Dewa Spesies Ninja Astral Versi 404

Stalingrad
Chapter #14

Chapter 14

Ada teori tidak tertulis di desa ini yang kalau diucapkan keras-keras akan terdengar terlalu sederhana untuk dianggap serius tapi kalau diperhatikan cukup lama akan terbukti lebih akurat dari kebanyakan analisis yang menggunakan kata-kata yang lebih besar.


Teori itu: orang paling jujur ketika tangannya kotor.


Bukan dalam pengertian filosofis yang dalam. Dalam pengertian yang sangat literal. Ketika seseorang sedang mencangkul, atau mengangkat, atau membersihkan sesuatu yang tidak ingin dibersihkan, bagian otaknya yang biasanya bertugas menyaring apa yang boleh dikatakan dan apa yang tidak terlalu sibuk mengelola tubuh untuk mengerjakan tugas penyaringan itu dengan efektif. Hasilnya: yang keluar adalah apa yang sebenarnya ada di kepala, tanpa revisi editorial yang biasanya dilakukan sebelum kalimat sampai ke udara.


Ini yang membuat kerja bakti, di desa yang menyimpan banyak hal tidak terkatakan, menjadi salah satu sumber informasi paling produktif yang ada.


Yanto tahu ini.


Dia datang dengan cangkul yang dipinjam dari seseorang yang tidak perlu disebutkan namanya, sarung tangan yang juga dipinjam, dan sepatu yang tidak ideal untuk kerja bakti tapi lebih baik dari tidak ada sepatu.


Jam tujuh pagi. Selokan RT 06. Dua puluh tiga orang, termasuk dirinya.


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Selokan itu tersumbat di tiga titik.


Titik pertama: sampah organik yang sudah terdekomposisi menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa diidentifikasi sebagai apapun yang spesifik. Baunya cukup untuk membuat dua orang di barisan pertama mengambil langkah mundur yang tidak mereka akui sebagai langkah mundur.


Titik kedua: lumpur yang mengeras dengan konsistensi yang menunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya selokan ini tersumbat di titik ini dan mungkin tidak akan menjadi yang terakhir kali selama akar pohon jambu di sebelahnya terus tumbuh ke arah yang tidak direncanakan oleh siapapun termasuk pohon jambu itu sendiri.


Titik ketiga: sesuatu yang tidak ada yang mau memulai membersihkannya sehingga semua orang berkonsentrasi dulu di titik pertama dan kedua dengan harapan bahwa pada saat sampai ke titik ketiga baik energi maupun toleransi terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan sudah cukup terkuras untuk membuat titik ketiga terasa relatif lebih baik dari ekspektasi.


Yanto diarahkan ke titik kedua.


Dia mencangkul lumpur dengan cara orang yang tidak terlalu berpengalaman mencangkul lumpur tapi cukup berpengalaman di hal-hal yang membutuhkan tenaga terkontrol untuk tidak terlihat kikuk.


Di sebelahnya, seorang pria dengan topi hijau yang sudah pudar ujungnya dan baju kaos yang ada logo acara yang sudah beberapa tahun lalu di dadanya mencangkul dengan ritme yang menunjukkan pengalaman. Ini bukan kerja bakti pertamanya. Mungkin bukan yang keseratus juga.


Mereka bekerja dalam diam selama beberapa menit.


Diam yang wajar. Diam dua orang yang belum punya alasan untuk berbicara satu sama lain.


Sampai pria bertopi hijau itu, tanpa menoleh, berkata:


"Kamu yang semalam di pos ronda."


Bukan pertanyaan.


"Iya," kata Yanto.


"Dengan Wulan."


"Iya."


Pria bertopi hijau itu mencangkul dua kali lagi sebelum melanjutkan. Ritme yang sama. Tidak berubah.


"Wulan jarang ketemu orang baru," katanya. "Apalagi malam-malam."


"Kamu yang kirim pesan itu?"


"Pesan apa?" kata pria bertopi hijau, dengan nada orang yang tidak tahu tentang pesan yang dimaksud atau sangat tahu tapi memilih untuk tidak tahu dalam konteks percakapan ini.


Yanto memilih untuk tidak meneruskan pertanyaan itu.


Mereka mencangkul dalam diam lagi.


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Dua puluh tiga orang yang hadir di kerja bakti itu terbagi menjadi beberapa kelompok yang tidak resmi tapi bisa diidentifikasi oleh siapapun yang memperhatikan lebih dari lima menit.


Kelompok pertama: yang benar-benar bekerja. Mereka ini adalah orang-orang yang datang membawa peralatan lengkap, sudah menggulung lengan baju sebelum sampai di lokasi, dan langsung ke titik yang paling berat tanpa menunggu instruksi. Jumlahnya kecil, mungkin lima atau enam orang. Kerja bakti berjalan karena mereka.


Kelompok kedua: yang bekerja dengan intensitas yang proporsional terhadap seberapa dekat mereka diawasi. Ketika ada yang melihat, cangkul bergerak. Ketika perhatian beralih, ritme melambat dengan cara yang bisa disebut istirahat taktis. Ini kelompok terbesar.


Kelompok ketiga: yang hadir untuk keperluan sosial. Cangkul ada, sarung tangan ada, tapi fungsi utama mereka adalah bergerak dari satu titik ke titik lain sambil membawa percakapan, menawarkan air minum kepada yang bekerja, dan memberikan komentar konstruktif tentang cara orang lain mencangkul. Tanpa kelompok ini, informasi tidak beredar dengan efisien dan dinamika sosial kerja bakti akan jauh lebih serius dari yang seharusnya.


Yanto ada di titik kedua secara fisik tapi menjalankan fungsi kelompok ketiga secara informasional.


Dia mendengarkan.

Lihat selengkapnya