Pagi itu tidak ada badai. Tidak ada bisikan-bisikan yang mengacaukan isi kepalaku. Hanya ada tenang dan damai yang hangatnya kurasakan di dada. Bang Haris hari ini juga sedang libur bekerja. Bunyi suara keran air dan denting piring terdengar di dapur. Aku tahu, ia pasti saat ini tengah mencuci tumpukan piring kotor semalam.
Dunia harus tahu—bahwa masih ada lelaki yang mau membantu tugas rumah tangga. Jadi, tidak semua lelaki itu sama wataknya. Tergantung bagaimana pola asuh orang tuanya dulu. Aku, bangga dan begitu menghargainya. Ia, bukan hanya suami yang saleh, melainkan juga suami yang siaga.
“Sekarang, kita mandi dulu ya, Dek,” ucap Bang Haris pada Haifa yang saat itu berada di dalam bak mandi.
Rumah yang semalam berantakan, kini telah kurapikan. Kutuai senyuman puas saat menatap rumah yang telah rapi ini. Kemudian aku beralih ke arah dapur—memasak sesuatu untuk sarapan kami di pagi ini. Langkah kaki membawaku menuju ruang laundry. Mencuci tumpukan pakaian kotor yang setiap hari selalu menggunung.
“Haifa udah mandi, Umi!” ucap Bang Haris sambil mengangkat tubuh Haifa yang kini dibaluti oleh handuk.
“Maa syaa Allah. Anak gadis Umi sudah mandi, ya? Pasti dingin. Sini Umi lap ya, Nak.” Aku membawa Haifa ke dalam kamar. Menyeka bekas air mandi di tubuhnya lalu membalur badannya dengan minyak telon. Kini, aroma kamar semerbak oleh aroma minyak telon.
“Nah, udah mandi, udah wangi, saatnya apa? Makan dulu, habis itu mimik susu ya, Nak,” jelasku padanya. Haifa menatapku sambil menuai senyuman. Wajah lugunya selalu berhasil membuatku tersenyum bahagia.
Bang Haris dan Hafshah sedang melahap sarapan buatanku. Aku memilih menyuapi sarapan Haifa terlebih dahulu. Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan seorang Ibu pada umumnya. Menunda kebutuhannya sendiri demi anak-anaknya.
Seusai menyuapi Haifa makan, aku membawanya ke dalam kamar untuk menyusuinya. Tangan mungil itu spontan meraih jemariku mungkin untuk mencari kenyamanan. Ia menatapku sambil terus menghisap air susuku. Aku mencium tangannya hingga membuatnya kini tersenyum menatapku.
Kulantunkan zikir pagi yang rutin aku amalkan. Perlahan, matanya terpejam dan kupastikan ia telah jatuh ke dasar lelap. Tiba-tiba, suara derit pintu berbunyi. Bang Haris masuk ke dalam kamar dan duduk di sampingku. Wajah itu tampak ragu dan gelisah. Spontan aku bertanya padanya.
“Kenapa, Sayang?” tanyaku dengan nada pelan seraya menatapnya dengan senyuman.
Wajah itu masih sama. Ragu dan terlihat menyimpan rahasia yang hanya ia dan Allah saja yang tahu. Kemudian, bibir yang sedari tadi kelu, kini terbuka perlahan.
"Maaf, Sayang. Bulan ini, pengeluaran kita sedang banyak. Mungkin untuk uang kiriman buat Ibu, aku belum bisa kirim. Dan kemungkinan aku hanya bisa kirim kalau ada uangnya. Kamu, bisa ngomong ke ibu nggak?"
Jemariku yang tadi mengusap rambut Haifa berhenti bergerak. Tenang yang kurasakan sejak subuh perlahan mengendap, digantikan sesuatu yang berat di dada. Dilema datang seperti dua tangan yang menarik ke arah berbeda.