Kopitaloka sore itu lengang. Hanya ada denting sendok di cangkir-cangkir yang ditinggal setengah kosong, dan lagu indie-folk yang mengalun dari speaker dekat rak majalah. Raya datang bukan karena ingin kopi, tapi karena butuh suasana yang cukup sunyi untuk berpikir... dan cukup asing untuk tidak merasa bersalah atas pikirannya sendiri.
Tapi hari itu, ada wajah baru di balik bar. Bukan Sena.
Laki-laki itu—yang entah kenapa tampak sedikit canggung saat pertama melihat Raya—memakai celemek hitam polos, rambut agak acak, dan ada semacam lelah yang tenang di sorot matanya. Dia sempat melihat ke arah buku yang dibawa Raya (Senandung Hujan di Saku Kosong) dengan tatapan seperti melihat kenangan lama.
Raya mendadak gugup, padahal dia nggak ngerti kenapa. Mungkin karena cara laki-laki itu bilang, “Mau pesan apa, Kak?” dengan nada yang nggak dibuat-buat. Bukan basa-basi. Bukan formalitas.
Dia cuma jawab singkat, “Espresso. Satu shot.” Laki-laki itu mengangguk, senyum sekilas, lalu balik ke belakang bar.