Di atas ranjang Hilya dan Mara duduk bersila, mereka masih tercengang, Hilya dengan napas yang putus-putus dan Mara yang memegang keningnya—merasakan pusing yang sangat. Sekilas ia bisa melihat kekuatan Dina meski ada dinding pemisah antara dimensi ruang Hilya dan dirinya, ada keserasian yang coba ia gabungkan namun hanya bisa dilakukan jika ada seorang kemampuan gift pembelah visi seperti Popy.
“Terus Popy gimana?” Hilya panik.”
“Jangan khawatir,” Mara bangkit, ia menjauh dari ranjangnya—berdiri tepat di depan pandangan Hilya. Mara memejamkan mata, kedua tangannya pelan-pelan terangkat, menggantung setengah, ia menghembuskan napas panjang berulang kali. Hilya menanyakan hal itu namun Mara tidak menjawabnya—ia tidak mendengar, titik fokusnya berlipat ganda pada pusat pikiran.
Mara semakin fokus, ia menatap langit-langit kamar, sebuah turbulensi datang dari dalam tubuhnya, goncangan atmosfer terasa bergetar hingga ke seluruh ruangan, Hilya berpegang erat pada sprai ranjang. Goncangan itu makin keras, barang-barang di atas meja jatuh, beberapa gelas pecah membentur lantai. Tubuh Mara terangkat, sebuah bayangan keluar dari tubuhnya—Hilya terperangah.
Bayangan itu pelan-pelan tampak, goncangan mulai mereda, bayangan itu menapaki tanah bersamaan dengan Mara yang tersadar, goncangan itu benar-benar berhenti saat Hilya berdesis melihat Popy berdiri di samping Mara. Ia bangkit menghampiri.
“Popy…” Hilya memeluk Popy.
“Kok bisa?” tanya Hilya melepas pelukannya. Popy memegang keningnya—merasa pusing, Mara menuntunnya untuk duduk di ujung ranjang. Butuh beberapa detik bagi Popy menghilangkan rasa pusingnya. Mara mengambil sebuah cincin dari atas meja nakas. Ia menempelkannya pada mata kanan Popy. Cincin itu memantulkan sebuah sinar yang mengelilinginya saat menempel pada mata Popy.
“Apa itu, Mar?” tanya Hilya penasaran.
“Aku perlu tahu, ini Popy asli atau bukan, kadang kita ketipu mengira ini Popy padahal salah satu visinya,” Mara melepas cincin itu—memakainya di jari manis.
“Oke ini Popy… Tinggal tunggu sadar aja.”
“Dia ada di tubuhmu? Gimana ceritanya?”
“Aku sempat lihat perempuan itu, yang sebetulnya gak mungkin bisa aku lihat. Rasanya ada yang masuk ke tubuhku, mungkin itu Popy, waktu kamu berhadapan sama perempuan itu aku menransfer energi ke tubuh Popy, dia tersadar sebelum bola besar itu keluar dari tangannya… Dia pinjam tubuhku untuk berpindah.”
Setelah memfokuskan diri, pelan-pelan Popy tersadar—ada begitu banyak visi di dalam tubuhnya yang ikut memfokuskan dan menyadarkan diri. Ia terbatuk sebelum mengeluarkan suara serak.
“Thankyou, Mar,” suara serak Popy pelan terdengar.
“Are you okay, Pop?” Hilya mengelus pelan pundak Popy. Mara berdiri melipat kedua tangan di dada, Popy tersenyum membalas Hilya.
“Aku pinjam cincinmu, Mar,” Popy mengulurkan tangannya—meminta, dengan cepat Mara memberikan. Popy menempelkan cincin itu pada mata kirinya, ia memejamkan mata kanannya—memutar-mutar cincin itu.
“Kenapa, Pop?” Mara penasaran.
“Saka… Kita perlu jemput Saka segera.”
“Dia di mana?” tanya Hilya sebelum Mara sempat.
“2020. Di kampusnya… Kamu tahu, kan Mar?” Popy mengembalikan cincin itu, Mara memakainya kembali.
“Tahu, yaudah yuk…” Mara menatap Hilya. Ada keraguan yang terlihat dari sepasang matanya. Hilya terdiam—merunduk lesu.
“Kenapa?” tanya Mara—Popy ikut menatap Hilya.
“Terlalu berisiko, kita belum tahu Dina penjaga waktu atau bagian dari Skyline.”
“Ohiya,” Mara tertunduk lesu.