Hari ini adalah hari pertama Hafshah mengikuti ABKA. Kartu pertama kuambil dari tumpukan flash card berwarna putih, bermotif buah sebagai bingkainya. Hafshah memerhatikan huruf berukuran besar yang terdapat di dalam flash card tersebut. Bang Haris duduk di sampingnya sambil menunjuk huruf di dalam flash card tersebut. Aku bagian dokumentasi progres belajar Hafshah.
“Sebelum belajar, kita doa dulu yuk, Nak,” ajakku seraya mulai melafalkan basmalah dan doa sebelum belajar.
“Ini huruf apa, Nak?” tanya Bang Haris lembut seraya menunjuk huruf berharakat fathah pertama yang dikenalkan padanya, yaitu huruf … “ma”.
Bibir mungil itu perlahan membuka. Ia mulai melontarkan huruf yang ia dengar.
“Ulang sekali lagi ya, Nak. Ma! Ayo ikuti! Ma! Ma! Ma!” ucapku dengan perasaan bahagia seraya memerhatikan gerak bibir Hafshah.
“Ma! Ma! Ma!” ucapnya kembali, sambil sesekali menguap kecil. Mungkin matanya masih mengantuk karena bangun terlalu dini. Bahkan diusianya yang baru 3 tahun 3 bulan ini, rasanya begitu cepat ia bangun bahkan melaksanakan salat subuh bersama.
“Alhamdulillah. Maa syaa Allah, Kakak berhasil!” Bang Haris mengangkat tinggi tangan Hafshah sehingga kini ia terlihat bersemangat.
Mataku menghangat. Satu huruf kecil hasil dari doa di bawah hujan. Tangis yang kali ini kuberi nama syukur.
Setelah proses belajar selesai, kini aku mulai membagikan dokumentasi video belajar Hafshah tadi ke sebuah grup progres belajar ABKA di Telegram. Semua orang tua tampak bersemangat membagikan progres pertama belajar anak-anaknya. Termasuk aku.
Hari demi hari berganti. Hingga hitungan bulan sudah Hafshah belajar di ABKA. Flash card yang ia hafal pun semakin hari semakin bertambah. Aku tahu, untuk anak seusianya ini adalah pencapaian besar. Tapi di hari itu, ketika Hafshah memilih untuk diam tanpa aksi, hal itu justru menjadi pemantik emosiku.
“Ayo, Nak! Kita murojoah! Kenapa sih kamu jadi nggak semangat gini?!” Suara lengking itu memantul di dinding yang bisu. Bahkan Bang Haris pun tak sanggup meredam emosiku kala itu.