Dua bulan berlalu.
Aku berdiri di sebuah ruang tunggu di rumah sakit, lalu duduk perlahan pada sebuah bangku. Sepasang tangan membantuku sigap, seolah lisannya berkata, “Duduklah, nanti pusing.” Dia Haris—suamiku.
Bunyi langkah kaki terdengar dari dalam ruang tindakan. Perlahan, pintu di depanku, terbuka. Hawa dingin seketika memeluk pori-poriku, menembus gamis yang seolah terasa setipis kertas. Kuperhatikan wajah perawat yang kini menghampiri kami.
“Bu, kita ganti baju dulu, ya,” ucapnya sambil menyerahkan sebuah baju operasi pasien. “Dibantu pasangkan ya, Pak!” lanjutnya.
“Baik, Sus!” Jawab Bang Haris seraya memintaku untuk menanggalkan atribut muslimahku demi pakaian tipis ini.
Ruangan itu dingin dan mencekam. Sementara pakaian ini begitu tipis. Baju berwarna hijau botol, berbahan katun yang dingin. Bagian belakang pakaian itu terbuka. Aku tidak masalah dengan dinginnya ruangan itu. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika sebagian auratku harus tersingkap.
Kini, baju itu terpasang rapi di tubuhku. Kepalaku yang semula tertutup balutan khimar, kini berganti menjadi penutup kepala medis yang hanya menutup rambut, bukan seluruh auratku.
Aku membatin, “Semua Ibu, akan melakukan hal yang sama demi melahirkan buah hati yang ia nantikan. Termasuk aku.”
“Sayang! Doakan aku agar proses bersalinku lancar, ya,” ucapku pada Bang Haris yang kini menatapku dalam.
Kecupan ringan mendarat di keningku. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Membentuk sebuah lengkungan. Tatapan matanya dalam dan penuh binar, seolah ada doa yang hanya ia dan Allah yang tahu.
“Semoga Allah menjagamu,” doanya seraya melepaskanku berjalan menuju ruang tindakan.
Di dalam ruangan dengan suhu 19 derajat celsius itu, suhu yang sejatinya masih bisa ditoleransi. Namun, tidak untuk hari ini. Seorang dokter anestesi datang membawa sebuah jarum suntik berukuran besar.
Dokter pertama yang meninggalkan bekas trauma pada jiwaku. Rasa sakit ketika jarum suntik itu menembus punggungku tak seberapa dibandingkan dengan tutur katanya yang menembus jantungku.
Sebuah kalimat desakan dengan nada yang tinggi kudengar dari lisan seorang dokter yang juga seorang wanita.
“Bungkuk lagi, Bu! Jangan kaku!” teriaknya, sambil membungkukkan punggungku dengan kasar. Nada itu tinggi dan penuh ancaman, memantul di dinding ruangan yang kaku, membuat keberanianku yang tersisa menciut seketika.
Tanpa bantahan, aku mengikuti arahannya hingga drama itu berakhir. Jarum suntik itu, berhasil menancap. Aku bahkan tak lagi dapat merasakan sakitnya jarum suntik di punggungku, yang ada hanyalah dingin yang seolah membuatku beku.
“Coba angkat satu kakinya!” pinta dokter kandungan padaku.
Aku mengikuti instruksinya. Namun, kakiku seolah ditimpa sesuatu yang sangat berat, hingga aku kesulitan mengangkatnya. Perintah demi perintah kulakukan, hingga sampai pada titik di mana sebagian tubuhku ikut membeku bersama dinginnya ruangan.
Tubuhku diangkat belasan tangan menuju sebuah meja operasi yang hanya muat untuk satu tubuh. Sorotan lampu kuning menyala terang. Denting suara alat medis bersahutan. Para dokter itu berbincang santai. Sementara aku, sibuk mendengar kalimat-kalimat abstrak yang berisik di dalam benak.
Sayatan demi sayatan bagai sebuah gesekan benda tumpul pada kulitku. Tubuhku seolah hilang kendali. Bukan berontak menahan sakit, melainkan dingin yang mencekam menggerogoti seluruh tubuhku.
Aku menoleh pelan ke arah suster yang terus setia memantau denyut nadiku. Kemudian satu kata memberikannya pemahaman apa tindakan yang harus ia lakukan.
“Dingin, Sus!” ucapku dengan nada gemetar menahan dingin.