Sekarung baju yang kini telah menganga itu hanya bisa kutatap dengan pasrah. Kekehan bersahutan seolah mengejekku. Ya, memang semestinya aku layak mendapatkan ejekan itu. Bahkan jika pun ada yang mengatakan aku boros, aku akan terima dengan lapang dada. Hanya saja, saat itu aku bersyukur, karena suami dan mertuaku hanya menertawakan tindakan anehku itu.
“Ini kekecilan semua loh. Bahannya juga panas. Kamu belanja, apa gimana?” Bang Haris membentangkan satu per satu baju tersebut. Kemudian menggelengkan kepala seolah tak menyangka dengan apa yang baru saja ia lihat.
“Ya, kan bisa dikasih orang,” balasku dengan wajah yang mulai menunjukkan tanda-tanda kesal.
“Enggak bisa ini dikasih ke orang. Buat kain lap aja belum tentu nyerap air.”
Spontan mimik wajahku berubah. Kedua sudut bibirku terangkat, dan perlahan tawa itu pun membuncah ruang tamu yang semula dingin oleh diamnya manusia di dalamnya.
Mama yang sudah akrab dengan hening, seketika kembali pada tawa semula. Ia bahkan tanpa sengaja mendorong bahuku saking tak kuasanya menahan geli atas kalimat yang diucapkan oleh Bang Haris—anak kandungnya yang kini menyebalkan di mataku.
“Enggak apa-apa, bajunya nanti biar kita filter lagi. Kita pilih mana yang masih layak buat dipakai, dan mana yang layak buat kain lap. Atau sebagian juga kalau ada yang bagus kita kasih ke tetangga,” usul Mama seolah ingin menenangkanku.
Dering ponsel berbunyi. Menghalau percakapan kami barusan. Bang Haris segera mengangkat ponselnya yang menampilkan wajah wanita, yang tak lain adalah kakak iparku—Kak Feby.
“Mana, mana bajunya?” tanya Kak Feby penuh semangat. Terbukti dari nyaringnya suara itu hingga memantul penuh gema di ruang tamu yang sunyi ini.
“Nih! Pilihlah! Mana tahu ada yang kecantol di hati,” balas Bang Haris sambil menyoroti tumpukan baju yang tergeletak pasrah di atas lantai ruang tamu.
Suara tawa Kak Feby membuncah di balik layar ponsel. Kemudian ia meminta agar Bang Haris membentangkan satu per satu bajunya supaya ia dapat memilih mana baju yang menarik baginya.
“Nah, yang itu! Simpan buatku, ya. Itu juga. Simpan! Ha, itu tu! Satu.” Semua kalimat itu hampir sama. Hingga Bang Haris terkekeh bersamaan dengan suara cekikikan Mama.
“Sama aja kalian berdua,” sarkas Bang Haris padaku dan Kak Feby.
Aku dan Kak Feby lantas tertawa bersama. Mama yang sedari tadi sulit menahan tawa kini mencoba menghentikan gelak tawanya dengan meminum seteguk air putih yang berada di sampingnya.
Setidaknya, aku bersyukur, tak ada kalimat makian yang ditujukan padaku. Tak ada penghakiman yang bertubi. Dan, aku beruntung. Setidaknya, aku hidup di tengah keluarga yang menerima segala kekuranganku.
Satu bulan berlalu.
Gemericik air mengawali subuhku dengan suara damai. Suara itu berasal dari tempat wudu. Pandanganku mengarah pada sosok wanita lansia yang tengah berwudu. Dia—Mama. Aku berdiri tepat di belakangnya, menanti giliranku dengan sabar.
Mama pun menyelesaikan aktivitas wudunya. Tiba-tiba …
“Astaghfirullah!”
“Astaghfirullah! Ada apa, Buk Mar?” kagetku seraya mengalihkan pandanganku ke belakang. Mengira bahwa mungkin saja Mama melihat sesuatu yang aneh di belakangku.