Dhanurveda II

Zahid Paningrome
Chapter #13

Sounds of Harp

Apa yang dibutuhkan kita sebagai manusia untuk bisa saling menjaga dan menyadari bahwa sesungguhnya kita tidak bisa bertahan hidup sendirian. Apa yang dibutuhkan manusia untuk bertahan dari pikiran-pikiran liar dari alam semesta yang masuk ke pikiran tanpa filter yang mampu membedakan mana perkara benar dan tidak. Lalu bagaimana caranya manusia menjadi makhluk yang bisa menghargai dan menghormati setiap buah pemikiran sesamanya. Lantas apa yang menjadikan kita mahkluk beradab yang kemudian disebut manusia.

Perasaan manusia adalah kumpulan pergulatan yang datang dari luar karena suatu kegelisahan yang terus mengganggu hingga akhirnya memaksa otak mengolah data lalu menjadikannya informasi. Manusia sepatutnya adalah perasaan itu sendiri, ia tidak terpisah dan tidak berdiri sendiri, ia menjadi satu dalam ingatan sekaligus perasaan yang tercermin dari perilaku juga tutur kata. Bagaimana bisa kita manusia menyebut diri makhluk yang beradab tanpa mampu memanusiakan manusia lainnya. 

Rasa empati adalah harta paling berharga yang harus dimiliki setiap manusia, ia bisa ditemukan dari sebuah pencarian panjang jatidiri. Ada juga yang dengan sadar menciptakannya tanpa perlu merasakan perjalanan panjang itu sendiri. Rasa empati memberikan kita sebuah perasaan teduh dan nyaman, karena dalam kesadaraannya perasaan itu menempatkan humanisme di titik tertinggi sebuah kebudayaan. Budaya yang tercipta karena kesadaran manusia. Rasa empati menghindarkan kita dari kegagalan menjadi manusia. 

Meski harus diakui hal-hal yang erat kaitannya dengan kedalaman pikir manusia hanya bisa kita lihat dari orang-orang yang terpilih saja. Mereka mampu menganalisis semua simbol semesta yang dikirim oleh tuhan sebagai bahan pertimbangan untuk mereka bisa bersikap. Rasa empati sangat diperlukan karena darisitu ia menjelma jadi pikiran yang ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Ia mampu membentuk budaya menjaga perasaan orang lain, karena sama-sama tidak mau menjadi manusia yang disakiti.

Menjadi manusia yang mampu dengan sadar menjaga perasaan orang lain adalah sesuatu yang perlu kita pelajari terus menerus, karena belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup. Barangkali tanpa sadar kita sering merasa sedih atau terharu melihat orang lain mengalami musibah, dan kita sering tidak terima kenapa musibah itu menimpa orang lain dan bukannya kita. Rasa empati semacam itu adalah yang dibutuhkan negeri ini, lebih jauh untuk anak-anak muda yang belakangan menjadi tampak abu, tidak mampu mengenali perannya.

Popy memilih menemani Mara karena di dalam dirinya rasa empati telah tumbuh subur, ia menjadikan itu sebagai senjata melawan segala ketidakpatutan yang mungkin muncul di pikiran. Yang mungkin sedikit banyak bisa memengaruhi tanpa disadari, rasa empati itu otomatis aktif saat orang lain merasakan kesedihan hingga kepedihan yang amat terdalam. Cerita-cerita itu akan masuk ke relung jiwa, dan tidak ada satu pun yang mampu mencegahnya. Popy memilih menenangkan Mara karena dia tahu hanya dia yang mampu melakukan itu, persis apa yang dilakukan Mara padanya sebelum perjalanan itu.

“I love you, Mar,” Popy masih memeluk Mara, kehangatan di antaranya terpancar. Hilya, Vega, dan Anggara pergi meninggalkan ruangan itu dalam sekejap, seperti saat bintang jatuh di lautan penuh ombak. Popy mengasihi Mara melebihi apa yang ia punya, kasih sayang yang ditebar menjadikannya wanita yang baik dan disenangi. Ia tidak pernah mempersempit makna kasih sayang yang dilakukan banyak wanita di luar sana.

Ajaran cinta kasih pada sesama adalah sesuatu yang harus dipertahankan dan terus digaungkan, cinta kasih merawat nurani kita seperti seorang ibu yang merawat bayinya hingga dewasa. Popy adalah wanita lain, ia seperti berada di luar semesta bagi para wanita. Ia berbeda. Di era di mana kecantikan diperjual-belikan, kaum pria dituntut untuk maklum pada semua yang wanita lakukan pada tubuhnya. Mereka menganggap itu adalah ekspresi jiwa padahal dari situ mereka meraup keuntungan dari menjual seksualitas. Mereka merasa telah maju selangkah dan berada di atas bayang-bayang kaum pria, padahal mereka sedang jalan di tempat.

Rasa empati pada sesama menjadikan wanita sebagai makhluk berharga, mereka akan dicintai sepenuh hati karena nuraninya yang mampu menghangatkan orang-orang di sekitarnya. Memberikan kenyamanan yang tidak mampu diberikan orang lain. Popy melakukan itu dengan sangat baik, bahkan ia tidak menyadari bahwa kemampuannya itu mampu memengaruhi pikiran Mara yang memang butuh untuk ditenangkan. Mara butuh seseorang yang rela mendengarnya, rela merasakan kepedihan di dalam dirinya. Mara menangis dalam keterasingan dan Popy datang menjadikan dirinya asing sebagaimana Mara melakukannya.

“Thankyou, Pop,” Mara membalas pelukan itu. Ia menangis, air matanya membasahi pundak Popy. Mara memeluk erat—tangisnya menjadi-jadi, Popy terus menenangkannya, sesekali ia mencium, ia berbisik di telinga Mara. Ia akan selalu ada untuknya kapan pun, dimana pun. Popy tidak mungkin meninggalkannya meski sedetik.

Di tempat lain, Anggara telah sampai di tempat Saka. Hilya bergegas ia berjalan di depan. Vega berjalan di belakang dengan harpa yang menempel di punggung, ukuran harpa itu lebih kecil dari ukuran asli yang tadi ia mainkan di pertunjukkan orkestra. Harpa itu hampir seukuran gitar, tampak pas berada di punggung Vega. Keramaian di tempat itu masih sama, tidak ada yang berubah. Konsep waktu menjadi hilang saat kita kembali di tempat yang sama di masa lalu, ia sama sekali tidak berubah. Saka masih tergeletak di tempat yang sama, Vega penasaran ia melihat Saka seperti seorang ilmuwan yang melihat kuman melalui mikroskop.

“Ini Saka!” Vega memastikan.

“Terus yang waktu itu?” tanya Anggara.

“Tidak ada bedanya, keduanya Saka yang sama.”

“Mana mungkin?” 

Lihat selengkapnya