Jalanan seketika ramai, dipenuhi para pengendara roda dua yang sibuk mengabadikan kejadian lewat ponselnya. Sebuah tabrakan baru saja terjadi, sebuah mobil ringsek dan dua orang di dalamnya masih juga tidak sadarkan diri. Api masih menyala pada bagian depan mobil. Orang-orang sibuk membuat video, saling bertanya apa yang sedang terjadi, padahal di depan matanya terpampang jelas—ada dua manusia yang perlu diselamatkan.
Mobil itu ditabrak sebuah truk, sopir truk melarikan diri meninggalkan tempat kejadian. Tidak ada yang mengejar, orang-orang tidak menyadarinya. Popy dan kekasihnya masih mengenakan sabuk pengaman, seorang pria mencoba membuka pintu namun terus saja gagal. Kemudian datang lagi seorang bapak yang membantu membuka pintu, namun tetap saja gagal.
Beberapa dari orang yang menonton berteriak untuk memanggil ambulan, terus berteriak—padahal ia bisa menelpon daripada sekadar bersuara lantang yang memekikkan telinga. Dua orang yang mencoba membuka pintu mencoba mencari batu untuk memecahkan kaca, mereka tidak menemukan batu di sekitar. Dengan keringat yang mulai mengucur di kening, mereka terus memutar otak untuk mengeluarkan Popy dan kekasihnya.
Jalanan mulai macet, suara-suara klakson keras terdengar dari seluruh penjuru, masih tidak ada yang mampu membuka pintu mobil. Orang-orang masih menjadi penonton setia dengan ponselnya di tangan kanan—merekam seluruh kejadian. Laman facebook dan Instagram mulai ramai, bahkan ada yang mengunggah kejadian itu live. Dua orang tadi berdiskusi, akhirnya mereka memutuskan untuk menelpon ambulan.
Lalu dua pria itu mundur, setelah memastikan akan ada ambulan yang datang. Mereka berdua duduk bersila tidak jauh dari ringseknya mobil, nyala api masih sama—tidak ada yang berusaha untuk memadamkannya. Dua pria itu beristirahat sembari meminum air mineral dingin, sekejap di sekitar kejadian banyak pedagang yang menjual dagangannya, ada yang menjual es teh, pisang rebus, dan kacang. Dan sialnya ada yang membeli.
Menunggu hampir setengah jam, orang-orang berangsur mulai pergi, nyala api mulai padam, seorang pria menyiramkannya dengan air mineral yang baru saja ia minum. Tidak ada pergerakkan di dalam mobil. Dua pria yang tadi menolong sudah pergi entah ke mana. Hanya tinggal beberapa orang yang mengelilingi mobil itu, mereka saling membicarakan tentang kecelakaan itu. Ada yang membahas warna mobil, kecantikan paras Popy, ada yang dengan merokok—menyembulkan asap ke langit-langit, seperti tidak terjadi apa-apa.
Orang-orang sakit, yang angkuh dan tidak lagi bisa peduli—tanpa sadar hidup mereka telah diambil oleh sebuah teknologi pintar bernama ponsel. Mereka melacurkan diri pada sebuah barang yang bahkan tidak lebih besar dari sebuah buku. Kesenangan mereka adalah kebahagiaan semu, yang tidak hidup seperti nyawa pada seorang manusia. Mereka bahagia karena hal-hal imitasi—barang-barang yang tidak hidup. Mereka tidak tahu kalau dirinya tidak tahu.
Suara ambulan mulai terdengar dari kejauhan, orang-orang yang masih bertahan ramai-ramai melihat—dari arah datangnya ambulan kemacetan panjang masih bertahan, tidak ada yang membuka jalan untuk ambulan itu, suara sirine dan klakson makin keras terdengar, beberapa orang mulai meminggirkan mobilnya. Ambulan itu pelan-pelan melewati deretan mobil di kanan dan kirinya. Tetap saja, masih ada yang merekam kedatangan ambulan itu, sembari berujar tentang lamanya mobil itu tiba.
Ambulan berhenti tidak jauh dari ringseknya mobil, petugas langsung bergegas melakukan tugasnya, orang-orang di sekitar terperangah melihat cepatnya pergerakan para petugas dengan seragam warna putih, ada yang menyiapkan tandu, ada yang memecahkan kaca dengan palu. Mereka memotong sabuk pengaman dengan sebuah pisau khusus yang sangat tajam. Tidak lebih dari sepuluh menit, mereka telah selesai melakukan tugasnya—salah seorang petugas menelpon polisi untuk datang ke TKP, lalu mereka pergi—dengan sirine yang meraung-raung.
Popy terheran melihat semuanya, ia merasa aneh. Dulu orang-orang tidak seperti ini, kepedulian orang masih terjaga dengan baik sebelum ia melalui batas ruang dan waktu. Ia menyadari keterlambatannya mendarat, ia berdiri di antara kerumunan orang-orang. Tidak ada yang menyadari wujudnya, Popy merasa bingung kenapa orang-orang sibuk dengan benda mati yang ada di tangannya. Ia melihat manusia tapi tidak dengan kemanusiaan. Dengan kecelakaan itu, Popy kehilangan satu visinya.
Popy masih tertahan di jalanan itu, melihat orang-orang berangsur pergi, dengan kendaraannya, ada yang berjalan kaki, jalanan berubah—banyak sampah yang tersebar di segala penjuru. Kemacetan mulai terurai saat polisi tiba di tempat kejadian, mereka memasang garis kuning tanda tidak ada yang boleh melewati. Mencatat segala yang terlihat, dan melakukan olah tempat kejadian perkara. Membuat garis putih mengelilingi mobil yang ringsek. Popy melihat itu dengan kesunyian yang masuk hingga ke telinganya.
“Kamu perlu mengejar ambulan itu,” visi Popy yang lain muncul, mereka seperti sepasang anak kembar yang tidak dapat dibedakan dalam sekejap pandangan.
“Kenapa kamu di sini?”
“Tubuhmu rentan, sangat berbahaya… Siapa pun bisa menyerangmu. Aku bisa dengan leluasa keluar dari tubuhmu tanpa kau suruh—seperti biasanya. Tubuhmu melemah… Kamu harus mengejar ambulan itu, bergabung dengan tubuh aslimu.”
“Aku mengerti.”
“Cari sopir itu, dia melarikan diri tepat setelah menabrak kita. Pergerakkannya cepat sekali, aku hampir tidak bisa melihat wajahnya… Tapi sedikitnya aku ingat, ada tahi lalat di bawah mata kanannya. Kau bisa dengan mudah menemukan orang itu.”
“Aku curiga…” suara Popy tertahan.
“Kenapa?”
“Aku curiga… Truk itu datang dari arah yang berlawanan, seingatku dia tiba-tiba membelokkan truknya. Menabrak sisi kanan mobil… Ada kesengajaan.”
“Seyakin apa?”
“Seratus persen… Mungkin karena kita melakukan perjalanan waktu. Kita harus mencari sebabnya, siapa mereka, dan mau apa.”
“Oke, jangan menunda… Mari kita cari tahu,” visi Popy bergabung, seperti bayangan yang disatukan. Popy mengejar ambulan itu, visinya yang lain ikut bergabung—mereka sepenuhnya rentan tanpa induknya. Mereka harus cepat memasuki tubuh Popy sebelum ia dinyatakan mati.
Karena kematian adalah hal yang tidak mampu dijangkau para Gift. Kematian adalah dunia lain, ia mengelilingi di jaringan paling luar pada setiap sub kehidupan. Seperti sebuah obat nyamuk, kematian adalah lingkar pertama, sebelum masuk pada lingkar inti. Ia tidak berdiri sendiri, kematian menumpang pada lingkar sub kehidupan. Dia tidak menciptakan dimensi, siapa pun yang sampai di sana, tidak akan punya kehidupan lagi—mustahil.
-----
Mara ada di sebuah kota, ia terperangah di sepanjang jalan. Sebuah kota tua dengan deretan bangunan di kiri dan kanan, bangunan-bangunan itu menyerupai bangunan pada zaman koboi dengan kayu sebagai bahan utama pembuatannya. Mara berjalan pelan, melihat ke segala penjuru, aktivitas yang tidak biasa ia lihat. Keramaian itu tertata, tidak terlihat sesak. Mara melihat sepatu kulitnya—jalanannya masih berupa pasir cokelat yang halus. Ia mengernyitkan dahi, bertanya dalam hati, sedang berada di mana saat ini.
Mara mencoba bangun dari mimpinya, kesadaran itu muncul saat melihat tatanan yang rapi, yang hanya bisa terjadi pada ruang mimpi. Mara merasa ia tidak sedang berada di kehidupan nyata. Tatanan mimpi yang sangat teratur itu hanya bisa dilakukan oleh kaum The Gift, semua gerakan di dalam mimpi itu seperti sudah diatur oleh seorang arsitek mimpi.
Orang-orang di dalam mimpi serba beragam, pakaian-pakaian itu terlihat nyentrik, mobil-mobil lama berlalu-lalang menghiasi jalanan kota. Sekelompok anak bermain bola dengan gawang kecil sebagai target tembakan. Ibu-ibu yang membawa sebuah keranjang cokelat di atas kepalanya tampak riang dan selalu tersenyum. Para pria bermain judi, ada yang berjudi dengan menembak, ada yang mengadu kecepatan kuda. Ada juga para pria yang berlomba-lomba menghabiskan beer di sebuah gelas kaca yang sangat besar.
Mara ditemani oleh seorang wanita dengan kuas lukis di tangan kanannya. Wanita itu mengenakan brokat putih dengan slayer hitam polos yang mengelilingi lehernya. Wanita itu juga mengenakan topi lebar khas kerajaan berwarna silver gelap dengan pita merah di salah satu sisinya. Ia berjalan di belakang Mara, di tangannya ada sebuah kanvas yang belum tersentuh cat—putih bersih.
Langkah Mara terhenti pada ujung kota, sebuah padang pasir terbentang jauh, Mara menyapu seluruh pandangan yang ada di depannya, dari tempatnya berdiri ia bisa melihat pegunungan diujung padang pasir. Pegunungan itu hampir mengelilingi padang pasir yang tandus dan kering. Mara berbalik, melihat wanita di belakangnya—baru menyadari dan sedikit kebingungan. Ia melihat wanita itu dari ujung kaki hingga kepala. Mara terkaget melihat wajah wanita itu rata—tidak ada mata, hidung, mulut, alis. Wajah wanita itu kuning langsat. Mara berusaha berhenti memandang namun rasa penasaran membuatnya tak tahan.