Dhanurveda II

Zahid Paningrome
Chapter #11

Paradoks Waktu

Hilya mencoba masuk ke dimensi kedua, ia masih berkutat pada gangguan yang merasuki tubuh Anggara. Hilya belum pernah merasakan keadaan seperti ini sebelumnya, ia terus berusaha memindahkan visi Anggara ke ruang serba putih, di sana Hilya lebih leluasa untuk menetralkan kekuatan Anggara. Popy dan Mara masih cemas, keduanya berdiri di belakang Hilya, ingatan menarik Popy pada malam itu, malam saat Anggara merasakan mual dan ia menyembuhkannya hanya dengan sekali memegang perut Anggara dan menghangatkannya.

“Coba perutnya, Hil.”

“Nggak bisa, Pop, kayaknya memang bukan dari dalam tubuhnya.”

“Maksudnya?”

“Ada yang memengaruhi dia dari luar, organ dalamnya aman—baik-baik aja.”

“Tenang, tenang… Yang penting jangan panik dulu,” ujar Mara, meski dia lah yang paling panik di antara ketiganya.

“Napasnya masih ada,” Popy terengah.

“Nadinya juga,” Hilya bangkit berdiri, ia mulai menyerah.

Dalam kebingungan itu, Mara berulang kali berusaha mengeluarkan kemampuannya, ia terus berpikir kenapa kemampuan itu tidak bisa ia pakai. Mara tidak mampu menggunakan kemampuan itu dalam keadaan sadar. Ia bertambah panik, Hilya dan Popy merasa aneh melihat gestur yang ditunjukkan Mara, keduanya saling lirik.

“Kenapa, Mar?” Popy memastikan, Mara memegang kepalanya seperti seorang yang sedang menahan pusing.

“Kemampuannya hilang,” desis Hilya, “Mara berusaha untuk memakai kemampuannya,” Hilya menambahi, Mara mengangguk, mengiyakan ucapan Hilya.

“Terus gimana?” Popy mulai panik.

“Coba pake visimu, Pop,” Popy mengangguk, hanya sekian detik visi keluar dari tubuhnya setelah ia menggetarkan kedua bahu. Visi itu bergerak, ia masuk ke dalam tubuh Mara. Perlahan visi itu mulai menyesuaikan tubuh yang ia masuki. Mara terlihat mulai tenang, tidak ada kepanikan tampak dari wajahnya. Matanya menyala terang, ia berdiri tegak. Popy dan Hilya melihat senyum yang mengembang di bibirnya.

Mara merasa bugar, tanpa pikir panjang, ia melakukan hal yang daritadi ingin ia lakukan. Popy tersentak, apa yang dilihat Mara ikut masuk ke ruang pikirnya, Popy terkesima melihat gambaran itu. Mara duduk di ujung ranjang kamar itu, ia terus membuka pikirannya, Popy seperti melihat sebuah buku yang terus dibuka halaman demi halaman. Hilya fokus melihat keduanya, rasa penasaran membuncah hingga ubun-ubun, tapi raut mukanya tidak menunjukkan perasaan itu. Hilya paling pintar soal menyembunyikan sesuatu.

Mara membuka satu lembar dalam penjelajahannya, ia melihat Dina berusaha menemukan mereka, Dina membawa sebuah pedang yang berlumuran darah di ujungnya. Mara seperti masuk ke dunia di mana Dina berada, Popy ikut berada di sana, ia terkesima. Mereka melihat beberapa orang mati berlumuran darah, Dina dan beberapa prajuritnya tampak kelelahan—baru saja menghadapi sekompi pasukan yang menyerang mereka.

Mara menutup lembar itu, ia menjelajah seluruh garis waktu dalam 24 jam ke depan. Popy melihat seperti sebuah proyektor yang sinarnya jatuh pada sebidang tembok. Ia seperi melihat sebuah film yang terus diganti. Ada penunjuk waktu di bagian atas tiap halaman, Mara terus mencari, hingga menemukan satu halaman. Ia melihat dirinya sendiri, juga melihat Popy dan Hilya. Anggara telihat baik-baik saja.

Melihat itu Popy ikut penasaran, ia melihat waktu yang menunjukkan pukul sembilan malam. Mara menahan gambaran itu, keduanya fokus bahkan suara-suara angin yang masuk ke telinganya seperti tidak terdengar. Mara dan Popy melihat dirinya sendiri sedang mendiskusikan sesuatu bersama Hilya dan Anggara. Mereka terbagi dalam dua kubu—mendebatkan sesuatu. Popy tampak cemas melihat situasi itu, Mara penasaran apa yang sedang mereka perdebatkan. Gambaran itu tidak mampu menangkap suara—tidak mampu menangkap setiap kata yang keluar.

Gambaran itu bergerak cepat, halaman demi halaman tidak lagi terlihat. Gambaran itu kembali ke halaman pertama. Popy membuka mata, melihat Hilya tersenyum menatapnya, lalu ia melihat Mara pelan-pelan tersadar, ia berusaha mengatur napasnya. Visi dalam tubuh Mara keluar, seperti sebuah bayangan yang diselimuti pusaran angin, visi itu berjalan mendekati Popy lalu masuk ke dalam tubuhnya—hilang tidak berbekas.

“Jadi gimana?” tanya Hilya.

“Anggara mengalami Jet Lag, sepertinya dia menggunakan kemampuannya sekaligus dalam sekali waktu. Kita cuma perlu menunggunya bangun.”

“Berapa lama kita pergi?” Popy kebingungan, ia melihat langit di luar yang sudah gelap.

“Tiga jam.”

“Sebelum jam sembilan seharusnya Anggara sudah bangun.”

“Kalian merasa ada yang aneh, nggak?” tanya Popy.

“Kenapa?” napas Mara mulai teratur.

“Sebenarnya Anggara punya kemampuan apa? Mar, kamu inget nggak waktu di mobil, dia bilang bukan bagian dari kaum The Gift, dia bertanya-tanya soal kemampuan kita. Terus sekarang tiba-tiba dia muncul, bahkan aku belum pernah lihat kemampuan semacam itu.”

“I don’t know.”

“Tapi kalian tahu nggak,” Hilya membalas, Mara dan Popy menatapnya serius, “Seharusnya kita bisa mendarat di waktu dan tempat yang sama. Ternyata enggak sama sekali… Anggara bilang dia tertinggal, wajar soalnya dia bukan dari kaum kita… Tapi bukannya visi Popy mengcover Anggara dan sembilan prajuritku? Kalo visi itu gagal membawa Anggara, seharusnya sembilan prajuritku juga gagal. Menurut kalian gimana?”

“Aku lelah,” Mara membaringkan tubuhnya—ia tidak tertarik dengan pertanyaan itu. 

“Memang aneh, sih. Kamu bisa lihat sembilan prajuritmu, nggak? Barangkali kita bisa lihat mereka ada di mana.”

“Cuma Mara yang bisa,” Hilya melihat Mara yang memejamkan mata, “Aku harus melakukan perjalanan waktu untuk bisa tahu mereka ada di mana,” Hilya melihat Popy—ia menawarkan untuk melakukan perjalanan waktu.

“Jangan,” Popy menggeleng, “Aku lihat kita lagi membicarakan sesuatu jam sembilan malam nanti, aku lihat gambaran itu dari Mara.”

“Oke kita tunggu aja,” Hilya melipat kedua tangannya di dada, melihat Mara dan Anggara terbaring di atas ranjangnya. Popy duduk pada sebuah bangku di samping ranjang setelah mengambil segelas air di meja. Hilya ikut menuangkan segelas wine, ia menyeret sebuah kursi lalu duduk di depan Popy. 

Hilya membuka jendela, menghirup udara sebentar lalu mengambil satu bungkus rokok di laci meja nakas samping ranjang. Ia kembali, menyelipkan satu batang rokok di bibir dan mengambil korek di saku kanannya. “Nih,” Hilya menawari.

“Enggak,” tolak Popy, matanya terus tertuju pada batang rokok yang keseluruhannya berwarna putih. “Rokok bikin sendiri?” tanya Popy. Hilya mengangguk, sembari menghembuskan asap rokok setelah menyalakannya.

“Gimana?” Hilya mengapit rokoknya pada jemari tangan kanan. 

“Apa?” Popy memastikan, ia memangku satu kakinya pada kaki lainnya.

“Jadi laki-laki itu siapa?”

“Siapa?” Popy mengelak.

“Aku lihat kamu mendarat di sebuah mobil, laki-laki itu menyetir,” senyum Hilya menggoda, membuat kedua pipi Popy memerah. 

“Long story,” Popy menghela napas, ia melihat abu rokok pelan-pelan jatuh ke lantai yang mengilap.

Lihat selengkapnya