Dewa Spesies Ninja Astral Versi 404

Stalingrad
Chapter #15

Chapter 15

Yanto kembali ke Blok D pada malam keempat.


Bukan malam pertama, kedua, atau ketiga. Malam keempat. Karena tiga malam sebelumnya dia pergi ke arah yang sama, berdiri di tikungan jalan yang membelah antara Blok D dan bagian desa yang lain, dan memutuskan untuk tidak melanjutkan. Bukan karena takut. Bukan karena ragu. Tapi karena setiap kali dia berdiri di tikungan itu dan mengevaluasi apa yang dia tahu, kesimpulannya selalu sama: belum cukup.


Malam keempat berbeda.


Bukan karena ada informasi baru yang masuk antara malam ketiga dan malam keempat yang secara dramatis mengubah kalkulasinya. Tapi karena pada malam keempat, ketika dia berdiri di tikungan yang sama dan melakukan evaluasi yang sama, kesimpulannya berbeda untuk pertama kalinya.


Bukan belum cukup.


Cukup.


Atau setidaknya: cukup untuk memulai. Yang adalah hal yang berbeda dari cukup untuk selesai, tapi lebih jujur dari berpura-pura bahwa ada kondisi di mana seseorang bisa benar-benar cukup tahu sebelum melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.


Dia melanjutkan berjalan.


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Jalan Blok D sama seperti tiga malam sebelumnya.


Sepi dengan kualitas yang sudah tidak perlu dideskripsikan ulang karena sudah cukup dikenal dari kunjungan-kunjungan sebelumnya. Rumah-rumah dengan bekas di mana nomor seharusnya ada. Lampu jalan yang menyala dengan dedikasi yang tidak proporsional terhadap jumlah orang yang menggunakannya.


Yanto berjalan dengan ritme yang tidak terburu-buru.


Bukan karena sedang bersantai. Tapi karena terburu-buru di tempat yang tidak mengharapkan kamu terburu-buru adalah cara termudah untuk melewatkan hal-hal yang mungkin penting untuk diperhatikan.


Di rumah ketiga dari kiri, ada sesuatu yang berbeda dari malam-malam sebelumnya.


Jendelanya terbuka sedikit.


Tidak banyak. Mungkin dua atau tiga sentimeter. Tapi terbuka, padahal tiga malam sebelumnya tertutup seperti semua yang lain. Dari celah itu tidak ada cahaya, tidak ada suara, tidak ada tanda yang jelas bahwa ada sesuatu di baliknya yang berbeda dari sebelumnya.


Tapi celah itu ada.


Yanto mencatatnya. Tidak berhenti. Tidak memperlambat. Terus berjalan.


Di ujung jalan, rumah tanpa nomor menunggu seperti biasa. Dengan cara benda-benda yang sudah sangat lama di tempat yang sama menunggu, yaitu tanpa ekspresi dan tanpa ketidaksabaran dan tanpa apapun yang bisa disebut menunggu dalam pengertian aktif, tapi tetap ada di sana dengan kehadiran yang tidak bisa diabaikan oleh siapapun yang cukup memperhatikan.


Pintu masih setengah terbuka dari kunjungan pertama.


Yanto masuk.


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Ruangan pertama masih kosong.


Lantai masih bersih dengan jenis bersih yang sama. Dinding masih polos. Pintu ke ruangan kedua masih setengah terbuka.


Suara dispenser sudah terdengar dari sini.


Bukan lebih keras dari sebelumnya. Tapi terasa berbeda. Seperti suara yang sama tapi didengar oleh telinga yang berbeda. Atau seperti suara yang sama tapi didengar oleh telinga yang sama dalam kondisi yang berbeda.


Yanto berjalan ke ruangan kedua.


Dispenser itu ada di sana.


Masih di posisi yang sama. Lampu indikatornya menyala merah seperti pertama kali. Kabelnya masih menggantung tidak tersambung ke manapun. Suara air mendidih masih keluar dari dalamnya dengan konsistensi yang tidak berubah sejak kunjungan pertama dan mungkin tidak berubah sejak jauh sebelum kunjungan pertama.


Galon di atasnya masih di posisi yang sama.


Tidak transparan. Tidak ada label. Tidak ada tulisan.


Yanto berdiri di ambang pintu ruangan kecil itu.


Menatap galon itu.


Galon itu tidak menatap balik, karena galon adalah benda mati dan benda mati tidak menatap. Tapi ada kualitas tertentu dari keberadaannya di ruangan itu malam ini yang berbeda dari malam pertama Yanto melihatnya. Sesuatu yang tidak bisa diukur atau dijelaskan dengan akurat tapi bisa dirasakan dengan cara hal-hal tertentu dirasakan sebelum otak menemukan kata yang tepat untuknya.


Yanto melangkah masuk ke ruangan itu.


Lampu indikator dispenser berubah dari merah ke biru, dengan transisi yang sama seperti pertama kali. Pelan. Terencana.


Tapi kali ini tidak ada suara dari speaker yang tidak ada.


Tidak ada tiga kata.


Hanya lampu yang berubah warna.


Dan kemudian, dari dispenser yang tidak seharusnya bisa melakukan ini, sesuatu yang tidak pernah terjadi di kunjungan pertama.


Air keluar dari keran bawah.


Sendiri. Tanpa ada yang menekan atau memutar kerannya. Mengalir pelan ke lantai dengan suara yang kecil tapi jelas di ruangan yang tidak punya suara lain selain suara mendidih dari dalam dan suara malam dari luar.


Yanto menatap air yang mengalir itu.


Airnya bening. Biasa.


Seperti yang Pak Darto bilang.


Air biasa dari sumber yang sama dengan air di mana-mana.


 ⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Dia mengulurkan tangannya.


Membiarkan air itu mengalir di atas telapak tangannya.


Dingin.


Bukan dingin yang tidak normal, bukan dingin yang aneh atau mencurigakan. Dingin air yang sudah didiamkan lama dan belum dipanaskan oleh apapun meskipun dispenser di bawahnya mengeluarkan suara mendidih. Yang adalah kontradiksi yang seharusnya tidak masuk akal tapi di ruangan ini terasa seperti hal yang paling masuk akal dari semua yang sudah terjadi sejak beberapa hari terakhir.


Yanto menarik tangannya.


Lihat selengkapnya