Mara membuka mata, dari atas kasur lusuh kosnya langit masih gelap. Lampu tidur berwarna biru gelap itu sedikit memberikan cahaya, membuat barang-barang di sekitarnya terlihat samar-samar. Mara masih belum bangkit, sekujur tubuhnya terasa pegal. Kedua kakinya bahkan sulit digerakkan sekalipun jemarinya. Mara berulang kali berkedip untuk menghilangkan sisa-sisa kantuk.
Di kamar kos ukuran tiga kali tiga itu Mara tinggal seorang diri, kasurnya tidak terlalu banyak memakan tempat. Ada sebuah lemari kecil tempat Mara menyimpain pakaiannya, di samping lemari ada sebuah dispenser dengan galon yang airnya sisa setengah. Ada laptop yang masih menyala di atas sebuah meja kecil, Mara berulang kali melihatnya, mencoba fokus dan membaca apa yang terdapat di sana. Mara berusaha meraih layar laptop untuk menutupnya, terangnya layar sedikit mengganggu mata.
Mara masih di atas kasur saat berhasil menutup layar laptopnya, posisinya telungkup, setengah badannya menyentuh dinginnya lantai kamar kos itu. Mara mengatur napasnya, mengambil bantal lalu meletakkannya tepat di bawah muka, mencium harum aroma sarung bantal biru bercorak awan. Beberapa menit masih dalam posisi yang sama, suara nyaring terdengar dua kali, pukulan antara sebuah tongkat besi dan tiang listrik. Sekejap Mara menangkap tanda itu—sudah pukul dua dini hari.
Sekali lagi Mara berusaha bangkit, Mara merasakan kaki kanannya seperti ditusuk oleh jarum, rasanya seperti baru selesai lari setelah sekian lama tidak olahraga. Ototnya memberontak, seperti menyuruh Mara untuk kembali tidur—istirahat. Mara berhasil duduk, bersandar pada tembok dan kakinya selonjor menghadap laptop. Mara bisa melihat dirinya dari pantulan cermin lemari di sisi kanan. Lemari cokelat yang banyak dijual di pinggir jalan-jalan Kota Jogja.
Lalu Mara mengambil bantal, menaruhnya di punggung untuk bersandar, napas panjang keluar saat punggung penuh luka itu menyentuh bantal favoritnya. Satu-satunya bantal di kamar kos itu. Mara masih bisa merasakan luka-luka di punggungnya. Perjalanan ruang dan waktu tidak serta merta menghapus jejak-jejak yang sudah dibuat. Mara tidak dapat menghitung pasti berapa lama perjalanan itu.
Mata Mara tertuju pada lampu tidur, nyalanya meneduhkan. Mara memang tipe orang yang tidak terbiasa tidur di ruangan yang terang, dia lebih suka keadaan ruang yang gelap atau remang-remang untuk memudahkannya tidur. Nyala lampu berpendar ke berbagai arah, langit-langit ruangan itu jadi tampak indah, warna biru gelap bercampur warna putih dan kuning tua—warna dinding kamar kos.
Mara ingat rutinitas paginya, sholat malam. Tiba-tiba tubuhnya bergerak leluasa seperti ada yang memberikan kekuatan seketika. Mara berdiri, mematikan lampu tidur lalu menyalakan lampu utama yang nyalanya putih terang. Kamarnya cukup rapi, berbeda dengan kebanyakkan kamar kos teman-temannya yang seperti kapal pecah. Mara membuka pintunya, memutar kunci yang dibiarkan tertancap pada gagang pintu.
Angin pagi berhembus seketika, menyentuh seluruh tubuh Mara persis setelah pintu terbuka. Kicau burung menghiasi langit, pepohonan rimbun saling bergesekkan, angin pagi itu normal, seperti biasanya. Persis di samping kamar kos Mara ada sebuah garasi kecil tempat para penghuni kos memarkirkan motor atau sepedanya. Di sisi lain ada sembilan kamar kos yang berjejeran. Mara berjalan sekitar sepuluh langkah menuju keran yang ada di depan kamar nomor enam.
Kos-kosan itu dipisahkan oleh dinding yang memanjang sedada orang dewasa, di belakang dinding ada sebuah sungai yang mengalir tenang. Mara dapat melihat sungai itu saat mengambil air wudhu. Semalam hujan turun, terlihat dari warna jalanan yang berubah gelap, dan sisa-sisa air hujan juga aroma tanah yang menusuk hingga hidung.
Saat Mara hendak selesai menagmbil wudhu ada angin yang menyentuh lembut leher Mara, lewat sekelebat membuat bulu kuduknya berdiri. Mara membasuh kakinya, sungai terlihat, pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi saling bergesekkan. Jantung Mara berdebar kencang melihat seseorang di seberang sungai sedang fokus menatapnya, Mara membasuh matanya, melihatnya sekali lagi—sosok itu hilang. Matanya menyapu seluruh seberang sungai. Bulu kuduknya tidak berhenti berdiri. Buru-buru Mara kembali menuju kamarnya.
Mara mencoba mengatur napas dan debar jantungnya, berulang kali mengambil napas panjang dan membuangnya. Lalu mencari sarung dan memakainya, menggelar sajadah merah bergambar masjid dengan jahitan warna putih. Mara mencoba khusyuk, berulang kali masih terus memikirkan sosok itu. Mencoba mengingat wajahnya, Mara seperti tidak asing—rasanya pernah bertemu. Ada yang mencolok, warna putih di lehernya mengingatkan sesuatu. Sampai masuk pada rakaat terakhir, Mara mulai tenang dan tidak terpikirkan lagi. Doa-doa lancar keluar dari bibirnya, di akhir surat An-Nas Mara mendengar suara ketukan pintu tepat di depannya. Matanya melotot—fokusnya buyar.
Suara ketukan pintu terdengar berulang kali, Mara berusaha menyelesaikan sholat malamnya dengan jantung yang berdebar keras. Pikiran dipenuhi hal-hal aneh, sekelebat di dalam otaknya Mara berpikir tentang efek dari perjalanan ruang dan waktu. Sampai Mara mengucapkan salam di akhir sholatnya suara ketukan pintu masih terdengar, kali ini dengan jeda yang cukup lama. Mara duduk dan belum mengubah posisinya, menunggu ketukan—menatap pintu.
Suara itu makin lama makin kencang, Mara membereskan sajadahnya dan melepas sarung, jendela di samping pintu juga ikut diketuk, Mara tidak bisa melihat keluar karena tirai yang menutupi. Mara mencari ponselnya, jantung berpacu dengan ketukan itu. Mara makin cemas, ponsel belum juga ia temukan.
Suara ketukan pintu berhenti, Mara menatap pintu kosnya, berhenti mencari ponsel—penasaran kenapa suara itu berhenti. Mara mengendap mengintip melalui celah tirai, melihat ke kanan dan kiri, menyapu seluruh pandangan, tidak ada siapa pun di sana. Lalu Mara kembali mencari ponselnya, di atas meja, di atas galon, di bawah bantal. Sampai ia menyadari ponsel ada di saku kanan celananya. Mara mengambil ponsel itu.
Jam di ponsel Mara menunjukkan waktu yang tidak sesuai dengan warna langit. Dahi Mara mengerut melihat tanggal yang berbeda, buru-buru matanya tertuju pada kalender di salah satu sisi dinding. April 2018. Mara terkaget, sebelum menempuh perjalanan waktu, Hilya sudah mengatur untuk membawa semuanya ke lima tahun sebelum perang, itu artinya Mara terlalu awal tiba. Butuh enam tahun lagi sampai perang dunia ketiga terjadi.
Mara menyadari sesuatu, melihat sekelilingnya merasa aneh. Bulan April tahun 2018 seharusnya Mara tidak sedang berada di kosnya. Mara memejamkan mata, berusaha menggunakan giftnya untuk melihat kejadian-kejadian saat Mara dan yang lain melakukan perjalanan ke masa lalu. Terus berusaha hingga mausk ke ruang putih. Mara tidak berhasil melihatnya, hanya cahaya putih yang sanggup ia tangkap. Mara masih terus berusaha, dahinya mengerut, matanya terpejam semakin dalam.
Fokus Mara buyar, ketukan pintu keras terdengar lagi, Mara membuka mata melihat pintu yang bergetar hebat, ketukan pintu semkin keras dan kencang, jantung Mara ikut berpacu, semakin cepat suara-suara itu menyatu, sampai Mara tidak mampu membedakan suara-suara yang masuk telinganya, gagang pintu bergerak, ada yang berusaha membuka. Suara ketukan pintu makin banyak, seperti lebih dari satu orang yang melakukan. Mara melihat pintu yang sudah tidak kuat menahan, langkahnya ciut, Mara mundur perlahan menuju dinding sisi belakang. Matanya melotot, dengan cepat pintu terbuka, membentur dinding—suaranya keras terdengar.
Mara membuka mata, tidak ada siapa-siapa, hanya angin kencang yang masuk kamar Mara. Ia perlahan mendekat, memegang daun pintu yang masih bergerak akibat sapuan angin. Langkah Mara terhenti pada bibir pintu, ia melihat sekeliling, ke kanan dan kiri. Tidak ada siapa-siapa, Mara mendengar kicauan burung dan gesekkan pepohonan. Mara menyapu seluruh tempat sekali lagi. Memastikan tidak ada siapa-siapa lalu menutup pintu—menguncinya.
Mara membelakangi pintu, mengatur napas dan debar jantung. Melihat jam dinding di depannya, hampir pukul tiga pagi. Jantung mulai terkendali, Mara mulai tenang masih berdiri dan mengatur napas. Menunggu beberapa detik, tiba-tiba dengan cepat pintu terbuka kencang suaranya memekikkan telinga, Mara kaget, belum sempat menoleh segerombolan orang menabraknya dari belakang, Mara terjatuh—tidak sadarkan diri.
Mara membuka mata, di depannya cahaya matahari menyinari tirai putih yang menutupi jendela. Mara tidur miring dengan selimut putih yang menutupi tubuhnya, kepalanya tertumpu pada bantal, di depannya ada meja nakas dan lampu tidur yang masih meyala—kuning gelap. Mara bingung, memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ia mengedipkan mata berulang kali, menoleh ke belakang. Seorang wanita berada dalam selimut yang sama, tidur membelakanginya.
Wanita itu tidak mengenakan baju dan bra, Mara bisa melihat kulit wanita itu. Kemudian Mara tersadar, ia tidak mengenakan baju. Hanya celana pendek di atas lutut yang ia pakai. Mara bisa melihat jam dinding yang terpasang di atas pintu. Pukul tujuh pagi, ruangan itu serba putih dan cukup luas dengan perabotan serba kayu. Mulai dari kursi hingga lemari. Mara berusaha melihat siapa wanita yang tidur satu ranjang dengannya.
Mara sedikit mengangkat tubuhnya, melihat wanita itu semakin jelas. Ia mengenalnya, matanya menyipit, dahinya mengerut.
“Hilya?” Mara bangkit—duduk di atas kasur.
Mendengar suara yang juga tidak asing, Hilya berpaling—menoleh, menatap Mara—masih menutup tubuh hingga ke dada dengan selimut putih.
“Kamu?” Hilya kebingungan.
“Kok ada di sini?” Hilya menambahi, melihat sekeliling—memastikan.
“Loh aku juga gak tahu, tiba-tiba aja di sini. Padahal tadi kayayknya…” balasan Mara menggantung. Hilya mengambil kaos putih v-neck di sampingnya lalu memakainya—masih berusaha menutup tubuhnya dengan selimut.
“Aku merasa udah balik ke kosanku tadi, aku juga bingung kok malah di sini.”
“Bentar-bentar. Gimana sih? Gak paham.”
“Iya… Aku tuh tadi gak di sini, aku di kosanku…”
“Terus?” tanya Hilya meneruskan kebingungan Mara.