Di Antara Dua Jendela

Larasati
Chapter #1

Rumah yang Terlihat Biasa

Sepasang mata mengerjap, disambut oleh cahaya remang di dalam bilik kamar sederhana berukuran tiga kali lima meter. Sepasang mata yang jauh dari bulu mata lentik. Namun, tumbuh lebat dan panjang. Mata itu bagai jendela yang luas; bundar dan penuh. Ia sudah mengabdi selama dua puluh tujuh tahun, meski kini ketajamannya mulai memudar.

Pandanganku menyapu seisi ruangan, menangkap satu persatu objek di dalamnya. Dinding kamar dengan warna beige, memberikan kesan hangat. Beberapa helai pakaian yang baru sekali pakai menggantung pasrah, menanti tangan yang akan memindahkannya ke dalam lemari.

Tanganku dengan warna kulit kuning langsat khas wanita Indonesia, meraih ikat rambut di atas kasur. Gerakanku hampir mengenai tubuh kecil yang tengah terlelap nyenyak. Kedua sudut bibirku membentuk lengkungan.

Bayi yang dulu hanya bisa kutimang, kini perlahan mulai mampu merangkai kata. Kaki yang dulu menendang pelan di dalam rahim, kini telah menjadi tumpuan untuk berjalan dan berlari.

Kecupan ringan mendarat di kening gadis kecilku, Hafshah Humaira. Ia bukan hanya sekadar buah hati, melainkan amanah dari Allah, yang kehadirannya, menjadikanku seorang Ibu. Darinya, aku belajar banyak hal. Ia bagai perpustakaan langit yang dititipkan Allah untukku.

Kasur berderit saat aku bangkit. Kakiku melangkah menuju jendela, membuka tirai berwarna cokelat muda itu perlahan. Kubuka jendela kamar. Kubiarkan udara subuh menyelinap masuk melalui celahnya.

Di luar sana, siluet pemandangan berbalut cahaya violet tampak memukau. Bukit yang rimbun dan padang ilalang seolah menari disentuh angin. Aku segera mematikan kipas angin yang sedari malam setia menemani.

Pintu berderit, cahaya lampu putih terang menyambutku di luar. Telingaku menangkap suara seseorang tengah melantunkan ayat suci Al Quran di ruang keluarga. Kutatap sejenak sosok yang kini tengah duduk di atas ubin dingin itu. Seolah menyadari kehadiranku, ia lantas menghentikan bacaannya.

“Eh, sudah bangun, Tuan Putri?” sindirnya yang justru membuatku tersenyum menahan tawa. Ia menepuk lantai di sebelahnya, memintaku duduk. Kulirik jam dinding pukul 05.30 WIB. Pantas saja gelar itu ia sematkan padaku.

“Bikinkan Kakanda kunyit madu ya, Tuan Putri!” pintanya dengan senyuman khas yang selalu membuatku tersipu.

“Apa harus sekarang Kakanda? Bukankah lebih baik Adinda salat dahulu?”

“Membuatkan minuman tidak selama memasak rendang, Tuan Putri.” Gurauannya membuat tawaku lepas.

“Baiklah, Kakanda. Adinda buatkan kunyit madu sianida kesukaanmu,” candaku sambil melangkah menuju dapur yang berdampingan dengan ruang keluarga.

“Mau bunuh aku kamu?” Gelak tawa kami menggema. Memecah kesunyian rumah yang masih sepi dari perabotan.

Lelaki itu bernama Haris, suamiku. Kulitnya sawo matang, hidung lancip, mata elang, dan alis yang tegas. Jenggot yang tumbuh dengan rapi pada dagunya, serta kumis yang sedikit tebal, tapi masih bisa ditoleransi. Ya, sangat “Bapak-able.”

Lihat selengkapnya