Saka berhenti menulis dengan ujung spidol hitam yang masih menempel papan tulis, keramaian ruang kelas merasuki pikirannya, suara-suara itu berubah jadi alunan nada yang indah. Ruang kelas itu penuh sesak, tidak ada satu pun mahasiswa yang absen. Semua bangku terisi, Saka menoleh—tersenyum melihat semua mahasiswanya. Spidol hitam ditutup, Saka berdiri di depan kelas, suara-suara berisik berangsur menghilang. Kelas kembali sunyi, bahkan suara hembusan angin dari pendingin udara bisa didengar. Saka memasukkan spidol hitam ke saku celananya, lalu melipat kedua tangan di dada—matanya menyapu seluruh ruangan.
“Tanggal berapa ini?” tanya Saka memecah keheningan.
“Tiga Maret,” hampir semua mahasiswa mengucapkannya bersamaan.
“Tahun?” Saka penasaran.
“2020,” kata seorang mahasiswa setelah sisa-sisa suara sebelumnya habis. Saka sedikit tercekat, namun ia sudah menyadari sebelum perjalanan itu, bahwa ada kemungkinan dirinya salah mendarat. Saka menunduk, melihat sepatu cokelatnya yang mengkilap—berpikir keras.
“Kenapa, Pak?” kata seorang mahasiswa.
“Oh enggak…” Saka membalas cepat. Menatap semua mahasiswanya sekali lagi, ruang kelas itu berundak, Saka berada di lantai bawah. Seperti sebuah ruangan untuk melihat pertunjukan teater atau pertandingan olahraga. Dengan bangku-bangku mahasiswa yang hampir membentuk setengah lingkaran. Ruangan itu berwarna putih dengan ornamen kayu dan warna cokelat muda yang menghiasi undakan, bangku dan langit-langit ruangan.
“Yaudah, ini dicatat dulu…” Saka menuju tempat duduknya.
“Mau catat apa, Pak? Papan tulisnya kosong,” kata seorang mahasiswa yang duduk di depan, diikuti suara keributan yang random. Saka melihat papan tulis kosong itu, merasa bingung—berulang kali berpaling—melihat papan tulis dan mahasiswanya. Lalu Saka melihat arloji di tangan kanannya. Hampir pukul dua belas.
“Saya belum nulis apa-apa?” suara Saka menggantung.
“Belum.”
“Terus dari tadi?” gesture tubuhnya terlihat semakin bingung.
“Cuma diem, mondar-mandir aja, Pak… Sesekali angkat telpon,” salah seorang mahasiswi dengan setelan blus putih yang lengannya ditekuk hingga ke siku.
“Selama dua jam ini?”
“Yaaa,” angguk seluruh mahasiswa.
“Terus kalian?” tanya Saka, diikuti keheningan. Kontak mata terjadi di antara Saka dan beberapa mahasiswa. Ada yang aneh, pikir Saka. Suhu ruangan itu cukup dingin, setidaknya untuk Saka yang beberapa kali mengusap kedua lengannya, semua mahasiswa yang hadir mengikuti gerak Saka yang mulai mondar-mandir tidak sadar.
“Ohiya… 2019? Siapa yang terpilih?” Tanya Saka memecahkan kebingungan di dalam kelas, ia menatap mahasiswanya bergantian. Tidak ada yang menjawab, beberapa dari mereka menunduk—yang lainnya terus melihat Saka. Suara-suara tidak berbentuk menghiasi ruangan itu, acak. Saka hampir tidak bisa mendengar suara yang membentuk sebuah kata.
“Kenapa kalian diam?”