Saka masih tergeletak, ruangan itu sepi, tak lagi ada orang. Ia masih berusaha untuk bertahan dari rasa sakit yang sudah mencapai kedalaman tubuhnya. Seorang Gift mempunyai pertahanan ganda, pertahanan itu hanya aktif saat pemiliknya mengalami saat-saat kritis. Ia akan otomatis aktif. Muka Saka sepenuhnya memerah, darah tertahan untuk mengaliri otak dan seluruh tubuh lainnya. Jemarinya masih sanggup bergerak, Saka mencoba mengetuk kursi dengan jemarinya untuk menciptakan suara—namun tidak ada yang mendengar. Suara itu terlalu kecil.
Jalanan cukup lengang, hanya ada beberapa mobil dan kendaraan roda dua yang berlalu-lalang, langkah Popy sangat cepat, tidak seperti kebanyakan manusia lainnya. Di dalam tubuhnya sembilan visinya aktif, membantu Popy yang hendak menyusul tubuh inangnya. Tidak ada yang bisa melihat Popy, visi itu menyamarkan dirinya menyerupai angin. Orang-orang hanya akan melihat pemandangan sekitar yang memang sudah ada—tidak menyadari. Satu langkah Popy sama dengan lebar sebuah mobil. Ia hampir menyusul ambulans yang suara sirinenya meraung-raung.
Hanya tinggal beberapa langkah lagi Popy bisa meraih gagang pintu ambulans, mobil itu melalui jalanan yang lengang dengan sangat cepat, beberapa mobil di depannya langsung meminggirkan mobil untuk memberi jalan. Saat tangan Popy hendak meraih gagang pintu ia tertahan, ada yang memukul tangannya dari samping—sangat keras, membuatnya jatuh tersungkur, ia memegangi lengannya, merasakan kesakitan yang sangat hebat.
Ambulans berjalan semakin jauh suara sirine makin tidak terdengar. Popy melemah, visinya sempat terbelah ke segala arah, ia mencari sumber pukulan itu—melihat ke segala arah. Tidak mungkin manusia biasa, pikir Popy. Ia bahkan tidak terlihat oleh manusia tanpa kemampuan khusus. Beberapa detik setelahnya Popy tetap tidak menemukan sumber pukulan itu, visinya perlahan kembali menyatu. Tiba-tiba suara angin keras terdengar menyentuh daun telinga. Popy bangkit setelah semua visinya menyatu dengan sempurna.
Popy menoleh mendengar seseorang memanggil namanya, tidak ada siapa pun di sana. Popy berpaling seketika ia menerima sebuah pukulan yang sangat keras—ia tidak meihat ada siapa pun. Pukulan itu mendorong wajahnya, membuat tubuhnya hampir terlempar. Sembari menahan kesakitan Popy terus mencari sumber pukulan itu, berulang kali menyapu seluruh pandangan di depannya, sekali lagi ia tidak menemukan apa-apa. Ada masalah besar yang mungkin akan ia hadapi, pikirannya meronta dalam kepala.
Popy bangkit, raut wajahnya berubah, ia tidak bisa merasakan hembusan angin. Popy mengernyitkan dahi, tiba-tiba semua mobil di depannya berhenti, dunia sesaat terhenti, seperti sebuah lagu yang dijeda. Popy mulai kesulitan bernapas, ia memegangi lehernya—berusaha mengambil napas panjang. Tidak satu oksigen pun masuk ke dalam tubuhnya. Visi-visi itu terbelah, mereka jatuh tersungkur. Tubuh mereka mulai terlihat, tidak lagi menyatu dengan angin. Muka mereka mulai memerah—persis apa yang dialami Saka.
Visi Popy melihat seseorang menampakkan diri, dari yang menyerupai angin menjadi seorang wanita utuh, rambutnya panjang terurai dengan simbol dua titik di antara kedua matanya. Ia pelang-pelan mendekati Popy.
“Bagaiamana rasanya? Menyenangkan bukan?” wanita itu menghadapi Popy yang masih tersungkur memegang lehernya.
“Siapa kamu?” tanya Popy terbata.
“Teman Saka dari 2020.”
“Saka? 2020?” tanya Popy, suaranya tertahan—napasnya hampir habis. Visinya tidak mampu lagi membantu, mereka kembali menyatu. Satu-satunya cara untuk tidak kehilangan visi adalah menyatukan mereka—menjadi satu kekuatan utuh. Jika mereka terpecah-belah mudah untuk mengalahkan satu per satu.
“Kalian ini menyusahkan kami, sudah bertahun-tahun tidak ada perjalanan waktu, akhirnya kami punya tugas juga… Tapi sayangnya kalian datang di saat yang tidak tepat, ini masa hibernasi kami, dan kalian membuat semuanya marah,” Dina memegang pundak Popy—memberi waktu sebelum tubuh Popy sepenuhnya melemah.
“Kalian sudah cukup merusak tatanan yang kami bangun sejak lama,” Dina menghembuskan napas panjang.
“Kalian orang-orang berani, membawa banyak orang untuk kembali ke masa ini,” Dina menambahi.
“Who are you?” tanya Popy, sentuhan Dina di pundaknya sedikit membantunya bernapas, ia masih terengah-engah setelah kehabisan napas. Popy tidak bisa menatap wajah Dina, ada yang menahan kepalanya untuk terus menatap aspal jalanan.
“Namaku Dina… Cukup untuk menjawab pertanyaanmu,” Dina memainkan sentuhan tangannya—membuat Popy kesulitan bernapas.
Popy tersenyum, Dina bertanya-tanya dari mana asal senyum itu. Popy terus mengajaknya berbicara—mengalihkan perhatiannya. Popy melihat ambulans yang membawa tubuhnya kembali tanpa suara sirine yang meraung-raung. Dengan kecepatan tinggi ambulans itu membunyikan klakson membuat Dina menoleh, dan menabrak Dina seketika, membuatnya jatuh tersungkur. Popy kembali menyatu dengan angin, suara-suara kembali terdengar. Semua benda bergerak seperti semula.
Seseorang membuka pintu belakang mobil. Popy kembali menampakkan tubuhnya, melihat pintu mobil yang terbuka—ia merasakan dunia menjadi slowmotion, seseorang menolongnya di saat yang tepat. Ia tersenyum melihat Mara dengan senyum yang mengembang berada di balik pintu itu. Popy buru-buru memeluk Mara, menciumi pundak Mara yang hangat dan harum. Popy mendengar pintu kemudi terbuka, ia melepas pelukan dan melihatnya. Hilya dengan rambut terkuncir turun dari mobil, tersenyum menatap Popy lalu memeluknya.
“Kok bisa di sini?” tanya Popy.