Waktu berputar tanpa permisi. Bahkan tanpa sadar, aku telah menghabiskan separuh waktuku hanya untuk berdiam diri di dalam kamar, seraya menatap nanar jendela kamar yang semakin lama kutatap, ia semakin buram. Mungkin karena aku melamun terlalu dalam.
Bang Haris memilih mendiamkanku belakangan ini. Entah apa alasannya. Mungkin ia pun bingung menghadapi tingkah lakuku yang terus mendekam di dalam kamar. Hingga sebuah suara pintu diketuk menyentak lamunanku.
“Umi sayang! Sholat!” suara kecil Hafshah memanggilku. Ya, jam telah menunjuk pukul 13.00 WIB. Tapi, aku masih belum juga melaksanakan salat.
“Beb! Kamu nggak sholat? Ini udah jam satu, loh. Kamu aman aja, kan?” Bang Haris di luar sana mulai mengkhawatirkanku. Hingga pintu yang semula kukunci, kini terbuka. Aku tahu, Bang Harislah yang membukanya menggunakan kunci duplikat.
Bang Haris berdiri tepat di sampingku. Menatapku yang kini hanya duduk bersandar di atas kasur sambil menatap jendela kamar. Sama sekali aku tak memerhatikan sosok itu datang. Terdengar suara keluhannya. Tiba-tiba … tangan kekar itu menarik lenganku dengan kuat. Ia memaksaku berdiri.
Sontak aku menoleh ke arahnya lalu menepis tangannya dari lenganku.
“Kamu itu kenapa? Belakangan ini aku lihat kamu ngurung diri di kamar terus. Kamu lagi ada masalah berat? Cerita! Bukan diam begini!”
“Aku cuma capek. Badanku lelah dan nggak bisa banyak gerak. Aku boleh kan, tidur lebih lama lagi?”
“Maksudnya apa? Udahlah Sayang. Aku tuh juga capek lama-lama kalau kamu kayak gini terus. Aku nggak masalah kerjaan rumah aku yang urus. Tapi tolong! Kamu hidup lagi. Jangan kayak gini.”
Aku memilih hening. Hingga hal itu membuat Bang Haris memilih menyerah dan pergi dari kamar. Mungkin, saat ini ia dirundung lelah yang teramat dalam. Aku membaringkan tubuhku. Kurasakan tubuhku semakin melemah. Kepalaku terasa seperti dihantam batu besar. Sakit yang tak bisa lagi kujelaskan dengan kata-kata.
“Kamu itu kenapa, sih Laras? Kenapa kamu terus mengurung diri di kamar seperti ini? Kenapa kamu nggak bangkit? Apa kamu nggak capek terus hidup dalam dunia yang sejatinya nggak pernah kamu inginkan?”
Tanpa kusadari, air mata itu kini jatuh dengan sendirinya. Pikiran buruk berkecamuk di dalam kepala. Kupejamkan mata, lalu membulatkan tekad untuk bangkit melaksanakan salat. Hingga kini satu kakiku berhasil meraih lantai kamar. Disusul oleh satu kaki lagi. Kubawa diriku berdiri. Kemudian membuka pintu kamar.