Trigger Warning!
Ada pikiran ingin mati dan aksi menyakiti diri.
Bijaklah dalam membacanya.
Malam itu bisu. Bahkan kami sempat saling diam beberapa saat setelah aku mengucapkan kalimat yang kupastikan kini jiwanya sedang runtuh saat mendengarnya.
“Astaghfirullah!” Sontak Bang Haris memegang ubung-ubunku. Kemudian …
“Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyuum …”
“Aku nggak kesurupan! Aku gila!” Lantas, aku berlalu keluar kamar. Membiarkan Bang Haris yang mungkin saja tengah kebingungan saat ini oleh sikapku.
Di luar ruangan—tepatnya di ruang keluarga. Aku duduk di atas lantai. Bersandar pada dinding yang dingin. Aku benar-benar bingung dengan diriku sendiri saat ini. Hingga sekelebat pikiran ingin menusuk perutku sendiri dengan pisau pun muncul. Aku menoleh ke arah dapur yang berdampingan dengan ruang keluarga. Aku meremas tanganku kuat. Mencoba mengusir pikiran tersebut.
Niat itu akhirnya kuurung juga. Namun, kini berakhir dengan sebuah tamparan bertubi di pipiku. Tangan ini, begitu mudahnya menyakiti diri sendiri. Setelahnya aku merasa puas telah melampiaskan kekesalan itu. Kepala ini kini kubenturkan dengan kuat ke dinding. Kemudian, air mata mengalir deras. Menjadi saksi atas kekacauan isi kepalaku.
Pintu kamar berderit. Sebuah langkah kaki yang kukenal menghampiriku. Tak ada suara apa pun. Tak ada panggilan nama, bahkan ia terlihat begitu tenang menghadapiku. Tanpa sedikit pun kulihat raut wajah paniknya.
Kini, kami sama-sama berada di dalam kamar tempat aku mengutarakan segala kekacauan pikiranku. Ia diam menatapku dengan tatapan yang kuyakini itu tatapan lelahnya. Ia, mungkin saja lelah akan sikapku selama ini. Bukan hanya hari ini, tapi di hari dan tahun-tahun sebelumnya. Saat di mana Hafshah masih berusia hitungan bulan, aku sudah mengalaminya.
Mungkin, ini adalah puncak kelelahannya. Aku tahu, ingat persis saat di mana ia jatuh pingsan di siang hari itu—saat Hafshah masih berusia dua bulan. Saat itu, alasannya karena meminum minuman yang tinggi asam. Sehingga lambungnya bermasalah. Namun, aku yakin. Di balik alasan itu ada alasan paling kuat lainnya yang menyebabkan ia pingsan.
Ia tak pernah benar-benar terbuka kepadaku tentang masalah hidupnya. Bahkan, aku tak pernah melihatnya menangis. Entah terbuat dari apa jiwanya. Hingga ia sekuat dan setegar ini dalam menghadapiku. Inilah alasan terbesarku selalu menyalahkan diri sendiri. Kemudian berakhir dengan pikiran-pikiran buruk yang entah dari mana ia berasal.
Tangan kekar itu mengenggam lembut tanganku. Ia menatapku dalam. Tatapan yang telah lama kurindukan belakangan ini.