Dhanurveda II

Zahid Paningrome
Chapter #8

The Ring

Minggu pagi, jalanan di pusat kota padat oleh pejalan kaki. Hari biasa untuk orang-orang bisa menikmati udara segar tanpa polusi udara. Meski situasi itu hanya bisa dinikmati sesaat, tidak lebih dari yang diharapkan jika dibanding hari-hari kita bekerja selama hampir satu minggu. Entah apakah kebijakan hari tanpa kendaraan bermotor adalah sebuah pelarian dari hiruk-pikuk kota yang makin hari makin terlihat sekarat. Atau itu hanya satu-satunya cara yang dapat mendekatkan pemerintah dengan warganya.

Di jalanan itu semua jenis manusia tumpah-ruah, ada yang jogging, lari, bersepeda, menaiki papan skate. Ada yang berjualan dari makanan hingga es teh yang airnya dari air bekas cucian piring. Ada sekelompok pria yang menggoda setiap wanita yang lewat, ada yang mengenakan fashion berbagai warna dari ujung kepala hingga kaki. Ada sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk cinta. Atau satu keluarga yang menghabiskan waktu dengan makan di pinggir jalan. 

Mara melihat pemandangan itu dengan senyum yang lebar, di sana tidak ada pikiran negatif yang sengaja diadu, ia bisa melihat kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah tiap orang. Air muka yang tidak sedikit pun tampak lelah meski mungkin malam tadi lembur menghantui banyak orang. Pekerjaan yang tidak bisa ditinggal dan sungguh menyita waktu istirahat tiap orang. Bentuk sebuah perjudian antara manusia dan keterasingan sosial.

Mara berjalan paling belakang, langkahnya lambat ia masih terkesima—sedalam itu memahami masyarakat yang ada di sekitarnya. Hilya berada jauh di depan, sesekali melihat ke belakang—Popy terus memanggil Mara untuk mempercepat langkah, mendengar itu Mara berlari kecil sembari tetap melihat orang-orang di sekitarnya. Beberapa orang fokus menatap keanehan dari gerak-gerik Mara. Hilya berhenti melangkah, ia menemukan cahaya jingga yang muncul dari permukaan tanah—membentuk bagian atas sebuah lingkaran.

Mara semakin mempercepat langkah, mengimbangi Popy yang terdiam menunggunya di trotoar. Ia tersenyum saat Popy mengulurkan tangannya—berniat menggandeng Mara. Mereka berdua berjalan beriringan genggaman tangan itu sangat kuat, mengisi sela-sela jari. 

“Kenapa? Kok aneh gitu?” Popy balas tersenyum.

“Gapapa, kangen sama pemandangan kayak gini, serasa baru lihat pertama kali aja… Di sana nggak ada kan yang kayak gini.”

“Iya nggak ada, isinya orang-orang tua,” Popy terkekeh.

“Iya kayak kamu, udah tua,” Mara menggoda, melepas genggaman Popy—berlari, menghampiri Hilya.

“Dasar…” ujar Popy tertawa—menyusul Mara.

“Gimana, ketemu?” tanya Mara, melihat Hilya fokus menatap tonjolan yang keluar dari dalam tanah, di permukaannya terlihat warna jingga mengaliri garis lingkar. Mereka bisa melihat ada sebuah aliran portal yang tegangannya belum bisa dipastikan. 

“Ada apa, kok diem?” Popy memegang pundak Mara dan Hilya—ikut melihat aliran portal yang berputar searah jarum jam.

Orang-orang di sekitar penasaran melihat Popy, Mara, dan Hilya yang terus memandang ke bawah, mereka saling bertanya pada orang di sampingnya. Sesuai buku yang ditunjukkan Hilya, hanya orang-orang dengan kemampuan khusus yang mampu menemukan dan melihat portal itu. Orang-orang makin penasaran, Mara merasa tidak nyaman dengan keadaan itu. Ia meminta Hilya berpikir cepat untuk memunculkan portal itu dari dalam tanah.

Portal itu berada di depan sebuah hotel, ada bundaran yang menjadi ikon karena patungnya yang melambaikan tangan, di sekitarnya air mancur menyembur keras ke arah patung. Hilya masih terus berusaha, mengingat saat ia berhasil kembali dari tahun 2034 dengan membawa Popy, Mara, Saka, dan sembilan prajuritnya. Ia memfokuskan energi pada kedua tangan, pembuluh darahnya terlihat mengeluarkan cahaya, Hilya dan Mara bisa melihat darah mengalir mulus.

Lihat selengkapnya