Di Antara Dua Jendela

Larasati
Chapter #5

Jatuh ke dalam Kekosongan

Suara nyaring dari mesin cuci masuk melewati celah telingaku. Setelah pikiran jahat itu bergumul di kepalaku pagi tadi, kini aku hidup bagai manusia tanpa nadi. Mematung, menatap ke arah mesin cuci yang kini telah menyelesaikan tugasnya. Rasa mual yang tadi mendesak lambungku kini sedikit mereda—oleh hembusan angin yang masuk melewati celah jendela. Seolah Tuhan sengaja mengirimkan untuk menenangkanku.

Aku menarik napas pelan, walau sejatinya jantungku terus berdebat dengan paru-paru. Sehingga rasa sesak itu masih terus hinggap di sana. Satu embusan panjang keluar dengan sedikit tekanan dari mulutku. Aku memaksanya untuk lekas mengambil alih oksigen yang hampir saja lenyap dari paru-paruku.

Saat aku hendak bangkit untuk mengambil cucian yang telah kering pada mesin cuci, suara langkah kaki kecil terdengar memenuhi sunyinya rumah di pagi itu. Spontan, aku menoleh ke asal suara. Ternyata, Hafshah sudah terbangun. Seperti biasa, ia selalu mengawali pagi dengan pelukan, dan meminta kecupan di pipinya dariku.

“Sudah bangun, ya, sayangnya Umi?” sapaku dengan lembut seraya menggendong tubuhnya yang tanpa terasa semakin hari semakin berat dan meninggi.

Sepotong roti dan susu telah kuhidangkan untuk menemani paginya. Haifa masih larut dalam lelapnya. Ini bisa sedikit memberi ruang untuk aku bernapas dan santai dalam mengerjakan pekerjaan rumah yang seakan tiada habisnya.

Cucian yang belum dijemur, piring-piring yang masih menjadi santapan bakteri dari semalam. Rumah bagai arena pertempuran antarnegara. Ya, ini lah dilema ibu rumah tangga setiap harinya. Dan, siklus ini hanya sementara. Karena ketika anak kecil yang manja dan serba butuh bantuan itu dewasa, rumah ini akan selalu rapi dan indah. Saat itu lah, kerinduan menjelma menjadi hal yang menyiksa jiwa.

Aku duduk menatap Hafshah sejenak. Sembari menunggu cucian ronde kedua selesai digilas oleh mesin cuci. Kutatap lamat-lamat wajah polosnya yang selalu menjadi tempat pelampiasan amarahku. Dadaku seolah ditimpa beban yang berat. Ada sesak yang kutahan sedari tadi.

Hingga wajah polosnya Hafshah, membuat semua gelora tangis itu tumpah. Aku menepisnya segera dengan tanganku. Menampilkan seuntai senyuman yang kehilangan nyawa. Ada tangis di baliknya yang kusimpan rapat-rapat. Bahkan orang tuaku sendiri, tak pernah melihat derainya semenjak aku dewasa. Termasuk suamiku.

Biarlah kusimpan segala duka yang tak kumengerti itu di dalam hati. Karena jika pun berhasil kuungkapkan, tak seorang pun bisa memahami. Bahkan, diriku sendiri.

“Umi, enak Umi,” ucap Hafshah mengalihkan sejenak tangis yang tersimpan rapat di hati.

Tatapan nanar itu kembali pada realita. Bibirku spontan membentuk lengkungan. Sesekali tanganku mengusap lembut pipinya. Ia terlihat bahagia ketika aku bersikap bagai malaikat yang lembut.

Entah lah, apa yang ada di benaknya saat malaikat di dalam jiwaku tiba-tiba berubah wujud menjadi sosok iblis yang menakutkan lagi kejam. Anak sekecil ini, sudah harus bertarung dengan sulitnya memahami kepribadianku yang seperti ada dua jiwa di dalamnya.

“Kak, Umi izin mau jemur kain dulu, ya, Nak. Kakak makan sendiri, ya,” ucapku padanya kemudian berlalu menuju ruang laundry.

Hafshah membalas dengan anggukan, seraya tangan kanannya terus memberi suapan roti ke dalam mulutnya.

Mentari pagi yang hangat, kini berganti dengan siang yang panasnya menyengat. Rumah yang semula bagai arena tempur, kini sudah rapi. Tumpukan piring-piring yang semula mengantre untuk dijamah, kini sudah bersih dan tertata rapi di rak piring. Kain-kain basah tadi pagi, telah mengering berkat sengatan mentari.

Langkah kakiku berjalan menuju dapur rumah yang berdampingan dengan ruang keluarga—tempat di mana anak-anakku bereksplorasi dengan rutinitas sibuknya, yaitu dunia bermain.

Suasana terasa hening siang ini. Tak ada bisingnya suara kendaraan, karena aku tinggal di perbukitan yang bebas dari sibuknya jalan raya. Tak ada nyaringnya sound system tetangga yang seolah dunia miliknya sendiri ketika menyetel musik dangdut kesukaan mereka. Hanya ada suara cicitan sekumpulan burung yang wujudnya tak pernah kujumpai.

Lihat selengkapnya