Dunia adalah kumpulan ingatan masa lalu yang dipungut kembali dari sumur paling dalam. Sebuah ingatan memang tidak bisa dibuat menjadi satu narasi utuh yang disebut sebagai ruang masa lalu. Karena ingatan diciptakan untuk menyimpan hal-hal yang telah berlalu, tapi seringkali, banyak dari kita terus berusaha melupakan hal-hal yang terjadi di masa lalu. Pada akhirnya mereka tidak pernah berhasil, mungkin karena ingatan menolak hal itu. Ia menolak dirinya dijadikan kambing hitam atas apa yang menimpa seseorang pada masa lalu.
Dunia hari ini menuntut setiap orang untuk berpikir jernih, tidak sekadar harus berpikir waras. Barangkali ada banyak dari kita sudah terlalu lelah hidup dan berniat untuk bunuh diri, mereka menyadari bahwa dunia hari ini diisi oleh orang-orang gila yang lebih gila dari penghuni rumah sakit jiwa. Orang-orang itu membunuh, menipu, membohongi sesamanya menggunakan tangan orang lain. Ada yang melakukan hal itu demi membuat dirinya nyaman, meski harus mengorbankan banyak nyawa.
Dunia kita penuh sesak dengan ketidak-mampuan manusia menerjemahkan pesan semesta. Banyak dari mereka menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Mereka sulit menyadari bahwa apa yang didapatnya hari ini adalah hasil dari pergolakkan yang tidak sekadar diselesaikan hitam di atas putih. Mereka menuntut kita menjadi sama—seragam, membentuk opini hingga wacana yang menyesatkan banyak manusia, tujuannya hanya satu; menciptakan tatanan baru yang mengacu dan berpusat pada aturan pikirannya.
Dunia mampu mengubah setiap manusia menjadi sesuatu yang tidak dikehendaki diri sendiri. Barangkali dunia melakukan itu sebagai bentuk balas dendam bagi orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang memang tidak perlu. Anak-anak muda terlalu sibuk mengurusi persoalan cinta, sampai mereka tidak peduli pada potensi diri sendiri. Membuatnya hanya terus sibuk mengurusi hal-hal yang tidak perlu.
Dunia juga membuat orang-orang tua memikirkan bahwa generasinya adalah generasi emas, generasi di mana tidak ada tindakan negatif dalam bentuk apapun. Lupa bahwa anak-anak muda kini juga bagian dari pengajarannya—mereka seakan lupa anak muda kini buah dari pengalaman mereka. Soal sanggup atau tidak mengajari hal yang baik atau tidak, memberi contoh, dan mendorong kemampuan anak muda untuk mencapai pada puncak potensinya.
Dunia menyampaikan narasi yang berbeda, tujuannya supaya kita mampu menerima dan mengolahnya dalam ruang pikir kita, bukan menjadikannya sebagai alat untuk memerangi satu sama lain. Wacana antara perbedaan generasi membuat anak-anak muda seakan ciut, mereka sesaat menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa yang berhak bersuara dan mengemukakan pendapatnya. Hal yang salah dan terus-menerus terjadi, membuat seakan generasi menjadi mati suri.
Tapi, dunia melupakan satu sifat yang selalu ada pada diri manusia. Sifat yang akan sepenuhnya melekat hingga kematian merenggut . Sifat penyerahan diri membuat manusia menjadi makhluk paling humanis dari yang bisa kita temui. Sayangnya, sifat ini tidak disadari keberadaannya, banyak orang menganggap euforia penyerahan diri adalah bentuk pelemahan pada pikiran manusia. Pelemahan pada logika dan kemampuan manusia untuk menyelesaikan segala sesuatu yang menimpa dirinya.
Dunia menawarkan euforia penyerahan diri pada tiap manusia untuk membuat mereka menjadi manusia yang mampu memahami kekuatan alam semesta, kekuatan yang terus disembunyikan dan menunggu untuk ditemukan. Hanya orang-orang yang mampu menerjemahkan setiap makna dari apa yang disampaikan alam pada dunia yang mampu menemukan kekuatan-kekuatan yang tersembunyi. Di dalamnya manusia akan menemukan jati diri sesungguhnya, kenapa dan untuk apa mereka hidup di dunia—untuk apa dunia memberikan waktu.
Kaum The Gift adalah sedikit dari manusia yang mampu menerjemahkan setiap kata dari dunia, mereka melakukan ritual penyerahan diri, mereka sepenuhnya membiarkan dunia dan alam semesta menguasai hati dan ruang pikirnya. Mereka menyadari bahwa tubuhnya hanya tempat sementara, ia hanya sebagai kostum, sesuatu yang tidak abadi. Kaum The Gift mampu berada di manapun, mereka bahkan mampu berubah—menyatu dengan angin.
Dunia tidak lebih dari tempat sementara, ia ibarat kotak amal di masjid. Uang-uang yang ada di dalamnya tidak selamnya ada di sana, pada akhirnya uang itu akan digunakan untuk hal-hal yang punya manfaat bagi masjid itu sendiri. Sudah sepatutnya manusia memiliki kemampuan yang bermanfaat untuk sesamanya, tidak hanya bagi dirinya sendiri.