Suara tenang gemericik air yang turun dari langit menemani malamku setelah magrib ini. Kubiarkan jendela ruang tamu sedikit terbuka, agar udara segar itu dapat masuk. Ya, sejatinya bukan karena aku mengharapkan adanya udara yang bisa memberikan kesejukan untukku malam ini, melainkan … aku menyukai aroma hujan. Tatkala rintiknya menyentuh tanah, dan tanah dengan ikhlas menyerapnya, kemudian menjadikan aroma khas itu tercipta. Sungguh, Maha Kuasa Tuhan atas segala yang Ia ciptakan.
Dalam suasana tenang ini, aku memutuskan untuk sejenak berinteraksi dengan Al Quran. Ya, sudah begitu lama rasanya aku tak membacanya. Bahkan untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya pun aku jarang. Aku merasa rindu dengan masa-masa awal di mana aku baru saja menanggalkan dunia gelapku menuju cahaya hidayah.
Hijrah. Dulu, di tahun 2018 itu, belum begitu ramai orang-orang mengenal kata itu. Sebagian bahkan masih menganggap tabu gamis dan khimar yang kini menjamur. Bahkan aku harus bersembunyi dari orang tuaku untuk menggunakan cadar yang biasa aku pakai saat hendak pergi ke kajian. Aku harus mengenakan masker dari rumah, kemudian menggantinya saat berada di toilet umum, yang terdapat di salah satu toko oleh-oleh di Kota Padang.
Berbeda dengan sekarang. Pandemi Covid-19 telah mengubah sudut pandang orang. Masker kini menjadi hal yang lazim. Padahal dulu, menggunakan masker di tempat umum, terutama bagi muslimah berbusana syari—akan mengundang tatapan penuh tanya, seolah penggunaan masker hanya untuk orang yang sedang sakit parah atau membawa virus yang berbahaya.
Aku masih ingat, dulu Ibu sampai menyuruh menanggalkan maskerku saat aku tengah menunggu angkutan umum untuk mengantarkanku ke kajian di salah satu masjid di Kota Padang. Kebetulan, jarak antara rumahku dan lokasi tersebut cukup jauh. Sekitar satu jam perjalanan.
Kala itu, bukan demi mengutamakan adab dan akhlak, aku lebih kepada tidak mau memperpanjang masalah dengan Ibu—akhirnya kulepas sudah. Namun, kembali kukenakan saat aku telah masuk ke dalam angkutan umum.
Demikianlah dinamika hijrahku. Di mana Al Quran selalu menjadi teman di segala gundahku di mana pun dan kapan pun. Membuatku terlupa bahwa dunia masih memiliki koneksi denganku. Zikir pagi dan petang seolah tak pernah hengkang dari lisan ini. Sewaktu saja terlewat, aku akan merasa begitu sedih hingga meneteskan air mata penyesalan.
Akan tetapi, kini entah kemana semua rasa itu. Semua seolah hambar. Al Quran yang dulu menjadi teman di segala gundah, kini seolah menyerah menyentuh kalbuku. Zikir-zikir yang dulu akrab dengan lisan, kini kubiarkan berlalu tanpa adanya penyesalan.
Batinku bergejolak—melempar sebuah tanya; “Mengapa setelah menikah, justru aku semakin jauh dari amalan yang dulu konsisten kulakukan?” Renungku malam itu. Mendung di bilik hati pun seolah bergemuruh. Paru-paruku bagai kekurangan oksigen. Pandangan mata pun dipenuhi oleh genangan air yang kuharap ia tak akan turun seperti hujan di luar sana.
Kualihkan semua rasa sesak itu dengan mengakhiri perenunganku. Mungkin aku hanya tengah berada di fase turunnya iman. Aku mengambil ponselku yang berada di sisi kiriku, tepatnya di atas sofa merah di ruang tamu yang kujadikan tempat untuk merenung sedari tadi.
Tiba-tiba, aku terpikirkan satu hal. Kala hujan membawa doa-doaku ke langit, lalu Allah kabulkan secepat kilatan cahaya. Aku ingat, ada mimpiku yang belum kulabuhkan lewat doa dari kemarin. Ya, aku ingin anakku Hafshah bisa ikut ABKA bagaimana pun cara Allah mengabulkannya.
“Ya Allah, Engkau lebih tahu apa yang saat ini sedang hamba butuhkan. Hamba hanya ingin menjadi Ibu yang salihah dan bisa mewariskan ilmu kepada anak-anak hamba. Ya Allah, jadikanlah anak-anakku dapat membaca Al Quran di tanganku. Dan, mudahkanlah aku dalam mempelajari ilmu Al Quran.”
Angin berdesir mengikuti lantunan doaku. Seolah angin hendak membawa doa-doaku menuju langit. Suara gemuruh langit di malam itu terasa mencekam. Namun, bagiku ini adalah waktu yang mustajab untuk menengadahkan tangan, memohon kepada-Nya agar segala hajat dikabulkan.
Kusalurkan semua kebahagiaanku setelah berdoa singkat, dengan mengabadikan momen isi doaku dalam sebuah status. Ya, sejatinya aku sama sekali tidak menyebutkan secara detail isi doaku baru saja. Aku hanya mengetik ulangnya seperti ini;
“Ya Allah, hari ini di saat pintu langit-Mu terbuka karena hujan, aku tahu bahwa ini adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Maka, kabulkanlah segala doaku dan doa orang-orang beriman.”
Tanpa perlu menunggu waktu bergulir menjadi satu jam penuh, sebuah notifikasi pesan whatsapp tertera di layar ponselku. Aku bergegas membuka pesan tersebut. Pesan itu ternyata adalah dari kakak tetanggaku di kampung dulu. Beliau memang tak ingin aku memublikasikan namanya. Jadi, biar kuberi nama penggantinya menjadi, Wulan.
“Laras. Hafshah jadi ikut ABKA?” Isi pesan beliau padaku. Aku pun bergegas membalasnya.
“Qaddarallah, Kak. Kayaknya Abi Hafshah belum ada respon.”
“Ini Kakak ada 500 ribu. Laras pakai, ya, buat daftarkan Hafshah ABKA.”
Diam, mulutku bagai terkunci saat membaca isi pesan itu. Secepat itukah doaku terangkat ke langit? Demikian pikirku saat itu. Air mataku menggenang di balik kelopak mata. Aku yang telah lama lalai dari amal-amal salih, ternyata saat berdoa dengan harapan penuh, dan benar-benar kugantungkan hanya kepada Allah, Allah mendengarnya dan mengabulkannya secepat itu.
Malam sejati mulai datang. Setelah langit temaram berganti dengan kanvas hitam pekat. Bintang-bintang mulai kembali bertaburan di atas sana. Seolah memberi tanda, bahwa hujan telah pulang. Rembulan hanya menampilkan sedikit cahaya sendu di malam ini. Karena baru saja melepas kepergian hujan, yang menjadikan langit seolah berkabung.
Mungkin hujan bagi sebagian manusia adalah suatu hal yang menjengkelkan. Namun, ketika seseorang memahami berkah di balik setiap tetesnya, maka … akan banyak lisan yang bersyukur atas kehadirannya. Itulah mengapa doa pun begitu cepat terangkat menuju langit pada saat hujan, karena rahmat Allah sedang turun, dan pintu langit sedang terbuka.
Suara tawa Hafshah saat mengajak bermain adiknya—Haifa—terdengar nyaring di rumah sederhana kami. Hingga seperti biasa, suara sebuah motor yang mematikan mesinnya di teras belakang rumah pun menjadikan gelak tawa mereka terhenti sesaat. Hafshah lantas berlari menuju pintu belakang.