendus. Lalu menutup kembali tanpa menuang.
"Kopi sudah basi," katanya.
"Termos itu ada di sana sejak Pak Bambang dan Pak Udi pergi."
"Aku tahu." Dia meletakkan termos kembali. "Aku tidak suka kopi basi."