Di Antara Dua Jendela

Larasati
Chapter #3

Ledakan-Ledakan Kecil yang Tak dimengerti Orang

Jemariku menari lincah di atas keyboard layar ponsel. Sebuah kebiasaan buruk yang sulit kutinggalkan ketika malam berhasil menenggelamkan siang. Haifa sudah menyatu dengan buai-buai mimpinya. Hafshah dan Mama mertuaku telah berlayar di samudera mimpi.

Jam menunjuk pukul 21.00 malam. Namun, kedua mataku masih memilih untuk terjaga. Lampu ponsel menjadi satu-satunya teman di kegelapan kamar. Telunjukku sibuk bergulir dari satu postingan ke postingan lainnya. Seolah aku tengah mencari suatu kepuasan di dalam sana yang harus segera diisi agar aku dapat menutup malam ini dengan tenang.

Tiba-tiba sebuah pesan Whastapp masuk. Kontak dengan nama Zauji—suamiku muncul di notifikasi ponsel. Telunjukku segera beralih membuka pesan darinya.

“Sayang. Mau beli baju?” Tawarnya. Aku membalas pesan itu dengan sigap.

“Mau, beli di mana?” Tanyaku.

“Ada baju thrift di Facebook. Kamu beli aja. Harganya murah kok cuma lima ribuan.”

“Wah, maa syaa Allah. Oke. Makasih Sayang. Jazaakallahu khair.

“Ya, afwan. Ini linknya. Klik, ya.”

“Oke!”

Sejatinya aku tak pernah tertarik dengan dunia shopping. Selain karena menghabiskan waktu memilih barang-barang yang dicari, hal itu juga membuat tenagaku perlahan terkikis. Namun, karena suamiku sedang royal, maka tak masalah jika aku menerima tawarannya.

Telunjukku mulai menekan link yang telah dikirimkan oleh Bang Haris. Dan, sesaat kemudian, pandangan mataku seolah terjangkit sebuah virus. Namun, ini sungguh menyenangkan. Semua orang berlomba-lomba untuk bisa mengetik dengan cepat. Jemari terlincah di atas keyboard akan lebih dulu mendapatkan baju yang ia suka.

Kecepatan mata dan jemariku meningkat hingga seratus persen. Tubuhku yang seharusnya sudah lelah, kupaksa begadang demi baju-baju yang tampak indah di mata. Sederet pujian dari seller dan konsumen yang ikut serta dalam kompetisi ini berdatangan padaku. Aku merasa seolah dunia malam ini menjadi milikku.

Pikiran seolah berbicara, “Lihat lah! Kamu berhasil mengalahkan semua orang. Kini, kamu adalah pemenangnya. Kamu lah yang berhak mendapatkan baju-baju itu. Terus lakukan! Sampai mereka mengalah dan menyerahkan hak menang padamu.”

Jam menunjuk pukul 21.40 malam. Namun, tubuhku semakin malam semakin berenergi. Seperti ponsel yang baru saja selesai mengisi daya hingga seratus persen. Rengekan kecil Haifa membuyarkan kecepatan pikiranku. Namun, tidak dengan jemariku yang terus aktif mengetik kode-kode baju yang kuinginkan.

Tanganku dengan sigap menggendong Haifa ke dalam dekapan. Kemudian mulai menenangkannya dengan air susu. Tak ada lagi suara bising yang membuyarkan pikiranku. Kini, aku bisa dengan leluasa menemani duniaku dalam genggaman.

Detik waktu terus berputar. Hingga menunjuk pukul 22.00 malam. Namun, semakin malam, tubuhku semakin berenergi. Seolah rasa kantuk itu menyerah memberi alarm pada mata dan tubuhku. Saat aku masih setia dengan jemari lincahku di atas keyboard, tiba-tiba …

What? Kenapa enggak bisa send lagi?” Aku diblokir.

Tak mau hilang kesempatan, aku lantas mengirim pesan pada akun seller tersebut.

“Kak! Aku Larasati Arab yang tadi ya, Kak. Gak bisa lagi aku belanja, Kak. Udah di-banned komentarku sama FB. Padahal masih mau belanja aku, Kak. Hehehe.”

Tak ada balasan, membuatku semakin penasaran dan bertanya-tanya. Aku merasa belum cukup puas dengan belanjaku. Belanja yang seolah menjadi arena kompetisi bagiku.

Seharusnya aku sudah menyerah dan memilih tidur. Namun, entah mengapa rasanya kepalaku begitu bising. Ada banyak narasi-narasi yang melambungkan semangatku. Ada rasa belum puas yang terus bergentayangan.

Jemariku kembali mengetik sebuah pesan pada akun seller tersebut.

“Berapa total belanjaku, Kak? Kapan diantarnya?” tanyaku penasaran.

Masih hening. Belum ada balasan apa pun darinya. Hingga aku melanjutkan malam dengan terus menatap layar ponsel. Mencari entah apa. Menggali sebanyak mungkin informasi yang sejatinya tak teramat penting untuk diketahui.

Detik waktu bergulir. Tanpa terasa, jam menunjuk pukul 2.00 dini hari. Aku tersentak kaget, menatap jam pada layar ponselku.

Lihat selengkapnya