Di Antara Dua Jendela

Larasati
Chapter #10

Kehilangan Jiwa

Suara riuh tawa Hafshah di luar kamar terdengar samar di telingaku. Waktu terus berputar. Tapi aku masih berada di dalam kamar bersama Haifa yang pada akhirnya terbangun dari tidurnya. Mataku sama sekali tak memedulikan sosok Haifa yang telah terjaga. Mata ini memilih menatap jendela kamar yang semakin lama kutatap, ia semakin buram.

Dari luar aku tampak seperti seseorang yang tengah memikirkan sesuatu. Padahal, isi kepalaku penuh oleh umpatan yang tak kuketahui dari mana asalnya.

“Kamu bukan anak yang salihah! Masa uang seratus ribu aja kamu nggak sanggup kasih? Payah! Kamu payah, Laras!”

“Diam!” Teriakan itu tidak keras. Namun, cukup untuk mengembalikanku pada realitas. Terdengar suara rengekan Haifa yang mungkin saja merasa takut oleh suaraku tadi.

Suara pintu kamar berderit. Namun, pandanganku kembali pada jendela kamar. Sebuah suara yang hangat kini mendominasi telingaku.

“Sayang,” panggil Bang Haris seraya mengelus pundakku.

“Nggak makan?” tanyanya padaku. Aku mengangguk sekilas tanpa memerhatikannya.

“Di luar, yuk! Haifa lagian udah bangun. Biar aku yang jaga dia.”

“Tolong bawa Haifa dulu. Aku mau tidur sebentar.” Aku membaringkan tubuhku di atas kasur. Membiarkan Bang Haris dalam kondisi bingung akan tingkah lakuku.

Jam sepertinya sudah semakin jauh berputar. Namun, aku memilih tetap tertidur di atas kasur. Hingga Bang Haris kembali membangunkanku. Suara ketukan pintu terdengar terburu-buru. Mungkin saja ia merasa khawatir saat ini karena sedari pagi aku tak kunjung bangun dan sarapan.

“Yang! Makan dulu! Aku udah masak buat makan siang. Makan bareng, yuk!” Suara itu berhenti sejenak. Kemudian ia kembali melanjutkan, “Kamu juga apa nggak sholat? Udah setengah dua loh ini,” jelasnya di luar sana.

Lihat selengkapnya