Dhanurveda II

Zahid Paningrome
Chapter #9

Skyline

Skyline


Para penjelajah waktu adalah orang-orang yang hidup pertama kali sejak dunia ada, mereka membentuk peradaban dengan melompati batas waktu dan ruang yang tercipta bersamaan. Mereka adalah pencipta segalanya, teknologi yang berkembang di abad duapuluh sebetulnya sudah ada sejak awal dunia. Mereka melakukan perjalanan waktu untuk meletakkan teknologi di tempat dan waktu yang sesuai dengan perkembangan pikiran manusia. Mereka menjadi pembantu bagi alam semesta yang bergerak sesuai dengan timline waktu yang sudah ditentukan sejak awal.

Banyak history yang mengemukakan tentang tokoh dan peristiwa perjalanan waktu, namun dari kesemuanya tidak ada satu pun yang bisa dipastikan kebenarannya. Mereka para penjelajah waktu selalu bisa mengelabuhi pikiran manusia dengan melakukan perjalanan waktu ke masa lalu, masa sebelum perjalanannya dilakukan. Mereka membuat orang-orang yang awalnya mengetahui tentang itu menjadi tidak tahu dan tidak menyadarinya. Sebuah paradoks perjalanan waktu digunakan untuk memanipulasi pikiran setiap orang yang mengetahuinya.

Tidak adanya bukti tentang perjalanan ini membuat banyak orang hanya bisa berasumsi tentang kemungkinan paradoks, bahkan dikalangan para ilmuwan sekalipun. Tidak adanya bukti eksperimental membuat orang mudah mengasumsikan bahwa perjalanan waktu tidak pernah ada dan tidak pernah bisa dilakukan. 

Sebetulnya dalam perjalanan waktu konsep sebab-akibat sangat kental, di mana kausalitas dibangun oleh hubungan antara suatu kejadian dan kejadian kedua, yang mana kejadian kedua dipahami sebagai konsekuensi dari yang pertama. Meski banyak ilmuwan menganggap tidak mungkin kausalitas bisa digunakan dalam perjalanan waktu, karena konsep ini erat hubungannya dengan sains. Dan perjalanan waktu bukanlah produk sains yang sampai saat ini masih diperdebatkan.

Kehidupan dalam konsep perjalanan waktu bukanlah kehidupan yang manusia rasakan saat ini. Ia berada dalam satuan ruang dan waktu yang berbeda—paradoks itu berdiri sendiri tanpa pengaruh dari manapun. Konsep ini menyerupai kehidupan ekstraterestrial yang didefiniskan sebagai kehidupan yang tidak berasal dari planet bumi. Meski keberadaan teori ini hanya sebatas asumsi-asumsi dari para ilmuwan, karena sulitnya mencari bukti ilmiah untuk membenarkan konsep teorinya. 

Kehidupan paradoks ini muncul dengan sendirinya, ia menjadi penyeimbang dan penjaga kehidupan yang ada di bumi dan alam semesta. Perjalanan waktu ibarat bintang yang gemerlap di langit malam, banyak orang bisa melihatnya tapi tidak ada satu pun yang sanggup menjangkau. Bagi kaum the gift, bintang adalah sebuah benda yang paling dekat dengan dirinya, ia berjarak hanya sejengkal dari tatapan. 

Ruang dalam perjalanan waktu seperti sebuah lorong yang melingkar, dengan warna putih yang mengelilingi jika perjalanan dilakukan untuk kembali ke masa lalu. Berwarna hitam seperti alam semesta jika perjalanan dilakukan untuk pergi ke masa depan. Para gift merupakan orang-orang yang mampu memanipulasi kehidupan, mulai dari waktu, ruang, hingga tatanan itu sendiri. Meski ada di antara mereka yang menggunakan kemampuan itu untuk kepentingan sendiri. 

Ada yang terus terjabak pada konsep itu, ia tidak bisa keluar dari ruang dan waktu yang abadi. Mereka tidak bisa menyentuh kehidupan normal manusia di bumi, di antara mereka hanya ada beberapa orang yang sanggup menginjakkan kaki di bumi meski dengan batasan waktu yang sangat singkat. Biasanya orang-orang ini adalah para kolektor, mereka mengoleksi barang-barang yang dipakai kaum gift mulai dari alat bantu kemampuan seperti cincin yang dipakai Mara hingga baju yang dipakai.

Ada yang sebatas mengoleksi untuk kesenangan, ada juga yang menjualnya untuk bertahan hidup di dunia paradoks yang tidak berujung. Mereka harus membayar—semacam upeti yang diserahkan kepada para penjaga waktu yang hampir setiap saat berpatroli—menangkap para berandalan yang mengacaukan tatanan. Kehidupan dalam konsep ini seperti sebuah lingkaran, mereka akan berjalan terus—berputar tanpa ujung. Kaum the gift adalah mereka yang mempunyai kemampuan untuk berpindah ke lingakaran lain.

Ibarat sebuah puzzle, orang dengan kemampuan khusus tidak begitu saja dengan mudah melakukan perjalanan waktu, mereka perlu mencampurkan kemampuan yang ada menjadi satu—menggabungkannya supaya mereka mampu melakukan perjalanan itu tanpa efek samping apa pun. Sangat beresiko melakukan perjalanan waktu sendirian, seperti yang dilakukan Hilya saat seluruh tulangnya patah ketika dirinya mencoba kembali ke masa lalu yang membuatnya hanya sanggup pergi sejauh satu bulan sebelum itu.

Popy, Mara, dan Hilya secara sadar tidak bisa merasakan durasi lamanya mereka melakukan perjalanan itu, mereka hanya merasakan sekelebat—seperti mimpi yang hilang dalam ingatan selepas tidur. Mereka telah sampai, disambut oleh keramaian di koridor kampus. Tidak ada yang menyadari kedatangannya, orang-orang berlalu-lalang sibuk berpindah kelas. Ada yang bercengkrama—duduk berkelompok membicarkan dosen yang membuat mereka kalang-kabut. Ada sepasang kekasih yang mesra saling bertukar senyum. Mara ikut tersenyum melihat itu, Popy menyadarkannya sekali lagi, persis apa yang ia lakukan sebelumnya.

“Kita harus cepat,” Hilya melangkah paling depan—ia tampak kebingungan mencari ruang kelas tempat Saka berada.

“Pop, pake visimu,” Mara menawari—ia berjalan di tengah berada di antara Popy dan Hilya.

“Oke,” Popy bergegas—tetap berjalan di belakang Mara, satu per satu visi keluar dari tubuhnya, mereka berjalan ke arah yang berbeda. 

“Gimana?” Hilya berpaling, bertanya pada Mara.

“Bentar, aku belum nemu…” Mara menyapu pandangannya ke seluruh bagian di tempat itu. Ia melihat salah satu visi Popy berjalan menjauh dari lainnya. “Ke sini,” Mara mengikuti visi itu, Hilya dan Popy berjalan di belakangnya.

Visi itu menuntun hingga ke ruang kelas di utara kampus. Di samping kelas ada lapangan basket yang sedang digunakan beberapa mahasiswa. Popy, Hilya, dan Mara tersentak, mereka melihat Saka terkulai lemah, mereka bergegas menghampirinya. Ketiganya saling tatap, terlihat Saka yang tidak lagi bernyawa. 

“Oh shit…”  Mara memegangi kepalanya, menjambak rambutnya keras—menyesali apa yang ia lihat.

“Kita terlambat,” desis Hilya,

“Terus gimana?” tanya Popy melihat Hilya yang fokus pada tubuh Saka.

“Pake visimu bisa gak?” Hilya menoleh—menatap Popy. Ia bisa melihat Mara yang tampak stres melihat keadaan Saka, ia masih tidak percaya—ada kekosongan dalam raut wajahnya.

“Bentar aku coba…” Popy mengumpulkan visinya, mereka yang berpisah bersatu dengan visi yang menemukan Saka. Mereka menjadi satu tubuh di luar Popy, angin kencang sekelebat masuk ke ruang kelas itu. Visi itu mencoba memasuki tubuh Saka. Hilya menghampiri Mara yang terpaku melihat Saka, ia memeluk Mara—mencoba menenangkan. 

“Nggak bisa.”

“Coba lagi?” Hilya melepas pelukannya.

“Udah tiga kali,” Popy menggeleng. “Visiku bukan buat membangkitkan orang mati… Sekarang aku tahu,” ada raut kekecewaan di wajah Popy, tubuhnya melemah—terlempar pada bangku di belakangnya. Mara mulai menangis, ia mendekati tubuh Saka. Air matanya menetes, membasahi wajah Saka. Ia tidak sanggup berkata-kata, Mara kehilangan cinta pertamanya. Hilya menjauh, memberikan ruang bagi Mara.

Hilya melambaikan tangan, memanggil Popy, membiarkan Mara tetap menangis. “Kenapa?” tanya Popy. “Biarin dulu Mara, kita di sini aja…” Hilya dan Popy semakin menjauhi Mara, keduanya duduk pada bangku di baris kedua. Matanya terus tertuju pada Mara.

“Laki-laki bisa rentan juga, yaa,” air mata mulai menyelimuti mata Popy.

“Iyaa. Aku baru pertama ini lihat laki-laki nangis,” Hilya melihat Popy yang berkaca-kaca, “Pop, kamu kenapa… Jangan ikutan nangis, nanti aku nangis juga,” Hilya memeluk Popy, mengelus punggungnya lembut.

“Kehilangan cinta pertama pasti sedih banget, gak terkira… Aku tahu gimana perasaan Mara,” isak tangis masih menyelimuti Popy, ia memeluk Hilya erat—matanya terus tertuju pada Mara.

“Tenang, Pop…” Hilya melepas pelukannya, ia tersenyum—membasuh tangis di pipi Popy dengan jemarinya.

“Aku paling takut sama yang namanya kematian… Kita gak tahu umur, kapan pun harus siap, kematian membawa kita ke tempat yang sulit diprediksi—tempat yang nggak satu orang pun tahu. Aku paling takut datang ke pemakaman orang. Sampai sekarang aku belum pernah ke kuburan orang tuaku. Entah kenapa, aku seperti melihat kematian sudah ada di depan mataku,” Hilya menahan tangis, ia terus menatap Popy—berusaha menenangkan. Popy memeluk Hilya, menyadari bukan hanya dirinya yang perlu ditenangkan. Ia mencium pundak Hilya berulang kali.

Keduanya saling menenangkan, pelukan itu terjadi cukup lama. Popy dan Hilya tidak sadar, Mara sudah duduk di sampingnya dengan senyum yang terbuka lebar melihat pemandangan tidak biasa di depan matanya. Melihat itu Hilya dan Popy melepas pelukan—menghapus air mata, mencoba membalas senyum Mara. Namun senyum mereka justru terlihat aneh membuat Mara tertawa.

“Kalian kenapa? Aku yang ditinggal kalian yang nangis,” Mara menggoda.

“Ah kamu mah sukanya bercanda,” Popy memukul lengan Mara.

“Gimana? Udah nangisnya?” tanya Hilya.

“Udah… Makasi yaa,” senyum Mara semakin mengembang. Ia mencium Hilya dan Popy.

“Sekarang ke mana?” Popy memegang pipinya yang basah.

“Balik lah, mau di sini terus?”

“Boleh kalo sama kamu, Mar,” Popy menggoda.

“Gombal…”

“Bentar, aku mau coba dulu, barangkali gak perlu cari portal buat balik. Buku itu nggak menjelaskan gimana kalo kita udah sampe… Kalo berhasil sama seperti dulu, kita butuh Popy di depan,” Hilya melihat Popy, “Siap kan, Pop?” tanya Hilya. Popy mengangguk mantap. Mara merangkul Popy, mengelus pelan pundak kanannya. Hilya melihat itu—tersenyum melirik Popy yang pipinya mulai memerah.

Lihat selengkapnya