Dhanurveda II

Zahid Paningrome
Chapter #12

Orkestra dalam Ruang Gelap

Di bagian bumi mana dunia diciptakan? Apakah dalam keterasingannya dunia menjadi tempat untuk membuang dosa-dosa masa lalu, mulai dari darah di tangan hingga mulut-mulut kotor yang masuk ke telinga-telinga penuh suci. Keterkaitan antara kewarasan dan dunia yang serba hitam dan putih mengatur setiap manusia untuk terus bersikap, mereka memainkan peran yang sebetulnya tidak ia sukai. Lalu bagaimana caranya menyadarkan orang-orang ini? 

Sebuah orkestra masuk ke ruang mimpi Anggara, paduan alat musik petik dan tiup masih menghiasi pikiran Anggara sesaat ia bangun dari tidurnya. Ia merasakan mimpi itu seperti sebuah rectoverso, gambaran itu menempel menjadi satu kesatuan yang bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, ia memimpikan para anggota orkestra yang dengan penuh penghayatan memainkan alat musiknya masing-masing. Ia terbangun saat melihat salah satu anggota yang ia kenali, pernah ia temui—sama sekali tidak asing.

“Hai,” Anggara tersenyum, sepasang matanya masih berusaha fokus. Ada kabut yang menutupi pandangannya.

“Gimana, Ngga?” tanya Mara.

“Aku kenapa?” Anggara bangkit dari ranjang, ia menuju kamar mandi hendak membasuh mukanya. Mara, Popy, dan Hilya tertuju pada dirinya, suara air mengucur dari kran wastafel. Suara kepak antara tangan dan muka terdengar hingga telinga Mara. Hilya dan Popy masih tertuju pada pintu kamar mandi, menunggu Anggara ke luar.

“Tadi kamu pingsan,” kata Popy melihat Anggara ke luar setelah mencuci mukanya. Anggara mengelapnya dengan handuk putih. Kini wajahnya tampak cerah, seperti lampu putih di pinggir taman.

“Ah, i see,” Anggara berdiri di samping ranjang, kedua tangannya memegang pinggang. Ia menatap Hilya seperti sepasang kekasih yang saling merindu, tatapan itu tampak begitu hangat.

“Kenapa, Ngga?” Hilya membalas tatapan itu.

“Nggapapa,” Anggara balas tersenyum.

“Jadi gimana?” tanya Mara.

“Mimpi apa barusan?” Popy menambahi.

“Orkestra. Aku mimpi satu orkestra dan ada Vega jadi salah satu anggotanya, dia pegang harpa. Suara-suara itu masih membekas di pikiranku, aku terbangun waktu Vega seolah lihat aku di mimpi itu. Kayak nyata… Aku bahkan sulit membedakan itu mimpi atau nyata.”

“Mimpi,” Mara meyakinkan.

“Ohiya ada satu pertunjukkan orkestra malam ini,” Hilya bangkit dari tempat duduknya, ia mengambil satu selebaran di dalam laci sebuah meja. “Nih,” Hilya menunjukkan selebaran itu, Mara mengambil dan membacanya.

“Orkestra dalam Ruang Gelap,” Anggara dan Popy ikut membaca setelahnya.

“Seharusnya belum terlambat,” Hilya mengambil mantel di lemari pakaian, ia memakainya dan bersiap-siap. “Tempatnya nggak jauh darisini,” Hilya menutup jendela dan tirai. Mara, Popy, dan Anggara ikut bersiap. Mereka bergegas, lampu kamar dimatikan, pintu dikunci, ruang gelap masih menyisakan asap rokok yang tersesat di langit-langitnya.

Lorong apartemen itu sepi, Mara melewati satu kamar, ia mendengar musik yang diputar sangat keras, lalu keheningan menghuni telinganya sekali lagi. Hilya berjalan paling depan, ia langsung menekan tombol B1 sesampainnya di depan lift. Baju yang mereka pakai tidak melihatkan bahwa mereka akan menghadiri sebuah orkestra. 

Pintu lift terbuka, satu pria ke luar dari lift itu, tubuhnya tingga kekar, kepalanya botak. Ia sempat melihat Mara. Di dalam lift napas mereka saling beradu, mereka melakukan hal yang sama—becermin di dinding lift yang memantulkan sosoknya. Sesampainya di basement, Hilya menekan kunci mobilnya, suara bip terdengar, Hilya mempercepat langkahnya, ia membuka pintu depan lalu masuk. Sebuah mercy hitam keluaran tahun 2017 melesat meninggalkan apartemen setelah Anggara, Mara, dan Popy masuk. 

Popy duduk di samping Hilya yang mengemudi, Mara dan Anggara duduk berdampingan di belakang, Mara melihat ke luar jendela, jalanan masih ramai namun tidak ada kemacetan yang terlihat. Hilya mempercepat laju mobilnya, ia meliuk-liuk di antara mobil-mobil yang ada, menyalip dari kanan dan kiri, seperti ular yang memburu mangsanya. Ia bahkan menerobos lampu merah, membuat beberapa orang menginjak rem mobilnya tiba-tiba, suara klakson terdengar keras, Hilya hanya melihat spion, memastikan semuanya aman—baik-baik saja. 

Suara dari alat musik orkestra terdengar hingga ke luar gedung. Tempat itu berada di depan sebuah menara satu perusahaan terkenal, gedung yang memang sering digunakan untuk pertunjukkan seni, sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk orang-orang di kota penuh sesak ini. Sebuah kesenian mampu menciptakan manusia yang humanis, karena kesenian adalah kebudayaan yang mampu memanusiakan manusia. Meski banyak dari kita merasa kesenian hanya sebatas memuaskan alat indera, lebih dari itu kesenian menyentuh jiwa masing-masing penikmatnya.

Anggara berlarian, ia berada paling depan mencari pintu masuk. Hilya tertinggal, Mara menunggu. Popy mengikuti Anggara, beberapa penjaga memandang mereka penuh curiga. Gedung itu serba cokelat pada dinding-dindingnya dengan lampu-lampu yang juga menempel di sepanjang dinding, terdapat beberapa pintu besar di lorong melingkar itu, suara musik makin terdengar asik, tapi keempatnya tidak bisa menikmati untuk saat ini.

Anggara dan Popy ditahan oleh seorang penjaga yang melarangnya masuk. Penjaga itu berjas serba hitam dengan earphone yang menempel ditelinga, biasanya untuk mendengar perintah dari atasan atau yang berwenang. Anggara dan Popy memohon untuk pintu bisa dibuka, penjaga itu tetap melarang. Hilya dan Mara menyusul beberapa menit kemudian, dengan napas yang memburu, Mara ikut memohon, Hilya terdiam masih mengatur napasnya. 

Anggara, Popy, dan Mara merasa putus asa. Mereka menjauh dari pintu yang dijaga, di saat bersamaan Hilya justru mendekat, ia memberikan dua lembar undangan, penjaga itu mengecek lalu menyilahkan Hilya masuk. Satu undangan untuk dua orang, Hilya memanggil Mara, Popy, dan Anggara. Ketiganya tersenyum, mereka masuk—Mara menjulurkan lidahnya ke arah penjaga, setengah meledek, penjaga itu sedikit tersenyum.  

“Aku lupa kamu bawa undangannya,” Anggara mengejar langkah Hilya.

Lihat selengkapnya