Di Antara Dua Musim

Indra Afriza Arsad
Chapter #2

Di Antara Kata-Kata yang Belum Tersampaikan

Raya Amara Pradipta, atau yang lebih sering dipanggil Raya, adalah sosok yang cukup mudah ditemukan di sekitar kampusnya, tapi jarang benar-benar diperhatikan. Di Fakultas Sastra, dia lebih dikenal sebagai si 'pendiam'—bukan karena tidak bisa bicara, justru sebaliknya. Raya lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, lebih memilih menikmati kata-kata orang lain daripada mengeluarkan pendapatnya sendiri. Di dunia perkuliahan yang penuh dengan diskusi dan presentasi, Raya sering kali merasa seperti penonton dalam pertunjukan yang tak pernah dia mainkan.

Namun, itu bukan berarti dia tak memiliki ambisi. Di dalam dirinya, ada sebuah kerinduan untuk menemukan arti yang lebih dalam dari kehidupan ini—mungkin juga dalam dirinya sendiri. Cuma, ya, kadang-kadang dia merasa seperti punya banyak hal yang ingin dia ungkapkan, tapi selalu terjebak dalam kebingungannya. Dia ingin dicintai, dihargai, tapi selalu merasa kalau perasaannya itu... entah, seperti tidak berbalas.

Hal ini semakin terasa ketika dia jatuh hati pada seseorang yang jelas-jelas tak bisa mengembalikan perasaan yang sama.

Lelaki itu bukan teman kampus, bukan juga selebritas sosial media. Dia adalah pemilik kedai kopi kecil di daerah Sakanpari—tempat yang sering Raya kunjungi diam-diam, awalnya hanya untuk menenangkan kepala dengan secangkir Espresso. Lelaki itu punya cara bicara yang tenang, sorot mata yang hangat, dan senyum yang... entah kenapa, membuat Raya merasa didengar, meski mereka nyaris tak pernah benar-benar mengobrol panjang.

Mungkin itu cuma ilusi. Mungkin itu hanya perasaan sepihak yang dibumbui oleh suasana kedai dan lagu-lagu jazz sore hari. Tapi buat Raya, kedai itu jadi semacam pelarian. Dan lelaki itu—dengan segala ketidaktahuannya—jadi semacam harapan kecil yang tumbuh diam-diam di sela rutinitas kampus dan tugas kuliah.

* * *

[Catatan Harian Raya]

Tanggal entah berapa. Hari juga aku lupa. Yang jelas langit sore itu mendung, seperti aku.

Aku pikir aku kuat. Maksudku, aku tahu dari awal—aku sadar ini cuma aku yang terlalu sering membangun harapan dari hal-hal kecil: senyum ramah, kopi gratis sekali dua kali, cara dia manggil namaku dengan nada pelan. Tapi ternyata, aku masih juga bisa kaget saat dia bilang kalimat itu.

"Raya tuh udah kayak adik buat aku."

Hah. Adik.

Kata itu kayak dingin yang masuk ke dalam kopi panas yang baru diseduh. Pelan-pelan menenggelamkan rasa. Pahitnya tinggal, hangatnya hilang.

Lucu, ya. Aku kira aku bisa mengendalikan perasaan ini. Tapi ternyata perasaan nggak bisa diatur kayak tugas kuliah yang bisa dikejar semalaman. Aku pulang dari kedai itu dengan kepala penuh suara, tapi mulut diam. Jantungku rasanya ngga sinkron sama langkah kaki.

Lihat selengkapnya