Dhanurveda II

Zahid Paningrome
Chapter #4

Ruang Mimpi

Mimpi adalah dunia yang berdiri sendiri. Dia adalah dunia yang berbeda, tapi dianggap sama bagi sebagian orang. Mimpi mempunyai ruang dan waktu yang serupa—tapi tidak sama. Mimpi bisa memberikanmu narasi soal hidup orang lain atau dirimu sendiri di tempat, waktu, dan keadaan yang berbeda. Mimpi bisa menjadi isyarat dan firasat. Isyarat untuk orang lain, firasat untuk diri sendiri atau sebaliknya. 

Kita pernah memimpikan orang yang bahkan tidak kita kenal—belum pernah kita temui. Tapi kita merasa tidak asing dengan sosok itu. Ada yang bilang terjadinya mimpi karena kita terlalu keras memikirkan sesuatu, yang terkait dalam mimpi kita. Tapi kita pasti pernah memimpikan seseorang yang tidak pernah terpikirkan sama sekali, entah teman atau seorang kenalan. Tiba-tiba ia hadir dalam mimpimu, meski semalam—sebelum tidur kamu bahkan tidak terpikirkan sosoknya.

Mimpi bisa mengalami ketidak-teraturan, biasanya dialami oleh orang-orang normal. Mereka mengaku tidak mampu dengan jelas mengingat mimpi secara utuh atau tidak sanggup melihat siapa yang berada dalam mimpi malamnya. Kaum The Gift mampu memanipulasi ketidak-teraturan itu. Dalam kecenderungan yang ada di dalam sebuah mimpi, biasanya mereka mengendalikan hanya dengan pikiran. Mereka mampu memilih—antara menghentikan, melanjutkan atau menggantinya dengan mimpi lain.

Dalam konsep tata ruang mimpi, hanya orang-orang terpilih yang sanggup menembus hingga tingkat ketiga—tingkatan mimpi paling akhir. Biasanya mereka yang masuk dalam ranah itu, bisa merasakan mimpi di dalam mimpinya sendiri. Konsep tata ruang mimpi ketiga ini sanggup membuat orang masuk ke dalam tatanan tiga ruang mimpi yang lebih dalam. Dan untuk masuk ke sana, seorang dengan kemampuan The Gift pun belum tentu bisa kembali. Mereka akan terjebak di dalam mimpinya sendiri atau bahkan di dalam mimpi orang lain.

Di kehidupan nyata, orang itu akan mengalami tidur panjang. Ia akan dikira mati padahal jantungnya masih berdetak dan ia masih bisa bernapas. Seluruh organ tubuhnya masih berjalan dengan baik. Tidur panjang yang entah sampai kapan, tidak ada yang sanggup membangunkan bahkan dengan pukulan seorang petinju juara dunia. Ia hanya bisa dibangunkan oleh orang lain yang mampu masuk ke tatanan ketiga mimpi—itu pun dengan catatan orang itu mampu mencari seseorang yang harus diselamatkan di dalam dunia mimpi yang mempunyai banyak percabangan ruang—seperti pohon cemara yang rindang.

Dalam tatanan ruang mimpi kedua, seseorang akan mengalami loncatan mimpi. Ia merasa sudah terbangun dari mimpinya, padahal itu masih bagian dari mimpinya sendiri. Apa yang dialami Mara adalah hal yang tidak terduga, ia berada dalam tata ruang kedua namun dalam posisi dan keadaan terbangun di tempat berbeda. Hanya ada dua kemungkinan dari kejadian itu—seorang yang benar-benar ahli. Yang mampu meretas mimpi atau meretas waktu.

Mimpi bisa memengaruhi kehidupan normal yang terjadi saat ini, kemungkinan itu bisa terjadi jika ada seseorang yang dengan sengaja meretas mimpi dan membelokkannya pada tatanan ruang yang lain. Orang-orang ini disebut peretas, ia mampu memanipulasi waktu. Dari mengubahnya, memundurkan keterangan waktu dan memajukannya hingga entah ke masa apa—di tahun berapa. 

Lihat selengkapnya