Di Antara Dua Musim

Indra Afriza Arsad
Chapter #5

Kopi, Tawa, dan Sedikit Lupa

Hujan turun sore itu. Tapi bukan hujan deras yang bikin lari-larian, lebih kayak gerimis malas yang datang bareng angin dingin dan langit kelabu.

Raya duduk di pojok jendela Kopitaloka, spot favoritnya. Laptop terbuka, kursor berkedip di layar kosong, dan playlist lo-fi instrumental mengalun pelan.

Egi datang membawakan flat white—kali ini sempurna. Lapisan busanya pas, ada latte art bentuk daun yang sedikit miring tapi manis.

“Latte-nya ngga badai lagi,” kata Egi sambil naruh cangkir di atas meja.

Good. Aku ngga pengen novelku banjir,” balas Raya, senyum menggantung di sudut bibir.

Hari itu mereka ngobrol lebih lama. Bukan soal hal besar—justru hal-hal remeh yang bikin waktu lewat tanpa terasa.

Tentang kenapa Egi lebih suka kopi tanpa gula. Tentang karakter dalam novel Raya yang katanya terlalu banyak mikir dan kurang nekat. Tentang lagu-lagu aneh di playlist barista yang kadang suka diselip lagu dangdut koplo.

Lihat selengkapnya