Dhanurveda

Zahid Paningrome
Chapter #1

HomeEnd

Pasca perang dunia ketiga, bumi mengalami kerusakan hebat. Benua-benua terpisah tak berbentuk. Banyak negara tenggelam, serangan nuklir dari lima negara besar membabi buta seluruh penjuru bumi, langit menghitam pekat setahun lebih. Lautan naik secara drastis. Propaganda yang tertuju pada negara-negara dunia ketiga menjadi refleksi penyerangan sekutu terhadap negara-negara yang membelot pada perjanjian yang ditanda-tangani seluruh negara di dunia. Perjanjian untuk menjadikan dollar sebagai mata uang tunggal dunia. Perjanjian itu dinamai Perjanjian HomeEnd. Perjanjian yang diprakasai negara adikuasa di utara Brazil.

Manusia yang tersisa dan selamat dari perang dunia ketiga menghadapi problem yang lebih besar. Menahan rasa haus dan lapar, perekonomian yang lumpuh dan disorientasi. Orang-orang membagi diri, berkelompok dalam satuan distrik yang dikomandoi satu orang yang mereka sebut Locke. Tugas Locke adalah mengkordinir pasukan untuk berjaga-jaga terhadap serangan musuh yang mencari persediaan sandang dan pangan. Pasukan-pasukan spartan tidak segan membunuh untuk bertahan hidup, memakan mayat-mayat sisa perang. Masing-masing kelompok mempunyai tempat persembunyian, ada yang membangun permukiman di bukit, gunung, goa dan di gedung-gedung yang hancur akibat serangan nuklir.

Selama lebih dari setahun mereka saling mencari kelompok lain yang tersisa, mencari orang-orang yang hidup sendiri dan tidak tahu arah. Langit hitam pekat, bumi terasa hanya malam, tanpa sinar matahari yang jatuh ke bumi. Aroma zat kimia sisa-sisa nuklir masih sangat menyengat, orang-orang menutup hidung mereka dengan sisa-sisa buah yang mereka potong menjadi setengah bagian. Kulit yang menghitam sebagian seperti papan catur dan pakaian yang tidak pernah diganti menjadi pemandangan biasa pasca perang dunia ketiga. Seks pra nikah terjadi dimana-mana, tujuannya satu, mempertahankan jumlah keturunan. Kaum pria bisa memilih wanita manapun. Kaum wanita hanya pasrah menerima aturan yang ada.

Jaringan internet dan telepon luluh-lantak. Tak ada alat untuk berkomunikasi jarak jauh. Sesekali orang-orang hanya berteriak untuk mendengar ada atau tidaknya teriakan balasan dari orang lain. Perang dunia ketiga benar-benar mengubah iklim dan cuaca di bumi, menghilangkan kebiasaan-kebiasan manusia yang jauh dari kata manusiawi. Tidak ada lagi tempat untuk bersenang-senang.

Daratan porak-poranda, gedung-gedung dan jalanan rusak, kemacetan yang abadi terjadi di jalan-jalan protokol. Air laut berubah warna menjadi pekat dan beraroma anyir. Mayat-mayat yang masih mengambang dibiarkan menjadi santapan ikan. Bumi benar-benar hancur dalam kurun waktu seminggu. Lima negara besar menjadi penyebabnya. Masing-masing dari kelima negara memiliki blok-blok sekutu yang berjalan secara diam-diam. Mereka saling lempar pernyataan untuk membangun propaganda dan teori konspirasi.

Satu kelompok masa menamai dirinya Namoi, bersembunyi dibalik gunung tertinggi yang masih aktif di Jawa. Locke mereka seorang perempuan bernama Popy, membawahi beberapa pasukan bertudung hijau. Tudung hijau dipilih karena warnanya yang menyerupai daun-daun, cocok untuk bersembunyi dan mengintai musuh. Namoi dipenuhi dengan penduduk tua, nenek dan kakek yang trauma akibat perang dunia ketiga. Pemuda-pemuda wanita dijadikan Popy sebagai perawat yang mengurusi penduduk-penduduk tua. Para pria dibekali senjata untuk berjaga-jaga. 

Sebelum perang dunia ketiga pecah. Popy adalah seorang florist. Menyumpah dirinya untuk hidup bersama bunga-bunga di tokonya. Toko warisan ibunya yang meninggal akibat miom yang tumbuh di rahimnya. Miom adalah pertumbuhan di dalam atau di sekitar uterus yang tidak bersifat kanker atau ganas. Miom dikenal juga dengan nama mioma, uteri fibroid, atau leiomioma. Miom berasal dari sel otot rahim yang mulai tumbuh secara abnormal. Pertumbuhan inilah yang akhirnya membentuk tumor jinak. Penyakit ibunya juga dialami Popy. Popy mengetahuinya lebih dini sehingga pengobatan masih bisa dilakukan sebelum miom menjadi parah.

Popy tercatat menjadi mahasiswi Sastra Inggris di salah satu universitas ternama. Saat nuklir pertama jatuh di Laut China Selatan, Popy tengah menunggu di bandara untuk berangkat menuju Belanda. Negara tempatnya menyepi. Menyendiri. Baginya Belanda memberikan ketenangan dan kenyamanan. Kelembutan yang diberikan Belanda seperti putihnya awan yang di lihat dari puncak Gunung. Keberangkatannya kali itu untuk mendirikan Toko Bunga Tulip dan sekaligus menjadi florist disana.

Ayah Popy adalah tentara yang ikut menghilang tanpa kabar dalam satu operasi. Popy telah meyakini bahwa ayahnya menjadi salah satu korban tragedi itu. Dinding kamarnya dipenuhi foto berfigura milik ayahnya, foto ayahnya sewaktu kecil hingga menjadi komandan pasukan perang ternama dan salah satu yang ditakuti di dunia. Saat isu perang dunia ketiga mencuat, ayah Popy menjadi salah seorang yang menolak dengan keras. Dia meminta Presiden untuk tidak terpengaruh ajakan negara-negara adikuasa untuk bergabung sebagai blok sekutu, menjadi negara pendukung. Presiden yang ketakutan, tidak mengindahkan saran ayah Popy. Nuklir kedua jatuh di Samudera Hindia, dijatuhkan salah satu negara musuh yang mencium keterlibatan Indonesia dalam perang dunia ketiga.

Bandung tempat Popy tinggal sebelum perang dunia ketiga menjadi tempat paling dirindukan Popy. Menjadi wirausahawan muda yang sukses di Jakarta membuatnya tetap merindukan ayah dan ibunya. Seluruh Jakarta mengetahui Popy seorang florist terkenal yang membawahi banyak pegawai dan cabang-cabang toko bunga di seluruh Ibu Kota. Popy memiliki keiingan untuk mulai membuka cabang di luar Jakarta. Memberikan kebahagiaan orang-orang melalui bunga.

Pasca perang dunia ketiga, Popy dipilih untuk menjadi Locke oleh penduduk-penduduk tua. Sampai Popy menemukan pemuda-pemuda yang terkapar dan sendirian tanpa arah, dia membentuk kelompok dan menamainya Namoi, nama toko bunganya, diambil dari kata Naomi yang dalam bahasa Ibrani berarti menyenangkan. Naomi adalah orang Efrata dari suku Yehuda, yang berasal dari Bethlehem, yang merantau ke tanah Moab saat kelaparan hebat melanda Israel.

Popy adalah Locke pertama yang terpikir untuk mencari tempat persembunyian. Beberapa kali berpindah tempat dan kehilangan pasukan karena serangan musuh spartan yang mengincar penduduk-penduduk tua untuk dijadikan bahan makanan. Popy menyiasatinya dengan bersembunyi keluar masuk hutan, membuka permukiman dalam kurun dua hari lalu berpindah, terus-menerus hingga Popy menemukan tempat persembunyian paling aman dibalik gunung tertinggi Jawa yang masih aktif.

Pasca ledakan nuklir yang berulang menghantam seluruh pulau. Indonesia menjadi salah satu negara dengan dampak paling parah, pulau-pulau menjauh dan terpisah menjadi dua. Sumatera terbelah menjadi empat bagian besar yang tersebar terbawa arus laut, Kalimantan pecah berkeping-keping tak berbentuk, Sulawesi terpecah menjadi tiga bagian. Jawa tempat Popy dan banyak kelompok yang masih bertahan terbelah menjadi dua bagian sama besar. Hanya Papua yang utuh, hanya bergeser beberapa meter kearah timur. Sumber Daya Alam di Papua menjadi patokan penting bagi lima negara yang berseteru dalam perang dunia ketiga.

Seorang Locke memiliki satu wingman yang disebut Okaya. Tangan kanan dalam kehidupan berkelompok pasca perang dunia ketiga. Okaya bertugas mengcover Locke. Memberikan informasi yang dapat berpengaruh pada kehidupan suatu kelompok. Peran Okaya sangat krusial dan penting. Okaya harus lebih waspada setiap saat, tidak boleh ada kesalahan yang datang, karena ketika itu terjadi nyawa para penduduk di kelompoknya bisa saja hilang dengan percuma. Okaya memiliki tanda, dua titik hitam di samping mata kanan, yang membuatnya memiliki ketajaman dalam penglihatan, hanya Locke yang bisa melihat tanda di mata kanan Okaya.

Popy memliki Okaya bernama Mara. Dia menemukannya tidak sadarkan diri di perkebunan jagung saat perjalanan persembunyian yang ketiga. Mara adalah seorang dokter bedah di Jogja. Saat nuklir kedua dijatuhkan dia sedang membedah tubuh seorang wanita yang menderita kanker paru-paru. Jogja porak-poranda. Mara memutuskan meninggalkan Jogja untuk menemui orang tuanya. Pergi kearah timur menuju Kediri lalu tumbang di perkebunan jagung selama lebih dari dua hari sebelum Popy menemukannya.

Popy dan Mara selalu melakukan dialog malam saat para penduduk dan prajurit beristirahat. Di dalam rumah pohon berbahan kayu mereka membuat strategi menyerang dan pertahanan diri. Mulai dari mengumpulkan senjata sisa perang dan mencuri persedian senjata para tentara di salah satu gudang senjata. Popy merasa bahwa hanya dia dan kelompoknya yang tersisa di bumi pasca perang dunia ketiga. Mara meyakinkan Popy bahwa keyakinannya salah. Mara merasakan ada kelompok-kelompok lain yang serupa dengan kelompoknya mencoba bertahan hidup dan mendirikan koloni masing-masing, mereka juga mempunyai Okara dan Locke. Bedanya kelompok lain menamai kelompok mereka.

“Jadi perlukah kita menamai kelompok kita?” tanya Popy.

“Namoi??” tanya Mara.

“Itu kan sebutan untuk yang nggak bisa berkelahi dan menggunakan senjata. Kita butuh nama untuk pasukan pria.”

“Albucacis,” jawab Mara tegas.

“Albucacis?? Apa itu??”

“Dia dokter bedah pertama di dunia...”

Albucacis adalah sebutan orang-orang eropa untuk  Abul Qasim khalaf ibn al-Abbas az-Zahrawi. Tidak banyak yang mengetahui kisah masa kecil Albucacis. Saat dia kecil, tanah kelahirannya, Al- Zahra dijarah dan dihancurkan. Albucacis baru dikenal setelah seorang ilmuwan bernama Abu Muhammad bin Hazm menempatkannya sebagai salah seorang dokter bedah terkemuka di Spanyol. Orang-orang mulai mengenal Albucacis saat dia muncul dalam buku Al-Humaydi’s Jadhwat al- Muqtabis setelah enam dasawarsa kematiannya. Resmi, Namoi tetap dipakai untuk sebutan para penduduk tua. Nama Albucacis digunakan untuk pasukan khusus. Cerita dari Mara membuat Popy memutuskan menamai kelompoknya Albucacis.

Pencarian persenjataan oleh Albucacis dimulai, distrik-distrik tentara yang porak-poranda pasca perang dunia ketiga digeledah. Hari pertama pencarian besar-besaran, prajurit dibagi dua kelompok sama besar, masing-masing dikomandoi Popy dan Mara. Sehari pencarian, Popy dan Mara menemukan banyak persenjataan yang bisa digunakan. Senjata laras panjang, pistol, granat, bom asap dan kendaraan pengangkut. Hari selanjutnya mereka mencari hingga Banyuwangi, Popy dan Mara tercengang melihat Pulau Bali yang tampak telah terbelah jadi beberapa bagian, Nuklir dari salah satu negara bertubi-tubi menyerang Bali, karena mengira Bali tempat persembunyian salah satu pemimpin negara yang terlibat.

Hanya tersisa beberapa angkutan laut yang bisa digunakan. Pelabuhan dan dermaga juga ikut terkena imbas serangan Bali. Banyuwangi menjadi kota mati, mayat-mayat yang dimakan binatang mulai menyisakan tulang-belulang. Mara meramal bahwa pasukan Spartan dari wilayah berbeda telah mengangkut banyak mayat untuk dijadikan bahan makanan. Terlihat dari jejak darah di aspal jalanan. Saat Pasukan Popy dan Mara kembali pulang ke tempat persembunyian, mereka menemukan satu tank di perjalanan. Popy menyuruh seorang untuk memeriksa bagian dalam Tank. Beberapa menit kemudian, prajurit yang masuk ke lambung tank tidak kunjung keluar. Popy mencoba memeriksa tapi Mara mencegahnya. Matanya mengisyaratakan kepada Popy untuk mundur.

Perlahan, Mara mulai mendekati tank. Mara menyiapkan bom asap, belum sempat Mara melempar bom, seorang keluar dari lambung tank dengan senjata laras panjang, menembaki secara membabi buta, Prajurit Albucacis berlindung di balik mobil-mobil. Popy menatap Mara, menyuruhnya menyerang, Mara mengangguk. Dari bagian bawah tank, Mara mengambil pisaunya di saku kanan, saat musuh berhenti menembak untuk mengganti magazine, Mara meloncat menusuk bagian leher, seketika musuh tumbang—jatuh ke lambung Tank. Suasana berubah kondusif, Popy dan Prajurit Albucacis berjalan mendekati tank, Mara masuk ke lambung tank. Popy naik ke bagian atas, menunggu Mara keluar sembari melihatnya melalui pintu. Dua mayat tergelatak. Mara melucuti senjata dan pakaian.  

“Gimana??” tanya Popy saat Mara keluar.

“Cuma ini yang bisa kita bawa,” Mara menunjukan senjata dan pakaian.

“Tanknya??” tanya Popy, lagi.

“Percuma, nggak ada amunisi,” Mara turun, menyerahkan senjata dan pakaian pada salah satu prajurit.

“Kenapa kamu lepas seragamnya??” Popy ikut turun.

“Mungkin, dia salah satu prajurit koloni yang tertinggal saat mencari persembunyian. Kita bisa manfaatkan seragam ini untuk menyamar,” Mara menaiki kendaraan angkut.

Popy tersenyum, bergegas naik, duduk di kursi kemudi. Kendaraan angkut itu berwarna hijau tua, dengan bagian belakang terbuka yang bisa mengangkut sepuluh prajurit. Dalam perjalanan menuju camp, Mereka sesekali berhenti di beberapa pom bensin untuk mengambil sisa bahan bakar sebagai persediaan.

Dua kilometer sebelum sampai kaki gunung. Mara menyuruh Popy menghentikan laju kendaraan angkut. Seketika enam prajurit yang ada di bak terbuka saling tubruk karena rem yang diinjak Popy. Seorang prajurit menanyakan kenapa kendaraan angkut berhenti. Mara mengacungkan telunjuk di depan bibir. Tanda mengkomandoi untuk tidak bersuara. 

Perlahan, Mara membuka pintu mobil, dan tidak menutupnya. Jalan berpasir halus yang membelah hutan itu sepi, tidak ada objek lain selain Albucacis. Mara berjalan beberapa meter ke depan. Popy dan enam prajurit lain menatapnya penasaran. Mara berhenti di satu titik, lalu melihat sekitar berulang kali. Mara jongkok, mengambil pisau dari saku celananya. Pisau itu dipantulkan pada cahaya matahari sore. Mara melihat seutas benang yang melintang di jalan.

Lihat selengkapnya