Kemacetan merundung Popy dan kekasihnya. Di dalam jet engine beroda empat mereka saling bertukar senyum, saling memeluk penuh kehangatan. Popy merasa hidupnya kembali, terlahir lagi secara emosional. Kekasih Popy fokus menyetir, meski di depannya deretan mobil berhenti dan membunyikan klakson berulang kali, membuat telinga terus berdengung. Kekasih Popy mengenakan celana panjang cokelat model chino dan kemeja polos biru muda yang lengannya ditekuk hingga menyentuh siku.
Popy merasa ada yang memeluk perasaannya, kehangatan itu ia rasakan setiap kali menatap kekasihnya, bahkan hanya dengan melihat telinga, rambut hingga leher. Berulang kali Popy memegang tangan kekasihnya, mengelus perlahan dari punggung tangan hingga lengan atas, sentuhan itu yang dibutuhkan Popy setelah sekian lama merindu dan tidak bisa bertemu.
Perjalanan menempuh ruang dan waktu yang baru saja dialami adalah pengalaman pertamanya, hal itu tidak sekadar membuat Popy jet lag, lebih dari itu untuk orang yang tidak mempunyai kemampuan seperti para The Gift akan mati seketika dan hancur lebur—menyatu dengan atom dan sub atom, menjadi bagian dari mekanisme kuantum. Popy melihat perubahan ruang pandangnya, seperti seseorang yang mengidap silinder.
Pusing di kepalanya membuat pandangan di sekitarnya berubah out fokus, seperti lensa kamera yang diputar cepat. Balasan sentuhan dari kekasihnya membuat Popy terbantu, dan tidak kesulitan untuk memfokuskan diri kembali, memulihkan tubuh setelah perjalanan yang menyita banyak waktu dan energi sekaligus.
Tanpa sabuk pengaman, Popy bersandar pada pundak kekasihnya. Sembari melihat kemacetan yang tidak kunjung terurai. Jalanan Jakarta memang lebih kejam dari penjahat paling mengerikan di dunia. Tidak ada yang mampu menaklukannya secepat kelompok polisi meringkus teroris atau penjahat lainnya. Kemacetan itu telah banyak menyakiti orang, sekalipun bagi Presiden Republik ini. Dengan keteguhan hati dan kesederhanaannya, ia selalu membaur dalam kemacetan, tidak pernah ada patwal pengurai kemacetan hanya untuk memudahkan mobilnya melaju cepat. Sangat sederhana.
Kemacetan tidak bergerak, tidak seperti hari biasanya. Popy dan kekasihnya sudah menunggu setengah jam, tapi mobil tetap saja berhenti. Kekasih Popy membuka sabuk pengamannya.
“Kamu kenapa?” tanya kekasih Popy setelah mencium kening Popy.
“Nggapapa,” Popy mencium pipi kanan kekasihnya.
“Tumben hari ini kamu manja banget.”
“Ah kamu mah,” Popy mengangkat kepala dari pundak kekasihnya.
“Kenapa?”
“Sayang deh sama kamu,” Popy memeluk kekasihnya, sesekali mereka berciuman—lalu memeluk lagi. Jantung Popy dan kekasihnya berdebar seirama, tenang dan menenangkan. Sampai mobil di belakang mereka membunyikan klakson—kemacetan bergerak. Kekasih Popy memakai kembali sabuk pengamannya. Mobil itu bergerak lalu berhenti hanya beberapa meter dari tempat sebelumnya.
“Yah… Gentian gerak cuma segini aja.”
“Sabar,” Popy menenangkan.
“Sabar dapet apa?” kekasih Popy menggoda.
“Nih…” Popy mencium pipi kanan Kekasihnya.
“Dasar Gombal…”
“Suka gak?” Popy menggoda.
“Gak perlu aku jawab, kamu pasti tahu jawabannya.”
“Ah kamu mah…”
Setelahnya mereka terdiam, Popy menyalakan radio, berulang kali memutar frekuensi mencari stasiun radio yang cocok dengan suasana. Popy berhenti memutar frekuensi saat tertarik pada sebuah berita yang dibacakan oleh penyiar wanita. Popy mengernyitkan dahi, menatap kekasihnya—merasa ada yang aneh.
Mobil mulai melaju, pelan-pelan namun pasti kemacetan mulai terurai. Popy masih terus mendengarkan berita di radio, Popy memerhatikan air muka kekasihnya, tidak ada sedikit pun keanehan yang terlihat saat mendengar berita yang dibacakan penyiar wanita yang cukup terkenal itu. Mobil mulai memasuki daerah pusat kota, banyak orang dengan pakaian putih – putih berjalan di pinggiran, pria dan wanita menjadi satu, banyak yang membawa papan bertuliskan penolakan. Popy semakin merasa aneh.
“Ini ada apa sih?”
“Lanjutan demo minggu kemarin, beritanya baru aja kamu denger di radio.”
“Ha? Demo apa?
“Itu loh… Pak Gubernur yang salah ngomong.”
“Ini tanggal berapa sih?” tanya Popy melihat ponselnya—membuka kunci namun tidak bisa. Ponselnya mati, Popy melihat jam di tangan kanan kekasihnya—Popy sedikit kaget, bertanya-tanya.