Hari ini juga senja. Namun, bukan senja yang beberapa hari lalu membuatku terperangkap dalam jaring kekosongan. Senja di luar sana, kini dapat menciptakan senyuman di sudut bibirku. Seolah ragaku telah berhasil kuambil kembali dari tangan-tangan gaib yang selalu kuyakini sebagai tersangka utama runtuhnya imanku.
Ruang sunyi di dalam sana, kini sedikit mereda seiring berputarnya waktu. Menurutku, sangat tak elok bagi seorang ibu untuk terus larut dalam kesedihan tanpa arah. Yang ujungnya hanya akan menjadikannya malas untuk melakukan segala aktivitas yang pastinya, butuh tangannya untuk bergerak.
Setelah dunia di dalam kepalaku beberapa hari lalu penuh kecamuk. Kini aku bagai hidup tanpa ada masalah. Isi kepalaku terasa kosong dan ringan kembali. Suara-suara yang hanya nyaring di kepala itu, kini berlalu entah kemana. Mungkin, ia hanya pamit sesaat untuk mengisi daya tenaganya. Atau, bisa saja lelah menghadapi aku yang terkesan tidak memedulikannya lagi. Hanya satu harapanku, semoga, ia tak kembali lagi selamanya.
Senja itu, saat di mana aku memiliki sedikit jeda waktu, aku menyempatkan diri untuk melihat beberapa unggahan status WhatsApp teman-temanku. Hingga jemariku terhenti pada sebuah status milik salah seorang kakak sekaligus tetanggaku di kampung dulu. Dan kini, beliau telah tinggal di luar negeri—tepatnya di Perth, Australia.
Sebuah status yang begitu menggugah hati dan membuat semangatku menggebu-gebu. Di mana saat itu, ia tengah mengajari putra keduanya membaca Al Quran. Padahal, kala itu putranya baru berusia empat tahun. Rasa penasaran mendesakku untuk menghubunginya—menanyakan bagaimana cara ia mendidik dan mengajarkan anaknya sehingga ia bisa membaca Al Quran di usia dini.
Saat itu, beliau pun mengarahkan Hafshah dan aku untuk mengikuti ABKA (Agar Balita Khatam Al Quran). Aku begitu antusias saat mengetahui hal itu. Rasa penasaran itu harus segera kutuntaskan dengan cara merealisasikannya. Begitu isi pikirku. Tanpa kusadari, padahal untuk masuk ABKA butuh biaya yang lumayan menguras isi dompet. Hingga senja itu, aku memikirkan cara bagaimana agar suamiku bisa luluh lalu mengizinkanku serta Hafshah untuk bergabung di sana.
“Ya, mungkin cara ini bisa juga,” lirihku sambil menatap peralatan make up di dalam brankas lemari.
Langit jingga di atas sana perlahan berganti temaram. Suara merdunya burung, kini berganti nyaringnya suara jangkrik dan katak yang saling bersahutan. Riuhnya tawa kedua anakku menjadi alasan bagiku untuk tersenyum di permulaan malam ini. Mereka sedang asyik bersenda gurau. Hingga sebuah suara motor berhenti di teras belakang rumah mengalihkan dunia bermain mereka.
Hafshah lantas berlari menuju pintu belakang. Karena seperti biasa, suamiku selalu pergi dan kembali lewat pintu belakang tersebut. Dengan penuh antusias, ia berdiri di belakang pintu menyambut sang Abi seraya membuka pintunya dengan antusias.
“Abi!” Teriakan penuh cerianya memantul pada dinding-dinding ruangan.
“Assalammu’alaikum! Maa syaa Allah. Anak Abi.” Bang Haris menggendong tubuh kecil Hafshah seraya mencium pipinya. “Mana, Umi dan Adek?” tanyanya kemudian, seraya melirik padaku dan Haifa yang tengah berada di ruang keluarga.
Aku lantas berjalan menujunya bersama Haifa dalam gendonganku.
“Wah! Maa syaa Allah. Uminya cantik,” pujinya seraya mencium keningku.