Di Antara Dua Musim

Indra Afriza Arsad
Chapter #6

Sore yang Terlambat Disadari

Kopitaloka hari itu agak sepi. Hujan datang lebih awal dari biasanya. Dedaunan di luar jendela bergoyang pelan, dan aroma tanah basah menyelinap ke dalam ruangan lewat celah pintu yang tak sepenuhnya tertutup.

Raya datang lebih pagi, lebih awal dari jam biasa ia nongkrong di pojok jendela itu. Bukan karena naskahnya lagi lancar—justru sebaliknya. Tapi ada perasaan ganjil yang menuntunnya ke sana. Seolah tempat itu bisa menjawab hal yang tak bisa dijelaskan oleh buku manapun.

Egi muncul dari arah dapur dengan celemek coklat yang mulai lusuh. Rambutnya sedikit berantakan, seolah dia lupa kalau ada dunia di luar grinder dan mesin espresso.

“Oh? Datang pagi sekarang?” tanyanya, senyum setengah heran.

Raya hanya mengangkat bahu. “Naskahku ngajak ribut dari tadi pagi.”

“Pantes mukanya kayak habis debat sama tokoh fiksi.”

Lihat selengkapnya